Membekas

78
Membekas
Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Masih adakah jalan cerita dibalik semua masalah yang telah kamu perbuat. Sering kamu buat janji-janji seakan kamu bisa menepati. Ingat, aku bukan orang yang ingin mengulang patah hati untuk ke dua kali. Biarkan aku menyelami luka paling dalam, merasa orang yang paling tersakiti di dunia.

“Maria! Waktunya kamu kerja,” uluran tangan mama menarik lenganku.
“Aaah, Ma. Masih mager banget nih.” sembari duduk setengah sadar.
“Lihat, mata kamu merah tuh, lagian habis ngapain sih sampe begitu,” sepertinya mama mulai mencurigai semalam aku habis apa.

“ Mata Maria gak papa, Ma, cuman kemaren habis begadang mengerjakan tugas aja. Sekarang mama ke meja makan lebih dulu dan aku mau mandi sebentar, oke!”

Melirik mama sudah keluar, aku mengehala napas. Akhirnya mama tidak begitu ingin tahu kenapa mataku sampai merah dan sembab. Tentu saja aku masih tidak terima atas ketidakjelasannya meninggalkanku tanpa alasan dan tanpa kabar.

Beberapa kali aku mencoba menginginkan perpindahan dan melupakan kenangan, ingin mngekhiri kisah cinta sampai benar-benar menemukan kenyamanan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Entah seperti apa bentuknya, yang pasti aku tidak mau memori dia muncul ketika aku sudah benar benar pindah dan menetap.

Aku selalu berangan saat sudah menjalin hubungan yang menetap. Mengawali cerita yang baik, harus diakhiri dengan baik pula. Harapan terkadang bisa membuatku lalai akan kenyataan. Ya memang, justru itu selalu bisa membuatku bertahan dan melangkah sampai sekarang.

“Maria buruan! itu Lia sudah nunggu di depan.” teriakan mama membuat lamunanku buyar.

Sudah berapa lama aku melamun gak jelas? Ah, masih saja trauma datang mengalir dalam otak. Laki-laki bergiliran datang mendekat, sedangkan aku menjauh membawa pesan bahwa tidak ada laki-laki yang bisa aku percaya lagi kecuali ayah dan kakak.

Baca juga: Diriku Yang Lain.

“Mampus! Jam berapa ini? Aku belum mandi lagi, Lia sudah di depan menunggu. Sial, sial.” bergumam sendiri di hati, “Ya Ma, biarin Lia nunggu bentar. Ini masih ganti baju,” lanjutku.

Aku bergegas mengambil bekal makan dan tersenyum ke Lia yang sudah menunggu lama. Diperjalanan Lia tidak berhenti mengomeliku, bagaimana tidak, aku sendiri emang suka ngalamun.

“Ya maaf Lia, namanya juga udah kebiasaan.” sembari nyengir.
“Maaf, maaf, maaf terus”
“Hehehe.”

Terdengar suara keras menghujam, tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Entah kenapa orang-orang berteriak meminta tolong, sedangkan aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. semua orang panik mengentikan langkah mobil guna ingin membawaku ke rumah sakit. kejadian ini begitu cepat dan tidak terduga.

Selang beberpa jam aku bisa melihat diriku sendiri tergelak, “Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa! Aku menjadi orang paling menyedikan. Apakah ini pertanda aku harus menyusul ayah di surga. Mamaaa, aku di sini. Jangan tinggalin aku!” teriakku, tetapi tidak ada yang mau menggubrisku.

Melihat mama menangis histeris sungguh tidak kuasa, bagaimana aku mengatakan bahwa aku masih di sini menemani. Apakah ada yang bisa melihat diriku? Tolong jawab jika ada yang mendengarnya.

Dokter datang menyampampaikan berita duka tentang kepergianku. Semua saudar menangis, mama sering pingsan setiap kali melihatku berbaring. Saudara jauh tidak percaya secepat itu aku meninggalkan. Sudah lengkap deritaku membuat orang sekitar juga ikut sengsara.

“Tuhan, mengapa Engkau tidak adil terhadap hidupku! Kenapa Tuhan! memang kehidupan tidak bisa ditebak, semua makhluk hidup pasti mati, tapi bukan aku juga yang Engkau ambil.” ungkapan penyesalan dan amarah masih terulut dimulutku.

“Maria! Jangan tinggalin mama sendiri. Sudah cukup ayah saja yang meninggalkan mama, kamu jangan pergi.” air mata mama membasahi tanganku.

“Ma, Ma. Tidak, tidak, aku masih di sini. Aku tidak akan meinggalkan mama sendiri, maaa.” tidak ada yang bis a mendengarku siapapun kalian, tolong aku. “Tidak ada yang lebih pantas aku ucap sekarang, selain kata maaf. Itu saja.”

Tiba-tiba aku terjatuh begitu dalam, kemudian tersadar. Kira-kira sudah dua jam berlalu aku menhilang di muka bumi. Tubuhku tidak bisa digerakkan, mata masih berat membuka, dan mulut enggan bersuara.

“Kajaibanmu sungguh nyata Tuhan, sudah memberikan kesembuhan untuk Maria,” ujar mama sembari mencium tanganku.

Tuhan akan terus memberikan keindahan bagi setiap hambanya, kita akan meneruskan jalan cerita yang kita jalani dikehidupan sebelumnya. Mengukir kesan mendalam untuk ditinggalkan, meskipun harapan tidak selalu bisa jadi kenyataan. Akan dimulai lagi cerita baik. Aku menjalani hidup kedua yang diberikan Tuhan.

**

“Udah, udah, selesai ceritanya. Hahaha.”
“Aneh bener, eh, kamu pernah kecelakaan juga, Mar?”
“Iya, Rey. Sempat mati suri juga.” balasku.
“Mati sementara maksdudmu?” tanya Rey.
“Tepat sekali. Mau dengerin cerita yang lain lagi?”
“Astagaaa. Iya maulah.”

“Besok aja, wlek.” Aku menjukukran lidah mengejeknya, “Gitulah ceritaku, kayaknya gak asik banget ya, Rey. Tulisan di buku harian itu ungkapan perasaanku selama menjalani hari. Kamu, juga termasuk dalam jalan cerita hidupku. Kamu berhasil membuat diriku percaya lagi dengan laki-laki. Rey, maaf aku selalu egois untuk meminta lebih darimu, memaksa, dan kadang tidak mau mengerti.”

“Kesambet apa kamu? Jin? Setan? Kenalin dong setan mana?”
“Reeeeyyyy!” sembari aku mencubitnya.
“Aaa, sakit, sakit.”

Penulis: Akbar Trio Mashuri