Membaca Apofenia dalam Tahta Sungkawa Karya Binhad Nurrohmat (Bagian 2)

271
Apofenia Binhad
Photo by Edward Howell on Unsplash

Dengan pengamatan tersebut, Binhad merekam, mencatat, dan sering juga mengkritik pandangan manusia terkait kematian.

Dalam puisi VII, di bagian Apofenia, Binhad mengabadikan pengetahuan yang didapatkan dan dipercayai banyak orang pada masa kecilnya dahulu tentang kunang-kunang yang konon berasal dari kuku orang mati.

VII

Dari kuku-kuku jari siapakah kunang-kunang terbang?
Lampu-lampu kecil kelayapan di udara malam
Seperti masa silam menyelinap ke masa lain

Kunang-kunang dan Ingatan Masa Lalu

Kata kunang-kunang di sini tidak semata-mata dimaksudkan sebagai hewan kecil yang terbang menyala-nyala. Kunang-kunang menjadi sumber (source) dalam hubungan metaforis antara “kunang-kunang” dan “ingatan akan masa lalu” yang menjadi target-nya.

Sebagaimana kunang-kunang, ingatan akan masa lalu tampil seperti cahaya yang beterbangan dan berkedap kedip. Mungkin, ini dimaksudkan bahwa masa lalu dalam ingatan tidak pernah hadir seutuhnya sebagaimana peristiwa sesungguhnya, melainkan sebagai potongan-potongan peristiwa yang memberikan kesan tertentu bagi pikiran kita.

Dalam konteks puisi tersebut, ingatan akan kematian dan orang mati hadir dalam pikiran orang hidup laksana kunang-kunang yang hadir berterbangan dan berkelap-kelip dalam suasana yang seperti suasana tanah pekuburan.

Ingatan akan masa lalu bisa jadi lebih indah atau juga lebih buruk dari peristiwa sebenarnya. Sebab, ingatan akan masa lalu hadir tidak semata-mata sebagai masa lalu, melainkan bersama dengan nilai yang kita berikan kepadanya. Begitulah yang saya pahami dari bagian akhirnya yang saya kutipkan berikut ini.

Basah embun di sayap terbawa pulang
Sebagai bingkisan dari perjalanan.

Melihat Kehidupan Melalui Kematian

Ungkapan “basah embun di sayap” merupakan metafor bagi nilai yang kita sematkan kepada peristiwa-peristiwa masa lalu yang dilakukan melalui mengingat. Dengan begitu, saya menegaskan hal yang saya sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa Binhad melihat kehidupan melalui kematian.

Dalam soal ingatan atau kenangan terhadap masa lalu ini, Binhad memberikan banyak komentar atas pikiran orang hidup terhadap kematian dan orang mati. Dalam puisi XIX di bagian Apofenia, misalnya, Binhad menuliskan,

XIX

Untuk bersua siapa orang datang ke kuburan?
Arwah pergi dari bumi dan tubuh mendiang tiada lagi.
Kuburan menjadi jejak terakhir yang berlalu
dan kerap memanggil kembali langkah hari ini.

Dalam puisi itu, Binhad menjelaskan motivasi orang mendatangi kuburan. Bagi Binhad, orang mendatangi kuburan bukanlah dengan maksud menemui orang yang sudah mati, karena menurutnya “Arwah pergi dari bumi dan tubuh mendiang tiada lagi”.

Dia kemudian memberikan penjelasannya bahwa orang mendatangi kuburan karena kenangannya akan orang yang sudah mati, yang dilukiskannya dengan diksi yang memikat, “memanggil kembali langkah hari ini”. Kuburan menjadi penting karena dia merupakan “jejak terakhir yang berlalu”.

Baca juga: Membaca Apofenia dalam Tahta Sungkawa Karya Binhad Nurrohmat (Bagian 1)

Kebenaran Pikiran

Tentu saja, tafsiran tersebut bisa jadi salah kaprah, karena puisi XIX juga bisa berarti cibiran sinis atas kebiasaan orang yang mendatangi kuburan jika itu dimaksudkan sebagai upaya mengunjungi dan menemui orang yang sudah mati. Kesalahan tafsiran saya itu mungkin saja terjadi, karena bahasa yang digunakan bersayap.

Akan tetapi, bahkan seandainya kesalahan tafsir saya itu dipertahankan, dapat disimpulkan juga cibiran Binhad yang sinis itu atas pikiran orang hidup terhadap orang mati. Sebab, mendatangi kuburan karena kenangan akan orang mati pada dasarnya bertujuan membenarkan pikiran orang hidup atas kematian dan orang mati.

Ini merupakan bentuk kritik Binhad terhadap kecenderungan orang hidup untuk memandang kematian dan orang mati dari sudut pandang orang hidup.

Soal bagaimana orang hidup memikirkan kematian dan orang mati demi orang hidup ini juga dapat dilihat dalam puisi XXXIII.

 

XXXIII

Di balik tanah kuburan tak ada arwah terbaring.
Arwah bebas dari kematian di mana pun.
Tak perlu menggali liang bagi kemerdekaan arwah kapan pun.
Hanyakah yang terbelenggu yang hilang kebebasannya?

Arwah Tidak Butuh Kuburan

Kita lihat bahwa, seperti sebelumnya, kuburan tidak menyimpan arwah dan bahwa arwah tidak mengenal kematian.  Oleh karena itu, arwah tidak membutuhkan kuburan. Lalu, siapa yang membutuhkan kuburan? Jawabannya adalah orang yang hidup.

Orang hidup membutuhkan kuburan bukan hanya untuk mengatasi permasalahan mereka dengan orang mati, melainkan juga untuk membela pikirannya akan kematian dan orang mati, termasuk kenangan orang hidup terhadap orang mati yang ternyata hanya penting untuk orang hidup.

Untuk menegaskan terakhir kalinya soal bagaimana Binhad membicarakan kepentingan orang hidup dalam memandang kematian dan orang mati, perlu kita lihat satu puisinya yang berada dalam bagian Pamflet Pandemi yang menggambarkan secara jelas bagaimana definisi “kematian yang mulia” sangat berurusan dengan kepentingan orang hidup.

 

DILARANG MATI DI SINI

Mayat-mayat terpapar corona saat pandemi
secela mayat teroris di kampungnya sendiri.

“Kau jangan berkubur di sini!”
bentak tetangganya sendiri.

#3

Apa yang perlu ditegaskan dari hasil bacaan saya terhadap bagian Apofenia dari Tahta Sungkawa adalah bahwa bagian ini menjadi cara Binhad merekam, mencatat, dan juga mempersoalkan cara pandang orang hidup terhadap kematian dan orang mati.

Tentu saja, ini hanya salah satu yang dapat disimpulkan dari puisi yang terdapat dalam Apofenia dari Tahta Sungkawa. Cara pembacaan lain yang berbeda mungkin akan menghasilkan simpulan yang juga berbeda.

Penulis: Makyun Subuki
(Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FITK UIN Jakarta)