Membaca Apofenia dalam Tahta Sungkawa Karya Binhad Nurrohmat (Bagian 1)

311
Apofenia
Photo by Ryan Stone on Unsplash

Rahasia Kematian dan Kehidupan

Kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sebagai konsekuensi yang bersifat niscaya dari kelahiran dan kehidupan, kehidupan malahan bagian terdekat dari kehidupan.

Akan tetapi, meskipun begitu dekat dengan manusia, kematian selalu merupakan hal yang tidak pernah dapat dijelaskan secara tuntas. Berbagai pertanyaan dan jawaban telah diajukan untuk membicarakan kematian, tetapi sampai saat ini ia tetap menjadi misteri yang takterpecahkan.

Sebagai penggemar kuburan, penyair Binhad Nurrohmat ikut ambil bagian rupanya tidak mau ketinggalan untuk turut serta dalam bincang-bincang kematian ini melalui buku puisinya yang terbaru, Tahta Sungkawa.

Tentu saja, kita dapat berharap lebih kepadanya. Karena menyandang status pemimpin dari Kuburan Institute, Binhad tidak boleh membicarakan kematian sebatas “kematian” saja. Akan tetapi, mengingat yang dibicarakan ini adalah kematian, suguhan semenarik apapun berpotensi akan menghilangkan kenikmatan hidup, termasuk kenikmatan merokok.

Rangkuman Isi Buku

Buku ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama diberi judul  Apofenia. Dari judul ini, kita dapat menduga penyair mungkin akan membicarakan kesalahan kita dalam mempersepsi suatu hal dan atau menunjukkan kepada kita kecenderungan yang berlebihan untuk menghubungkan suatu hal yang pada dasarnya mungkin sama sekali tidak berhubungan.

Seluruh puisi dalam bagian pertama ini diberi judul dengan angka romawi.  Hal yang tidak lazim, tetapi sah-sah saja untuk dilakukan. Bagian kedua diberi judul Jurnal Hayat, Jurnal Ajal.

Seperti sebelumnya, judul tersebut diisi oleh puisi yang merupakan catatan Binhad atas kehidupan dan kematian. Dalam bagian kedua ini, kita akan mendapati sejumlah nama orang yang masih hidup disebut dalam judul puisi, misalnya Fachry Ali dan Faruk Tripoli; dan juga nama orang yang sudah mati, misalnya Kurt Cobain dan Erik Satie.

Bagian ketiga diberi judul Pamflet Pandemi. Isinya, dapat diduga, sejumlah puisi yang mempersoalkan sikap kita terkait pandemi.

Mengingat kecerdasan saya yang terbatas, saya hanya akan membahas bagian pertama, Apofenia.

Baca juga: Perjuangan Nyawa Demi Nyawa

Binhad dan Kuburan 

Secara keseluruhan, sebagaimana terreprentasikan melalui judulnya, tema utama Apofenia dalam Tahta Sungkawa adalah kematian, bahkan hampir seluruh puisi dalam buku ini memang membicarakan kematian. Ini tidak mengherankan.

Semua yang mengenal Binhad mestinya tahu bahwa dia tergila-gila kepada kuburan. Dalam membicarakan kematian, secara umum, Binhad mempercayai bahwa dunia setelah kematian tidaklah dapat dipahami dari sudut pandang orang hidup.

Dua potongan puisi berikut ini merupakan pernyataannya yang paling jelas, dan karena itu penting untuk dipertimbangkan.

XVII
Arwah adalah bayangan kekal di dunia.
Tak ada cermin memantulkan kehadirannya .

XXI

Arwah di luar segala rupa dan warna yang dikenali dunia.

Dalam dua potongan puisi tersebut, arwah digambarkan sebagai “yang tak terpantulkan dan yang tak dikenali di dunia”. Oleh karena itu, tentu saja, pengetahuan orang hidup tidak akan mampu menjangkaunya.

Persoalannya adalah untuk apa Binhad repot-repot pergi ke kuburan kalau memang kematian dan arwah tidak dapat dijelaskan? Tentu saja Binhad tidak datang ke kuburan seperti orang mabuk judi yang mencari angka di kuburan.

Binhad mendatangi kuburan untuk mencatat kehidupan. Setiap kali mendatangi kuburan, dia mempelajari tokoh dan peristiwa terkait kuburan yang didatanginya, merefleksikannya, dan lalu mengartikulasikannya dalam puisinya.

Satu hal yang saya tangkap adalah bahwa, menurut Binhad, kuburan bagi manusia bukan hanya menceritakan kematian, melainkan juga mengabarkan kehidupan. Maksudnya, menurut Binhad –tentu ini hanya terkaan saya saja–, kuburan adalah jejak dari cara manusia memahami kematian dan sekaligus jejak dari cara mereka memberi arti bagi kehidupan.

Bersambung…

Penulis: Makyun Subuki
(Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FITK UIN Jakarta)