Prakata dari Perantauan

525
Prakata dari Perantauan
Photo by time.astrosage.com

Teruntuk khalayak sekalian yang membaca tulisan ini, izinkan aku berceloteh sesaat tentang apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin akan terlihat berlebihan bagi sebagian orang, tapi tidak demikian bagi mereka yang sekarang merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan.

Barangkali jikalau khalayak sekalian mendengar kata “perihal jarak”, pasti yang langsung terlintas dibenak khalayak sekalian adalah perihal kisah antara dua insan yang sedang saling merindukan satu sama lain. Namun nyatanya tidak demikian khalayak sekalian.

Apa yang nantinya aku sampaikan ini adalah perihal jarak yang telah beribu-ribu kilometer memisahkan antara seorang pemuda pengembara dengan apa yang telah ia sebut dengan kampung halaman. Bisa juga disebut tanah kelahiran atau tempat tujuan mudik.

Berbicara tentang mudik, aku ingin sampaikan berbahagialah, bagi khalayak sekalian yang masih diberikan kesempatan dari tuhan yang maha kuasa untuk menjumpai sanak famili dikala arus mudik lebaran mulai diberitakan di berbagai media-media. Karena itu artinya khalayak sekalian masih diberikan kesempatan untuk memiliki sesuatu yang disebut dengan rumah dan keluarga.

Tapi teruntuk khalayak sekalian yang dikala momen tersebut tiba belum dapat merasakan indahnya pulang kampung menyambut hari raya, aku ingin sampaikan berbanggalah wahai khalayak sekalian. Karena itu artinya akan banyak ungkapan rindu berbalut do’a-do’a baik yang ditujukan kepada khalayak sekalian.

Baca juga: Kamu Itu Ibumu Sekali

Terlihat sederhana dan begitu mudah diucapkan, tapi yang namanya menahan rindu pasti akan sangat sulit untuk dijalani dan diamalkan. Apalagi menahan rindu dari kampung halaman yang tak kunjung bertemu adalah ujian terberat bagi seorang pengembara.

Dikala rekan-rekan seperantauan diberikan kesempatan merasakan lebaran bersama keluarga dan sanak saudara dikampung halaman, aku hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia seraya memandang langit dan terus bertasbih pada yang kuasa atas kerinduan yang sulit ku ungkapkan.

Melihat sosial media memantau kabar padatnya arus mudik mengingatkanku pada romantisme jalan kembali pulang ke tanah kelahiran. Menjumpai kehangatan kasih sayang orang tua bersama sanak saudara nan jauh disana adalah impian semua pejuang masa depan.

Ditengah kerasnya kehidupan diterpa masalah silih berganti membuatku merindukan kasih sayang seorang ibu yang selalu mampu memberikan tenaga tambahan untuk kembali menegakkan kepala.

Tetap tegar dan selalu berusaha melawan segala macam mara bahaya mengingatkanku pada sosok seorang ayah yang tanpa lelah dan tak pernah mengeluh demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya.

Walaupun ujian dan cobaan terus menerus mencerca kehidupan yang begitu singkat ini, aku percaya do’a-do’a baik yang Allah kabulkan dari seorang ibu yang begitu ku cintai terus mengalir deras dalam setiap detik kehidupanku.

Begitupula dikala keputus asaan menghampiri dan daya juang seorang petarung masa depan ini mengalami pasang surut silih berganti, inspirasi dari seorang ayah yang begitu ku kagumi tetap menyala dihati yang paling dalam ini.

Dikala kesibukan duniawi memenuhi berbagai macam unsur kehidupan yang ada, ibu dan ayah tak akan pernah lupa akan tugasnya sebagai tempat awal bermula. Terutama ibu yang oleh Hafidz Ibrahim disebut sebagai madrasatul ula bagi semua anak-anaknya.

Sungguh indah sungguh menawan jikalau seorang anak mampu memaknai setiap detik kasih sayang dan pengorbanan dari apa yang kedua orang tuanya lakukan untuk bekal kehidupan anaknya kelak. Karena sesungguhnya kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya itu tak terpengaruh oleh jarak dan tak lekang oleh zaman.

Begitu pula sebaliknya, do’a-do’a yang terus mengalir dari seorang anak sholeh kepada kedua orang tuanya tak akan terhalang sekalipun maut yang akan memisahkan. Alangkah romantisnya hubungan emosional antara seorang anak kepada kedua orang tuanya ini.

Untuk itu aku hanya ingin menyampaikan, semua kerinduanku pada keluarga dikampung halaman sana dan setiap do’a yang ibuku panjatkan kepada rabbi azza wa jalla adalah semangat dan rasa optimisme yang sudah menyatu dengan denyut nadiku. Karena sampai kapanpun kasih sayang ini akan tetap terjaga sampai hari kepulangan nanti akan tiba.

Seraya memanjatkan do’a, Rabbighfir li waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira, aku titipkan salam rinduku kepada ibu dan ayah nan jauh disana. Salam sayang dari anakmu yang terus merindu tapi tak mampu mengungkapkan secara langsung.

Kelak suatu hari nanti, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa apa yang sudah kedua orang tua ku lakukan dan persiapkan kepadaku tak akan pernah berakhir dengan sia-sia. Karena aku percaya Ridhallahi fi Ridhal walidayni, wa sukhtullahi fi sukhtil walidayni.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid