Mesin Jahit Ibu

163
mesin jahit ibu
Photo by Randi Wilson on Unsplash

Dua bocah kecil perempuan saling berkejaran di halaman rumah. Saling melempar bola plastik warna-warni yang berserakan disekitarnya. Mereka berlarian bebas diatas tanah lapang halaman tanpa alas kaki. Tak peduli matahari sedang terik dan suasana sedang gerah. Mereka berdua terlampau asyik dengan dunianya. Sesekali bola terlempar jauh hingga ke jalan raya. Hingga sang adik hanya bisa memelas memohon sang kakak yang selisih dua tahun lebih tua itu untuk mengambilkannya. Mereka adalah aku dan kakakku.

Kami tidak pernah menganal rasa bosan untuk bermain di halaman rumah sendiri meski hanya berdua. Selain itu ibu memang tak pernah mengizinkan kami untuk bermain jauh dari rumah. Sedang tak ada teman yang rumahnya berdekatan. Ibu tak pernah terlihat mengawasi bagaimana kami bermain, apa yang kami mainkan dan apapun yang terjadi saat kami bermain. Ibu sibuk menjahit di ruangannya.

Ibu kami seorang penjahit berbagai macam jenis pakaian. Bekerja dari rumah menjahitkan pesanan baju orang-orang, yang rata-rata hanya dari kalangan tetangga atau saudara. Aku masih lamat-lamat ingat ketika umurku 4 atau 5 tahun ibuku sendiri yang menjahitkan baju untuk seragam sekolah pertamaku. Begitupun setiap hari raya tiba kami sekeluarga tak pernah membeli baju baru, karena sejak dari jauh hari ibu sudah menjahitkannya sendiri untuk kami.

Setiap harinya permainan yang kita mainkan hampir selalu berbeda. Apalagi ketika ada anak tetangga yang datang dan ikut bergabung. Mereka tak pernah datang dengan tangan kosong tanpa membawa mainan. Dan kita akan terus bermain dari setelah tidur siang sepulang sekolah sampai senja mencorong di ufuk barat dan masing-masing ibu kami akan berteriak menyuruh pulang dan mandi. Kami adalah anak-anak yang penurut. Menuruti apapun yang orang-orang dewasa perintahkan.

Aku masih begitu ingat saat pernah sesekali kita menolak patuh pada ibu, sesuatu yang besar terjadi seketika itu. Bukan, bukan berupa gelegar halilintar atau bencana semacam tsunami atau gunung meletus. Hanya saja ibu mendiamkan kami seharian. Sehari penuh sampai akhirnya kakakku dengan sejuta keberaniannya memohon maaf atas kenakalan kami. Seharian itu pula kami bingung pusing bukan kepalang. Serasa melakukan dosa yang besaaar sekali. Tapi beruntung ibu adalah perempuan paling sabar nomor satu di dunia, beliau dengan begitu mudahnya memaafkan kami setelah kakak memohon maaf dan berjanji bahwa kami tidak akan mengulangi lagi. Aku hanya bisa sembunyi sambil mencuri pandang wajah ibu dibalik tubuh kakakku yang menunduk takut.

Itu bertahun-tahun lalu. Setelah jam dinding di pojok ruang tamu sudah ratusan kali berganti baterai, setelah jarumnya berputar terus menerus ratusan juta kali. Sampai pernah suatu saat karena mungkin merasa lelah mereka berhenti berdetak. Tapi tak lantas membuat waktu yang biasa mereka hitung ikut berhenti.

Setelah ku bawa ke tukang servis jam di dekat Pasar Wage ia pun kembali berdetak dan begitu berhasil mengejar ketertinggalan waktu yang ia tinggalkan saat itu. Waktu berlalu sudah cukup lama, namun tak terasa. Seperti baru kemarin. Senin ke senin seperti selangkah, jum’at ke jum’at begitu cepat seperti sekelebat. Tahun ke tahun seperti tiba-tiba silih berganti tanpa permisi.  Ibu sudah lama meninggalkan kami.

Sekarang kami sudah berpisah. Kakakku menikah dan ikut bersama suaminya tinggal di Medan. Aku juga sudah menikah, tinggal bersama suamiku di sini. Menempati bangunan yang sejak lahir menjadi tempatku tumbuh, yang ketika kutempati menyemai nyaman dan ketika kutinggal pergi membuahkan rindu.

Baca juga: Ukiran Tanda Tanya

Aku juga sudah melahirkan dua putri cantik. Aku sudah seperti ibuku. Bahkan kedua anakku tak jauh berbeda seperti kami dulu, seperti aku dan kakakku ketika bermain bersama di halaman depan. Ketika saat liburan atau hari raya tiba dan keluarga kakak berkunjung, kami tidak pernah alpha bernostalgia tentang ibu. Ibu dengan segala rahasianya.

“ Kamu bisa menjahit Lin? “ tanya kakakku suatu hari saat melihat mesin jahit di ruangan tempat dulu ibu biasa bekerja masih utuh bersih tak berubah. Aku memang sengaja menjaga tempat ini dengan baik. Ketika aku begitu merindukan ibu, disini aku akan duduk merenung memutar memori. Tak jarang kedua anakku kuajak bermain disini. Kuceritakan tentang nenek mereka. Tentang aku kecil yang mirip seperti mereka.

“ Bisa lah ” jawabku tertawa kecil.

“Lho belajar darimana? Sepertinya mbak nggak pernah liat kamu diajari Ibuk menjahit pakai mesin deh” kata kakakku dengan nada tak percaya.

“Aku ikut kursus menjahit di rumah Budhe Surti” kataku. Budhe Surti adalah teman ibu sesama penjahit. Beliau sering datang kerumah, kami juga sering diajak ibu bertamu kerumahnya. Hampir setiap akhir pekan kami kesana. Karena tak jarang ibu ikut membantu menjahitkan pesanan di tempat konveksi Budhe Surti yang saat itu merupakan konveksi terlaris sekecamatan.

“ Waaah demi apa ? demi kamu bisa memakai mesin ini?” Tanya kakak heran dan penasaran.

“ Hahaha… iya” jawabku cengengesan. Saat bersama kakak rasanya aku belum setua ini, sedewasa ini, bahkan rasanya aku seperti belum menjadi ibu. Itu karena tak banyak yang berubah dari hubungan kami. Meski sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing kita masihlah sama dengan kedua bocah yang belasan tahun silam bermain lempar bola di halaman depan. Masih sering bercanda dan saling ejek.

Dulu ibu tak pernah membiarkan kami menyentuh mesin jahitnya. Entah karena alasan apa. Mungkin karena takut kami merusaknya. Tapi saat aku duduk di bangku kelas 1 SMP ibu mulai mengajariku menjahit dengan tangan secara manual. Awalnya kami berdua yang diajarinya menjahit  tapi kakakku yang notabenenya bukan orang yang telaten memilih menyerah dan lebih suka membaca komik sambil menyimak cerewetnya ibu mengajariku menjahit. Sebenarnya aku juga tidak telaten. Belum lagi mata minusku susah untuk diajak kompromi memasukkan benang seukuran bulu kucing itu kedalam lubang jarum yang begitu kecil. Tapi aku selalu suka belajar menjahit bersama ibu. Disetiap sematan jarum selalu ada kata-kata ajaib yang keluar dari mulutnya. Ibu selalu pandai menasehati kami dengan berbagai caranya.

Yang paling kuingat dari pesan ibu saat itu adalah

“ Lin, kain yang robek itu selaksa hati kita yang robek tersayat luka, entah itu karena ulah kita sendiri atau karena kita merasa dilukai orang lain. Kemudian benang kecil yang alot nan kuat itu adalah benang kesabaran dan keikhlasan, lalu jarum tajam itu serupa kekuatan. Sama halnya ketika kau menjahit kau harus teliti dan telaten, sabar dan berusaha bagaimana agar sisi kanan dan kiri yang robek itu bisa kembali terikat kuat. Dan usahakan terlihat rapi dan tetap cantik.  Dan yang terpenting jangan sampai jarum itu malah melukai jarimu sendiri. Saat menjahit hati, kau harus menggunakan benang sabar dan ikhlas dengan kualitas terbaik, jarum kekuatan yang tajam serta ketelitian tingkat tinggi dan usaha yang gigih. Jahit hatimu dengan rapi. Selain itu.. kau tentu tak hanya bisa menjahit hatimu sendiri, kau bahkan bisa menjahitkan hati orang lain yang sedang robek. Hiduplah sebermanfaat mungkin.”

Pernah suatu ketika ada teman Budhe Surti seorang kolektor mesin jahit kuno datang ke rumah. Menawar mesin milik mendiang ibu dengan harga mahal. Mesin jahit manual dengan cara kerja di injak seperti itu memang sudah punah. Secara produktivitas kalah telak dengan mesin jahit listrik jaman sekarang, apalagi dengan adanya  mesin-mesin canggih lain  seperti di tempat koveksi Budhe Surti. Meski kolektor itu menawar seberapapun, aku tak akan menjualnya. Itu kenangan, tak pernah senilai dengan harga uang.

Bakat menjahit ibu tidak mewarisi kami berdua. Usahaku ikut kursuspun tak seberapa berhasil karena memang hanya kuniati untuk sesekali menggunakan mesin jahit ibu. Hanya untuk vermak baju suami dan anak-anakku yang robek atau kurang sempurna.

Belakangan ini aku mulai memperhatikan hobi putri bungsuku. Di usianya yang ke tujuh kulihat di laci meja belajarnya setumpuk kertas berserakan  berisi sketsa berbagai macam model pakaian semacam gaun. Mungkin dia terobsesi dengan kartun barbie kesukaannya. Tapi aku menangkap sesuatu yang istimewa disana. Iya, mungkin ibu mewariskan bakat itu kepada cucu-cucunya. Kepada putriku.

Seperti menonton film dokumenter ketika kupandangi setiap sudut ruangan ibu. Kacamata tebal ber-frame hitam yang dulu selalu ibu pakai saat menjahit masih tersimpan rapi di lemari kaca sebelah kanan pintu. Aku seperti melihat diriku remaja yang fokus menatap tangan ibu menusukkan pucuk jarum dan menarik-narik benang panjangnya. Aku seperti mendengar kalimat-kalimatnya. Ah, andai ibu masih ada, tentu ia begitu bahagia melihat ada cucunya yang pandai mendesain baju.

“ Bunda, apakah dulu nenek bisa menjahit gaun seperti milik Ratu Belle atau Princess Aurora?”

Tanya seorang putri cantik yang ternyata sejak tadi telah berdiri disampingku. Aku hanya tersenyum lalu mengajaknya duduk di kusi kerja milik ibu.

Penulis: Ummi Kiftiyah