Pengagum Senyum

515
pengagum senyum
Photo by Yunming Wang on Unsplash Go to Yunming Wang's profile Yunming Wang @ymwang two women sitting on bench talking and watching people playing

“hai, belum pulang?” aku memberanikan diri untuk menyapanya, yang tengah sendirian di sudut lapangan. Padahal, jam sekolah sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kebetulan, aku pulang lebih lama karena baru saja mengikuti ekskul futsal, yang rutin setiap dua minggu sekali.

“eh iya belum nih, lagi nunggu temen hehe” senyum simpul yang keluar dari bibirnya tidak pernah gagal membuat perasaanku berantakan. Ah dasar kau, merepotkan perasaanku saja. Khawatir semakin terlihat salah tingkah, dan agar terlihat cool di hadapannya, aku meninggalkannya untuk bergegas pulang ke rumah. “oalah, okey, gua duluan yaaa” dengan nafas yang masih terengah-engah karena lelah setelah latihan, aku menutup percakapan siang itu.

Siva Fadhilah, nama perempuan yang punya kekuatan super dalam senyumnya. Senyumnya mempunyai efek samping tersendiri, terkhusus bagiku. Salah satu efek sampingnya adalah rasa berharap untuk menjadi miliknya, seutuhnya. Tapi aku realistis saja, aku selalu bercermin di rumah setiap hari. Jadi, melihatnya dari kejauhan sudah lebih dari cukup, tanpa perlu menjadi miliknya.

Baca juga: Aku Bingung Mengapa Aku Bingung?

Tercatat, aku sudah menjadi pengagum senyumnya sejak 6 bulan yang lalu, ketika acara classmeeting. Ketika aku mengikuti lomba futsal, aku melihat satu perempuan pemilik senyum manis yang berbeda diantara kerumunan di luar lapangan. Yang jelas, semangatku saat itu sangat menggelora. Satu pikiranku saat itu, “aku harus mengenalnya, tapi dia tidak harus mengenalku”.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kelasku menjadi juara futsal, dan kelasnya menjadi juara drama. Kami berdua maju mewakili kelas untuk naik ke podium guna menerima piala dan penghargaan. Jantungku berdegup kencang ketika berdiri di sebelahnya. Dua hal yang aku sesali saat itu. Pertama, aku tidak berkenalan meskipun sudah saling bersalaman. Kedua, kenapa dia sangat ramah, kenapa dia murah senyum. Aku menyadari sikapnya tersebut sangat melemahkanku, senyumnya membuatku merasa menjadi lelaki paling beruntung, nikmat mana lagi yang kau dustakan, Tuhan.

Setelah itu, percayalah! Aku mencari tau segalanya tentang dia. Siva Fadhilah, kelas VI IPA II, anak teater drama sekolah, rumahnya tidak terlalu jauh denganku, dan satu lagi yang paling penting, dia Available alias jomblo. Gaskeun!

“@sivafadhilah24 mulai mengikuti anda”, notifikasi Instagram pagi itu benar-benar membuat mood ku bahagia sepanjang hari. Ya, aku sudah follow Instagramnya sejak 2 hari lalu. Aku stalking sedikit profil Instagramnya, tapi tidak lama-lama, karena aku harus berangkat ke sekolah. Seperti biasa, sebelum bel masuk, aku memastikan bahwa ia masuk hari ini. Setelah kurang lebih 10 menit ‘mondar-mandir’ di depan kelas, dengan tas ransel dan jam tangan hitamnya, perempuan yang kutunggu-tunggu akhirnya menunjukkan dirinya. Setelah memastikannya masuk ke kelas, aku pun juga masuk ke kelas dengan semangat yang berlipat ganda.

“Defa ya?” kaget, senang, nervous, perasaanku campur aduk ketika bertemu Siva di koridor kelas sepulang sekolah. Aku sedang tidak fokus karena baru saja mendapatkan informasi akan ada Latihan futsal mendadak sore nanti, tiba-tiba saja berpapasan dengannya, dan dia menyapaku. Beruntungnya, sekolah saat itu sedang tidak terlalu ramai, sehingga salah tingkahku tidak menjadi konsumsi publik. ‘Dia mengenalku, apa jangan-jangan ia memendam perasaan yang sama padaku’ pikiran bodoh liarku sempat-sempatnya muncul saat itu.

“Eh Iya, Siva ya? Salam kenal ya” jawabku sok cool sembari mengulurkan tanganku padanya, dan tangannya menyambut. “Hehehe iya, salam kenal juga ya, Siva” ia memperkenalkan dirinya. Berkenalan dengannya, akhirnya satu kaki ku sudah melangkah ke gerbang yang masih akan sangat panjang. Sangat senang berkenalan denganmu, sangat senang juga bisa melihat senyummu, terimakasih karena senyummu selalu menjadi tambahan tenagaku dalam menjalani hari.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)