Kita Adalah Pecundang Yang Sebenarnya – Part 2

133
Kita Adalah Pecundang Yang Sebenarnya - Part 2
Photo by The HK Photo Company on Unsplash

Orang-orang di warung tempat Kita duduk silih berganti, tapi kami tidak.

Kusulut rokok yang sedari tadi kuletakkan di meja, kuhisapnya sambil menyerutup kopi. “Ah, seandainya kita memaknai hidup ini lebih sederhana, pasti akan senikmat Gudang Garam dan secangkir Gayo Aceh ini.”

“Tak semua orang segila dirimu,” katanya

Aku akui, katanya cepat-cepat, hanya kau lah yang bisa memberikanku segudang ide baru dan berjilid-jilid definisi soal cinta. “Lantas, mengapa kau tetap memilih menjadi seperti tai? Kataku.

Baca juga: Kita Adalah Pecundang Yang Sebenarnya – Part 1

Menjalani hubungan seumur hidup yang kau sendiri tidak tahu akan bahagia atau tidak, bagiku, adalah sebuah kegilaan. Kau menanam dan memupuk subur keraguan, sempurna untuk memanen penderitaanmu di masa depan. “Aku menyebutnya pegertian,” sahutnya cepat.

“Lebih cocok disebut kompensasi.”

“Kau selalu tak sepaham denganku soal ini,” katanya kesal.

“Karena aku tak ingin menjadi seperti tai,” tukasku dengan penuh kayakinan

_____

Kami berdua terdiam. Sadar bahwa obrolan kami yang menyedihkan tadi menjadi pertentangan pikiran yang biasa kami lakukan setiap hari, dahulu. “Sejujurnya, kau adalah orang yang sangat aku inginkan.”

Seorang laki-laki yang membuatku bisa membicarakan apa saja dan dalam keadaan apa saja. Kau adalah sesuatu yang ingin aku kejar setiap saat. Saat kegelapan menggerayangiku, kaulah satu-satunya cahaya yang menunjukkan jalan keluar.

Aku merasa, kau adalah sebuah tujuan, yang karena tujuan itu, aku punya kekuatan untuk tetap meraihnya. Namun, aku tidak tahu apakah aku akan tetap memiliki kekuatan itu saat sudah mencapai mu. Pada titik ini, aku memutuskan untuk tidak meraih kamu, agar aku tetap memiliki kekuatan.

“Kau tak perlu repot-repot merangkai kata-kata Indah jika pada akhirnya kau memutuskan hal yang salah,” tegasku.

“Ini demi kebaikanmu, tentunya juga untukku,” bantahnya.

“Biar aku beri satu definisi baru tentang cinta untukmu.”

Perempuan yang sedang duduk tepat di hadapanku ini menarik nafasnya dalam. Mengernyitkan dahi dan memfokuskan matanya kepadaku. Aku terdiam barang semenit dan menghela nafas sambil menerawang jauh menembus waktu.

De javu, iya, itulah namanya. Itu mungkin momen pertama yang membuatku jatuh hati padanya. Keingintahuannya yang tinggi seakan melengkapi hasrat berbicaraku yang banyak.

Lalu, dengan mulut yang ringan tanpa beban, aku melanjutkan kalimat yang sedari tadi aku tahan.

“Cinta adalah delusi.”

Perempuan yang sudah membuatku patah hati berkali-kali ini hanya terdiam.

“Seseorang mengorbankan rasa tidak nyaman, rasa ketidakcocokan, dan rasa-rasa yang lain hanya karena cinta. Atas nama cinta, orang membuat banyak kompensasi dalam hidup. Membuat kebohongan-kebohongan kecil dalam lubuk hatinya. Membohongi kemarahan-kemarahan kecil yang Ia miliki dengan dalih cinta. Akhirnya, keyakinan dalam dirinya soal cinta berubah.”

Sambil meneteskan air mata, entah karena tertampar dengan perkataan serampanganku atau merasakan benar-benar apa yang kukatakan di dalam lubuk hatinya.

Aku tak peduli lagi. “Aku jadi benar-benar yakin bahwa kau akan tetap dan selalu menjadi tujuan hidupku,” katanya. Tapi, aku memang tak bisa bersamamu.

“Berarti, aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal,” aku berdiri dan meninggalkannya sendirian teronggok seperti tai.

Penulis : Mirza Iqbal