Kubentangkan Ilmu dan Sajadahku di Kota Depok – Part 1

314
Kubentangkan Sajadah dan Ilmu
Source: Berita Baru

         Sesuai dengan agama, bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya. Itu berarti ada konsekuensi melakukan dosa jika kita masih muda akan tetapi tidak berusaha untuk menuntut ilmu sebaik mungkin.

        Ilmu identik dengan sesuatu yang tinggi, begitu pula dengan derajat orang yang berilmu, karena Tuhan sendiri yang mengatakannya. Bahkan tidak ada yang dapat dinilai sebagai bangsa yang maju, kecuali dari keberadaan ketinggian ilmu disana. Sudah menjadi hal umum jika bangsa bangsa yang juara haruslah berkiblat kepada negeri yang tinggi ilmunya.

          Manusia diberi waktu 24 jam dan kita dibebaskan untuk melakukan apasaja untuk menggunakan waktu itu, entah dia orang kaya, miskin, pejabat ataupun pekerja kasar. Tuhan tidak akan pilih kasih, bagi siapa yang memanfaatkan waktunya, dia akan menuai hasil sesuai dengan apa yang diusahakannya.

Belajar Adalah Kewajiban Penuntut Ilmu

          Kewajiban sebagai seorang penuntut ilmu adalah belajar. Tidak akan sampai ilmu itu dari sumbernya kepada kita kecuali dengan belajar, karena aku menyadari bahwa aku bukanlah orang superjenius yang bisa tiba-tiba menjadi cerdas tanpa melalui perjuangan belajar.

         Begitupula aku kini, aku berada diujung waktuku main-main. Memang benar yang dikatakan orang-orang jika murid kelas 3 SMA adalah murid terbaik dan teralim sepanjang masa. Aku dan teman-temanku menjadi sangat religius.

         Masjid sekolah yang biasanya sepi ketika istirahat pertama, kini ramai dengan kami yang ingin berebut wudhu dan shalat dhuha. Aku yakin teman-temanku juga shalat hajat dan tahajud, sama sepertiku. Bahkan guru kami memberikan doa untuk murid kelas 3 yang ingin berhajat kepada Gusti Allah. Termasuk aku.

         Sekolahku bukanlah sekolah yang dekat dengan kota, butuh waktu 1 jam lebih untuk ke Kota Kabupaten, Boyolali Jawa Tengah. Namun, letaknya yang terpencil tidak membuatku minder. Sekolah kami, SMA N 1 Karanggede memberikan pelayanan terbaik dan menurutku ini memang SMA yang terbaik.

       Aku beruntung dapat bersekolah disini. Disaat Ujian Nasional tiba, sekolah kami menyiapkan sarapan yang enak untuk kami. Kami yang sangat nervous ini merasa jauh lebih semangat.

Saatnya Menjemput Impian

            Dalam peta kehidupan, kuliah adalah suatu impian dan sesuatu yang harus aku capai di tahun 2013. Aku menginginkan salah satu Universitas di Depok dengan budaya sebagai fakultasku dan membentangkan sajadahku disana. Kelak aku harus berkembang dan berilmu disana.

        Sesuatu yang sangat membanggakan apabila aku dapat kuliah. Jika aku kuliah, aku adalah orang pertama yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi dikeluarga kecilku ini. Kami hidup sederhana, ayahku adalah seorang TNI sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Keluarga kami tinggal di sebuah dusun yang bernama Kirang.

      Mungkin kampungku ini tidak ada di peta, maupun google maps hihi. Aku ingin menjadi orang pertama di kampungku yang kuliah di Universitas di Depok itu. Aku ingin menjadi pelopor, karena kebanyakan warga dusun Kirang tidak melanjutkan sekolah, hanya berhenti sampai SMP atau SMA.

    Ahh indahnya impianku itu. Aku rela deh meninggalkan kampung halamanku yang asri dan indah ini demi mengejar cita-citaku. Kanjeng Nabi pernah berkata, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Ke Cina aja disuruh masak ke Depok yang masih sama-sama Pulau Jawa aku takut. Hihi

Akhirnya Hari Itu Pun Tiba

        Hari yang ditunggu tiba, sebuah perhelatan akbar bagi seluruh siswa kelas akhir di Indonesia. Sebuah momentum pembuktian dimana selama 3 tahun belajar, apakah ilmu yang telah diterima sudah mengakar sampai ke ubun-ubun kepintaran kita.

      Ujian Nasional, aku melaluinya dengan banyak persoalan, Tuhan mengujiku dengan konsentrasi yang buyar ketika mata pelajaran fisika. Aduh, aku berfikir apa aku tidak berbakat dibidang ini ya?

     Suatu rasa yang sangat aneh ketika kita mencintai suatu pelajaran, namun kita tidak bisa mengerjakan pelajaran itu. Huh usahaku sudah, kini hanya tawwakal kini yang bisa aku lakukan.

     Hari ini adalah pengambilan nilai UNku. Aku tak sabar, lebih tepatnya aku ingin cepat peristiwa ini berlalu. Aku tak yakin nilaiku akan baik, mengingat apa yang terjad ketika Ujian fisika lalu, dan benar aku mengecewakan kedua orangtuaku, nilaiku tidak baik di mata pelajaran itu.

     Orangtuaku bilang ‘tidak apa-apa’ namun kata ‘tidak apa-apa’ itu yang membuatku sedih, ini adalah pukulan bagiku. Pukulan untuk seorang anak yang memiliki tanggungjawab membanggakan kedua orangtuanya, namun aku tidak. Ahh belum tepatnya.

(Bersambung…)

Penulis: Nila Novita