Mengutuk Takdir

580

Di keheningan malam yang mulai beranjak larut, gemercik derasnya hujan membalut kesunyian yang semakin mencekam. Sudah sejak satu jam yang lalu, sebelum akhirnya hari berganti, Sumirah berdiri mematung di hadapan cermin panjang yang tertancap di dinding kamarnya.

Ia menatap paras wajahnya yang membulat. Jemarinya menarik-narik gumpalan di bawah dagunya ke arah belakang dekat telinganya, berharap lipatan-lipatan menggumpal yang hampir menggandakan dagunya itu hilang. Tak hanya itu, Sumirah meremas lemak-lemak yang bergelambir di bawah kedua lengannya yang jika terbungkus pakaian lebih mirip dengan lontong berbungkuskan daun pisang.

Semakin lekat Sumirah menatap sosoknya di cermin, semakin teringat ia akan apa yang baru ia alami sejak kembalinya ia ke ibu kota tempatnya melanjutkan kuliah akhir semester, setelah kegiatan kampus yang sempat berhenti akibat wabah Covid-19.

Kondisi itu, memaksanya untuk berkegiatan di rumah dan mengurangi aktivitas gerak seperti biasa. Hal itu menyebabkan perubahan tubuhnya yang berbeda dari dua tahun yang lalu, sehingga mempengaruhi lingkungannya saat ini. Dipermalukan oleh teman-temannya, ditinggal kekasihnya, hingga dikritik dosennya.

Lebih parahnya, mereka menjadikan tubuh Sumirah itu sebagai alat melanggengkan penjualan suplemen-suplemen pengurus badan milik temannya. Diam-diam mereka memotret Sumirah, mengeditnya dan disandingkan dengan iklan produk tersebut, lalu disebarkan di lapak-lapak online dan media sosial lainnya.

“Mir, jadilah perawan tua abadi dengan tubuh gentongmu itu!” celetuk teman-teman tongkrongannya tentunya dengan tawa tergelak. Padahal banyak dari mereka, teman laki-lakinya, yang mengalami perubahan bentuk tubuh seperti Sumirah, bahkan lebih gempal dan menyeramkan darinya.

Dalam lamunannya terlintas, tubuh gemuk yang tidak sesuai standarisasi masyarakat, bukanlah sebab utama dari penderitaannya. Akan tetapi dilahirkan sebagai perempuan, barangkali adalah kecacatan dan sebab dari apa yang ia alami.

Masih di hadapan cermin. Jam menunjukkan dini hari, dan Sumirah masih mengamati dirinya. Kali ini ia melepas pakaiannya, ia memutar badannya ke kiri dan kanan, memperhatikan apa yang melekat dalam dirinya, dan lagi-lagi terlihat lipatan tebal menjijikan yang menumpuk di perutnya dan area pinggulnya.

Ratapan itu kembali mengingatkannya pada perkataan ibunya yang masih terngiang, membandingkannya dengan adik perempuannya yang tubuhnya tinggi, kurus semampai dan pandai berdandan. Bukan hanya persoalan tubuh gemuknya, tapi tentang Sumirah yang tak pernah bersolek dan tidak berpakaian seperti perempuan normal lainnya.

Semua pakaian trend saat itu, dari long dress, overall, tunik, hingga gamis dengan jilbab plisket dan segala pakaian modis lainnya, terpaksa ia kenakan. Belum lagi make up dari berbagai merek dioleskan pada wajahnya. Padahal yang Sumirah inginkan hanya menjadi seperti kakak laki-lakinya yang berpakaian bebas tanpa aturan, berpenampilan tanpa perlu ber-make up.

Ibunya memaksa semua itu dengan alasan “Kamu itu perempuan, harus punya penampilan menarik dan enak dipandang.” Tanpa ibunya sadari bahwa dengan penampilan seperti itu, Sumirah hanya menjadi lelucon dan bahan tertawaan oleh siapapun yang melihatnya.

Lagi-lagi yang ia sesali bukan ketidakmampuannya berpakaian, berdandan dan berpenampilan, yang terlintas dalam benaknya hanyalah “Mengapa aku harus terlahir sebagai perempuan?” Andai ia menjadi laki-laki, pastinya ia akan terbebas dari semua mimpi buruk yang menimpanya.

Tak terasa adzan subuh mulai berkumandang, suasana menjelang pagi mulai terasa dan membuyarkan lamunan Sumirah. Ia membuka tirai jendelanya dan melihat keluar kamarnya, melihat pagi akan tiba.

Seketika ada sesuatu dalam hatinya yang bergemuruh marah, perasaan gelisah menimpanya, sadar akan kenyataan yang harus ia hadapi kembali dan bertemu dengan temannya dengan hinaan itu lagi yang akan terulang terus menerus menyakiti perasaannya.

Sumirah kembali ke hadapan cermin masih dengan tubuh tak berkain, serta wajah yang dibanjiri air mata kemarahan, dan “PRAAANG…!!!” kepalan tangannya berhasil menghantam cermin itu hingga retak. Di tengah deru nafas yang terengah-engah ia masih menatap gambaran dirinya yang semakin tak berbentuk akibat guratan cermin yang retak.

Kemudian ia mengambil satu serpihan kaca itu, dengan tatapan mendelik seperti dirasuki makhluk lain, di goresnya pecahan itu pada gumpalan daging di bawah dagunya. Tangan kirinya menarik ke bawah dan tangan kanannya memegang serpihan kaca itu,  Seumirah menyayatnya terus menerus seperti memisahkan kulit domba dari dagingnya.

Semakin ia menyayatnya, semakin deras darah merah segar yang terpancar keluar, dan dirinya semakin puas. Rasa sakit yang ia rasakan seakan tak sebanding dengan apa yang ia alami selama ini. Sumirah mati rasa, gairah untuk menguliti bagian menjijikan lain dari tubuhnya semakin memuncak.

Setelah bagian bawah dagunya ia pisahkan, seonggok daging digenggamnya. Ia menyeringai dan melakukan hal yang sama pada bagian lengan, bagian perutnya dan bagian tubuh yang menjijikan baginya.

Bau amis darah mulai tercium, wajahnya memucat, dan lantai kamar kecilnya itu hampir penuh dilumuri cairan merah pekat dengan onggokan daging yang berserakan. Kondisi tubuhnya lebih mirip dengan monster daripada wujud manusia.

Sumirah dengan lekat ia melihat seluruh sisa tubuhnya yang memerah dan terus-menerus memancarkan cairan merah, ia menyeringai puas, dalam hatinya ia seraya bergumam.

Tuhan, akan kupersembahkan diriku dengan penuh pesona duniawi. Ku Berpulang dengan jasad yang sudah ku kuliti dari apa-apa yang menjijikan dan mengundang tatapan gila yang menggerayangi setiap gerakku. Barangkali hanya pandang-Mu lah yang menatapku dengan sempurna penuh keindahan dan tanpa cacat.”

Masih digenggamnya pecahan kaca itu, dengan sayatan terakhir di pergelangan kirinya, ia menjumpai Tuhan dengan menyayat nadinya.

Penulis: Giza Gasica
(Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)