Manungso

171
Manungso
Photo by Waldemar Brandt on Unsplash

seperti dian teplok
mati tapi hidup , hidup tapi hanya hidup-hidupan
pagi mencari pangan
pulang tidur dan shalat malam

menggerus dada sambatan anak
“pak besok bayar buku, lima puluh ribu”
merogoh saku hanya ada empat puluh lima ribu
dua sepuluh ribu, satu dua puluh ribu dan recehan lima ratusan ada sepuluh
“kapan bayar e ?”
“besok pagi pak”

seketika, mendung lebih tebal dari wedus gembel merapi
wajah mbesengut ibune yang bingung
“saiki turu, sesok esok duite yo” putra mengagguk
“wis bu, keloni anake”
keduanya masuk dengan menyeret harapan
kakinya, dipunggung bapaknya

“aku kudu adol nopo malih, gusti”
bapak tak boleh menangis
bapak harus menjelma apa saja

segenggam beras, dimasukkan diam-diam ke kantong kresek
dua genggam tiga sampai penuh, kira-kira satu kilo
bergegas mengambil sepeda tua, yang rodanya lapuk dimakan senja
berharap warung bu surti belum tidur
lima ribu lagi, untuk jendela dari pengap gubug reyotku

Baca juga: Catatan Kaki Keikhlasan

Penulis : Lia Nur Faizah
(Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)