Tohari dan Warkop Cah Cidro

181
Tohari dan warkop cah cidro
photo by hargamaterialupdate.com

Di suatu pagi, Pangestu bergegas mengendarai motornya menuju ke warung kopi (warkop) Kampong Ambarawa untuk menemui Tohari yang sedang bersedih. Ia bersedih karena baru saja ditinggal oleh mantan kekasihnya yaitu Faizah yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama mereka bina selama 3 tahun.

Tibalah Pangestu di warkop Kampong Ambarawa dan langsung menghampiri Tohari yang sedang termenung meratapi nasib.

“Wahai Tohari, sudahlah kawan, ayolah lupakan saja, buat apa sih kamu masih repot-repot mikirin si Faizah yang jelas-jelas sudah tidak mau menjalani kisah bersamamu lagi, aku sangat yakin di luar sana masih banyak perempuan-perempuan yang pantas mendampingimu kawan”, kata Pangestu yang berusaha menghibur Tohari.

“Inituh bukan masalah aku harus melupakan kemudian aku bisa move on begitu saja Pangestu, tapi aku tidak mengerti, kok bisa ya dia tiba-tiba minta putus begitu saja tanpa memberi kejelasan, aku hanya butuh itu sekarang”, ujar Tohari sambil mengusap air matanya yang menetes karena masih bersedih.

yowis to mas Tohari, sekarang ayo ikut aku, kamu itu butuh jalan-jalan supaya pikiranmu jadi lebih ringan”, kata Pangestu sambil menarik tangan Tohari.

“Mau kemana kita?”, jawab Tohari. “Aku ingin mengajakmu ke tempat Ahmadi dan Hidayat, mereka baru saja membuka usaha baru, mereka memiliki sebuah warkop baru di daerah Sonowajar, nama  warkopnya juga pas banget sama keadaan mu sekarang” Jawab Pangestu sambil tersenyum-senyum kecil.

“Warkop apa namanya tuh?” Tanya Tohari sambil kebingungan. “Warkop Cah Cidro, hahaha, jawab Pangestu sambil tertawa lepas. “Jiaaaannnn, yowis ayo gas”, berkata Tohari dengan keras kepada Pangestu seraya menatap wajahnya dengan muka garang.

Berangkatlah Pangestu dan Tohari ke warkop Cah Cidro di daerah Sonowajar, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Sakti yang kebetulan sedang mampir di depan warung sayur Cak Hendrik.

“Woi Pangestu, Tohari, mau pergi kemana kalian? kok buru-buru banget sih kayaknya”, tanya Sakti sambil berteriak.

“Kita mau ngopi nih, mau ikut gak?” Jawab Pangestu kepada Sakti. “Perasaan kalian baru ngopi deh di warkop Kampong Ambarawa, kok malah mau ngopi lagi?” Tanya Bima kembali kepada Pangestu.

“Kamu gausah banyak Tanya Sakti, ayo ikut aja mending, kamu lagi gabut kan sekarang ga ada kerjaan?” Kata Tohari kepada Sakti dengan suara keras.

“Hahaha santai mas Tohari, ngomongnya gak usah ngegas gitu, kalau begitu yasudah aku ikut, terserahlah mau ngopi dimana” kata Sakti kepada Tohari dan pangestu.

Berangkatlah Tohari, Pangestu dan Sakti dengan bergegas menuju warkop Cah Cidro.

Sesampainya di warkop Cah Cidro, mereka langsung disambut oleh Hidayat yang ternyata sudah lama menantikan kedatangannya teman-temannya.

Hello everybody, welcome welcome, akhirnya kalian datang juga ke warkop ku, hahaha”, sambut Hidayat kepada teman-temannya yang baru datang itu.

“Widih ada pengusaha muda nih, selamat ya mas Hidayat, semoga warung kopinya makin laris kedepannya, aaamiiin”, kata Sakti kepada Hidayat sambil senyum-senyum cengegesan.

“Gak usah sok baik gitu Sakti, aku tau kamu mau ngopi gratis kan”, kata Hidayat kepada Sakti dengan wajah curiga. “Ih Mas Hidayat kok suudzon gitu, hehehe.” Ujar Sakti sambil menahan ketawa.

Baca juga: Ketabahan Anjing di Negeri Sendiri

“Hahaha, just kidding baby, pokoknya buat hari ini kalian semua tak gratiskan ngopine, terserah mau pesan apa aja, asalkan koe koe kabeh harus ngepromotin warkopku di instragram, fahimtum?” Ujar Hidayat kepada Tohari, Pangestu dan Sakti.

“Widih mantap sekali, makasih mas Hidayat” kata Pangestu sambil tertawa bahagia. “Tapi kok ini Tohari koyoke mukanya keliatan sedih banget ini, ada apa to mas Tohari, mbok crito wae rene, tapi ayo kita duduk dulu, sambil ngopi sambil makan cemilan, biar enak, hehehe”, ujar Hidayat kepada Tohari yang tidak kuat menahan kesedihannya.

Duduklah mereka semua di tempat duduk paling belakang yang posisinya pas disamping sawah, dengan suasana syahdu dan angina sepoi-sepoi, mereka duduk bersama, ngopi bersama sambil menghibur Tohari yang sedang bersedih.

“Jadi begini Hidayat, sebenarnya Tohari ini baru aja putus dari pacarnya si Faizah, makanya dia kelihatan sedih sekali sampai gak bisa menikmati hidupnya dengan nyaman”. Kata Pangestu menjelaskan keadaan Tohari kepada Hidayat.

Woalaaah ngono to critane”, jawab Hidayat. “Aku itu bingung, kok bisa ya dia tiba-tiba begitu saja bilang kalau kita putus aja ya, tanpa alasan dan tanpa kejelasan, aku salah apa sih?”, ujar Tohari sambil menangis lepas.

“Sudah-sudah, tenangno atimu sek mas”, ujar Sakti sambil menenangkan Tohari. “Tapi aku mau tanya sesuatu sama kamu ri, selama kalian berpacaran, apakah kalian sering berantem? tanya Hidayat kepada Tohari.

“Ya sebenarnya sih, aku sama Faizah selama kami pacaran memang sering berantem akhir-akhir ini, akupun sadar kalau aku selalu mengekang kebebasan dia, pokoke ki dia gak boleh ikut kegiatan apa saja semisal kegiatan dikampus dan di mana saja tanpa seizin aku, kalau aku bilang boleh ya monggo, kalau gak boleh berarti ya gak boleh”, ujar Tohari kepada teman-temannya.

Tiba-tiba terdengar lirik lagu Ambyar karya didi kempot, wis kebacut ambyar, remuk sing neng ati….. ternyata dari dalam kasir, ada Ahmadi yang menyalakan lagu tersebut sambil berkata, “Enakin aja mas Tohari…, tetap semangat dan jangan bersedih”. “Ambyaaarrrr atikuu” teriak Tohari  

“Sudah-sudah, kembali ke topik tadi. Jadi aku mau bilang sesuatu sama kamu Ri”. kata Hidayat kepada Tohari. “Kamu lihat, disana itu ada burung merpati cantik di dalam sangkar yang tergantung, itu merpati  kesayangannya Ahmadi, dia sangat mencintai merpati tersebut sampai kalau tau ada orang yang mengganggu burungnya itu, dia pasti mangkel buuanget”, lanjut Hidayat bercerita.

Kemudian Hidayat beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sangkar itu, “kalau aku buka pintu sangkar ini, pasti kamu tau kan apa yang akan terjadi?” Kata Hidayat. Lepaslah burung merpati itu, dia pun bebas terbang berputar-putar sesuka hatinya.

“Woi woi, bangke lo Tat, parah banget sih, masa merpati gue lo lepasin sih, aduuuh astagfirullah gusti”, kata Ahmadi sambil merengek-rengek kepada Hidayat. “Hahahaha, mampus lo Di”, kata Sakti sambil tertawa lepas kepada Ahmadi. “Weh diem dah lo Sakti, kagak ngarti apa ya gue lagi marah ini”. Balas Ahmadi kepada Sakti.

Tiba-tiba terdengar suara telpon dari ponselnya Pangestu, “Oh kamu udah di depan say? iyaiya kamu masuk aja dulu, aku juga sekalian mau pamitan sama teman-teman”, jawab Pangestu kepada orang yang menelpon tersebut.

Secara mengejutkan, muncul sesosok perempuan yang sangat berarti bagi Tohari, ia dengan wajah senyum berjalan secara perlahan menuju meja tempat mereka nongkrong bersama.

“Guys, aku pamit dulu ya, aku udah dijemput nih sama pacar baruku, nanti Tohari kamu antar pulang sekalian ya Sakti, tak lungo sek, makasih ya Mas Hidayat, Ahmadi atas jamuan gratisnya, hehehe”, ujar Pangestu yang tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya.

Ternyata, sungguh sangat mengagetkan, Pangestu menghampiri Faizah yang sudah berada di dekat meja tersebut. dan tiba-tiba saja…, “jiaaaann, buuajiingannnn, asyuuuu, jadi maksud kamu apa woi Pangestu? Kok kamu tega sih, kan kita ini teman? kok malah tega melakukan hal semacam ini kepadaku? Diaanncook”, teriak Tohari dengan nada meninggi kepada Pangestu.

“Sudah-sudah mas Tohari, orang itu memang bukan teman yang baik”. Ujar Sakti sambil menenangkan keadaan Tohari yang sangat emosi kepada Pangestu. “Woiii brengsek woii, dasar teman gak tau diri kamu”. Teriak Sakti kepada Pangestu dan Faizah yang sedang berjalan keluar warkop dan tak menghiraukan teman-temannya.

Suasana tiba-tiba menjadi tegang dan tak terkendali. Tohari yang tak kuasa menahan kepedihan yang ia rasakan setelah melihat teman yang selama ini ia kenal baik tega menyakiti hatinya. Kemudian pada saat yang bersamaan, Hidayat memasukan sebungkus kacang-kacangan ke dalam mangkok kecil, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.

“Kiw kiw kiw”, teriak Hidayat sambil menatap langit. Lalu dengan sigap, merpati milik Ahmadi yang tadi baru saja kabur dari sangkarnya kembali dan menghampiri tangan Hidayat yang sedang memegang semangkok kacang-kacangan. Dengan sigap, tangan hidayat menangkap merpati tersebut dan langsung memberinya makan dengan kacang-kacangan yang sudah ia siapkan.

“Ketahuilah Tohari, sama seperti burung merpati ini kesayangan Ahmadi ini. Semakin kamu mengekang Faizah, semakin besar pula penderitaan yang ia rasakan, lihatlah ketika ada kesempatan yang ia miliki untuk pergi meninggalkanmu, ia pasti akan mencari nikmatnya kebebasan itu”, kata Hidayat secara bijak menasehati Tohari.

“Jangan salahkan Pangestu sepenuhnya apabila ia dan Faizah langsung berpacaran setelah kamu dan Faizah putus Ri, aku sebenarnya sudah mengetahui kedekatan mereka semenjak satu bulan yang lalu. Jadi pada intinya, Faizah mengeluhkan sikapmu kepada Pangestu, dan ia pun hadir sebagai malaikat penolong di saat-saat yang pas, walaupun aku sendiri sangat menyayangkan sikap pangestu itu.” Sambung Hidayat.

Singkat cerita, ternyata satu hari setelah hubungan percintaan antara Tohari dan Faizah berakhir, ia langsung mendapatkan seorang laki-laki yang mau mengerti tentang keadaannya, dan berjanji tidak akan mengekang kebebasan yang ia miliki, seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah teman dekat mantan pacarnya sendiri, yaitu pangestu.

“Woi, balikin itu merpati gue ke sangkarnya lagi”, teriak Ahmadi kepada Hidayat. “Iyeiye ini gue balikin lagi”, jawab Hidayat. “Buset hahaha kok ngegas sih lo Di”, celetuk Sakti kepada Ahmadi. “Diem lu ya, berisik tau gak”, Kata Ahmadi kepada Sakti.

“Waduh rek, aku ditikung koncoku dewe”, celetuk Tohari kepada teman-temannya. “Sudah-sudah biarkan saja, kita semua juga akhirnya tau kan bagaimana sifat Pangestu yang sebenarnya”, kata Sakti sambil kembali menenangkan Tohari.

Pada akhirnya Tohari pun hanya bisa termenung menahan kepedihan yang ia rasakan. Ia sadar mungkin saja selama ini apa yang sudah dilakukannya dan berjanji akan menjadikan permasalahan ini sebagai pembelajaran yang berharga. Namun tentu saja Tohari masih tidak bisa menerima apa yang sudah diperbuat oleh Pangestu kepadanya.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid