Sebungkus Mie Instan Adalah Jawabannya

472
Sebungkus Mie Instan
Photo by John Hoang on Unsplash

Sore itu, Panji sedang berhadap-hadapan dengan laptopnya. dia sedang adu tatap siapa yang paling kuat di antara mereka, tapi akhirnya panji menyerah. Panji pun akhirnya mengalihkan tatapannya menuju gawai pribadinya untuk melihat Instagram. Penyegaran mata, kata dirinya dalam hati.

Kegelisahan Mahasiaswa Tingkat Akhir

Panji adalah mahasiswa tingkat akhir, dia sedang berjibaku dengan tugas akhirnya. Ia selalu berpikir bahwa tugas akhir itu akan selesai dengan sendirinya. Tapi, kenyataannya tidak demikian.

Justru sekarang dia yang dipermainkan oleh tugas akhir tersebut. Bahkan bukan hanya tugas akhir yang mengejarnya, para dosen pembimbingnya pun mulai memburu panji bab demi bab dari tugas akhirnya.

Artikel terkait Mahasiswa, lihat Ekonomi Pelik Tak Halangi Jadi Mahasiswa Terbaik.

Bisa dibilang Panji terhitung sangat terlambat dalam pengerjaan tugas akhirnya, karena teman-temanya sekarang sudah menyelesaikan tugas itu, ketika Panji baru memulai niatnya untuk mengerjakannya.

Di usianya yang sekarang Panji baru memulai tugas akhirnya. Jika dibandingkan dengan kawan-kawannya yang sudah mulai menghasilkan pundi-pundi uang, nasib Panji bisa dibilang mengenaskan.

Air Susu Dibalas Air Tuba

Terkadang Panji merasa bahwa apakah dia memang ditakdirkan sendiri, karena saat dia membutuhkan bantuan teman-temannya mereka seakan hilang ditelan bumi.

Padahal sedari dulu Panji senang membantu teman-temanya. “apa ini yang dinamakan air susu dibalas air tuba?” kata hatinya yang hanya berbisik.

Bahkan kesuksesan teman-temanya bukan lagi sebuah kebahagiaan. Tapi menjadi duri dalam hati Panji. Semakin jauh temannya melangkah semakin sakit hati Panji.

Sore itu Panji semakin menjadi-jadi segala kegundahanya memuncak dan membuatnya tidak karuan.

Hatinya gelisah, pikiranya resah, dan yang terburuk adalah semangatnya patah.

Sejatinya dia tidak butuh hal-hal yang luar biasa, hanya butuh atensi kecil dari teman terdekatnya. Hanya itu saja.

Tapi hal-hal kecill itu yang mulai hilang, bahkan teman terdekatnya pun seperti debu yang diterjang angin, hilang tanpa jejak.

Padahal dia sedang ada di posisi yang terpuruk, dia merasa ingin menyelesaikan banyak hal, sedangkan kemampuannya tidak demikian mengikuti keinginannya.

Bahkan kekasihnya pun tak kunjung memberi semangat atau sekadar kabar bahwa dia baik-baik saja.

Mie Instan Menemani Senjaku

Di saat-saat terpuruknya dia teringat akan kata-kata Heredotus “hidup ini sangat pendek. Hanya beberapa puluh tahun saja. Tapi, karena hidup adalah penderitaan maka terasa lama sekali. Dan perhentian terakhir, maut terasa sangat nikmat dan mesra bila tiba”.

Kata-kata filsuf itu tiba-tiba mempengaruhinya, “apa aku harus mencoba pemberhentian itu?” sempat tersirat dalam benaknya.

Tiba-tiba perutnya berbunyi, tanda bahwa Panji belum memasukan apapun ke mulutnya. Dia pun mencoba membuka dompet dilihatnya kertas-kertas yang tidak bisa digunakan untuk bertransaksi.

Panji sudah pasrah akan nasib dia dan segala tugas akhirnya, tapi ketika dia hendak mengambil baju di lemarinya, tiba-tiba jatuh ada sebuah barang yang jatuh.

Dilihatnya benda itu, dan ternyata sebungkus mie instan! Diapun merasa senang, dan memasak mie instan sore ditemani cahaya matahari yang mulai merona menghiasi langit sore itu.

Penulis: Hifdhi Rizqon Saleh