Pijakan Tak Beralas

83
Pijakan Tak Beralas
Photo by Iva Rajović on Unsplash

Tatapan sendu mengisyaratkan kelabu

Beralas candu menapaki rindu

Bergejolak beradu tak menentu

Haruskah aku mengadu ?

Haruskah aku menjamin rasa itu ?

Kaki ini melangkah tak berarah

Menelusuri ciptaaNya yang begitu indah

Waktu itu sedang mendung

Hingga tiada bias mentari yang mulai rebah

Menyisakan awan kelabu bergerombol merapat

Seakan bersekongkol hendak menjatuhkanku pada tanah licin bebatuan

Kaki ini hendak lari melangkah lebih banyak dan cepat

Menapaki setiap bebatuan dan menghindari guyuran hujan

Tapi siapa sangka

Pijakanku tak beralas

Menjatuhkanku pada setiap harapan

Menyesatkan setiap langkahku dalam setiap pijakan

Menyisakan kegundahan mendalam

Aku ingin sekali cepat berlari mendahului hujan

Agar pijakanku tak salah kembali menyusuri keindahaNya

Ingin rasanya kaki menjauh, kabur.

Tetapi bisakah pijakan tak beralas ini berlari hingga kesurganNya ?

Sedangkan yang kupijaki ini adalah kuasaNya

Sejauh jarak galaksi bimasakti ke galaksi Andromeda

Hingga seluas belantara didalam isi kepala

Takkan membuat pijakan ini kokoh diatas tanah

Sampai pada waktunya kesadaranku memuncak

Tatkala diri ini menyadari, bahwa

Kemanapun kaki ini berpijak

Sebanyak apapun kisah ini kurangkai

Sepintar apapun aku bersembunyi

Seluas apapun isi memori kepalaku

Tetap saja !

Aku tak luput dari penglihatanNya

Aku tak lepas dari jangkauanNya

Dan sungguh, apabila diri ini telah menemukan alasnya

Menemukan alat pembantu pijakanya

Hingga mampu membuatnya kabur meninggalkan kenangan

Tetap saja diri ini tidak akan bisa menjauh dari aturanNya

Hingga diriNya memanggil saatnya pulang…

Di surga..

Kurasa, itulah harapan saat pijakan tak beralas

menemukan jawaban atas setiap perjalanan hidupnya

Baca juga: Mesin Jahit Ibu

Penulis: Bella Yunitamara