Kita Adalah Pecundang Yang Sebenarnya – Part 1

166
Kita Adalah Pecundang Yang Sebenarnya - Part 1
Photo by Charlie Foster on Unsplash

Entah berapa lama ini akan berlangsung. Dua tahun, lima tahun, ataukah selamanya. Aku sungguh tak punya ide dan benar-benar tak ingin memikirkannya. Malam itu, kita saling menertawakan satu sama lain dan menyepakati satu hal: perpisahan.

Kami sepakat bahwa hari ini adalah hari terakhir kami bertemu, sebelum kelak Ia atau Aku menikah. “Kita berdua adalah dua orang yang sama-sama tidak bisa memiliki orang yang kita cintai,” kataku.

Ia tertawa terpingkal sambil mengusap tangis akibat selembar surat yang ada di genggamannya. Surat itu berisi sebuah sajak yang menjelaskan perjalananku selama sembilan tahun bersamanya.

Bagi seorang laki-laki yang tak mudah membicarakan emosi, secarik surat itu mungkin telah menyayat-nyayat hatinya. “Ha ha ha ha ha ha ha dasar tolol”, tawa nya kepadaku kemudian.

Baca juga: Di bawah Ridho Abah – Part 1

Baginya, juga untukku, menertawakan diri sendiri adalah obat pelipur kemalangan nasib dan kebodohan diri. Dengan tertawa, sebuah kesedihan rasanya akan bisa dilalui dengan sempurna.

Kami juga menertawakan pahitnya Kopi Joss di sudut Tugu Jogja itu. Mungkin, kami memikirkan satu hal yang sama; walaupun tidak sepahit kisah kami berdua, pahit kopi ini cukup cukup pantas mengiringi air matanya, dan juga rasa kehilanganku.

Mari kita merayakan kehilangan, kata perempuan Solo itu sambil membenarkan posisi duduknya yang sempat goyah.

“Kita adalah pecundang yang sebenarnya,” kataku padanya dalam sudut hening di tengah keramaian lalu-lalang manusia. Dua orang yang saling mencintai tanpa berani memperjuangkannya. Tak punya barang secuil kemampuan untuk mendobrak tembok besar itu.

Persetan kata Paulo Coelho, bumi dan seisinya akan berkonspirasi untuk mewujudkan keinginan kita hanyalah omong kosong. Katanya, kita tidak harus mendobrak tembok besar yang ada di hadapan kita.

Kita bisa saja mencari jalan memutar meskipun jauh. Bisa juga menggali tanah agar sampai di seberang tembok. Juga memanjat tembok, jika kita memiliki cakar yang kuat. Namun, sayangnya kita tetaplah pengecut. Yang hilang dari jiwa kita hanya satu: keberanian.

“Menikah bukanlah soal suka sama suka saja,” celetuknya. Sepakat! kataku.

“Menikah adalah urusan sosial, kita perlu menimang dan menimbang banyak aspek. Bukan hanya soal kecukupan finansial, tapi juga kematangan emosi dan mental. Kau bisa saja menikahi dia, tapi belum tentu kau bisa mencintainya,” sambungku.

Klise! Katanya. Kenyataannya, menikah adalah tentang saling mencukupi kebutuhan. Kebutuhan jiwa dan raga. Kebutuhan jiwa tak akan terpenuhi jika raganya tidak dicukupi. “Sejak kapan kau berubah?” tanyaku.

“Cinta bisa dilatih, kasih sayang bisa dipupuk, meskipun pada awalnya aku tidak mencintai dia, aku yakin cinta itu akan tumbuh seiring dia berada di sampingku. Selalu ada,” celetuknya mengabaikan pertanyaanku.

“Menikahi seseorang artinya kau juga menikahi pola pikirnya, ideologinya, kesehariannya, hingga kebusukannya. Mampukah kau?” jawabku sambil meletakkan sendok dan garpu menyilang.

“Aku sudah tahu, kau tak perlu ceramahi aku soal itu,” katanya. “Tapi,..” Ia melanjutkan kata-kata yang agaknya masih dia pertimbangkan, katakan atau tidak. Yang aku tidak tahu mampu atau tidak adalah, bergolak dengan pemikirannya yang congkak, katanya.

“Namun, Ia selalu ada di sampingku, saat sedih, susah, senang. Meskipun Ia tak sepenuhnya berada di frekuensi yang sama denganku, tapi Ia selalu memberiku pundak”.

Tidak sepertimu, katanya.

“Kau..tak selalu hadir untuk ku. Kau bisa saja menghilang selama berbulan-bulan, kemudian datang dengan mata sembab dan bau tembakau.

Kau mengoceh soal perjalananmu yang kau dramatisir, kau romantisasi. Pikirmu, kau itu hebat? Kau juga tak punya satu pun alat komunikasi, kau tak punya sosial media.

Caraku berhubungan dan mengetahui kabarmu selama ini, selama sembilan tahun ini, satu-satunya hanyalah melalui keajaiban. Tanpa itu, aku tak tahu lagi harus bertemu kamu dengan cara apa.”

“Satu lagi”, potongnya ketika aku menghela nafas untuk menyanggah.

“Kau bisa berada di mana pun, Malang, Jogja, Maluku, Ambon, dan seringkali aku mendapat kabar dari temanmu kau baru saja turun dari Semeru, Kerinci, Rinjani. Sebenarnya, hidup seperti apa yang akan kau jalani di masa depan? Sampai kapan kau akan hidup seperti ini….jawaab !” makinya dengan nada yang meningkat.

“Tapi aku bisa menemukanmu, kapanpun,” kataku.

Aku bisa menulis puisi dan cerpen di berbagai koran dengan nama samaran yang berbeda-beda tiap minggunya, yang hanya kupersembahkan untukmu, dan kuyakin kamu tahu siapa itu.

Aku juga tahu, di saat sedih, kau selalu membeli puluhan jenis koran untuk menemukan petuah dan pesan dariku didalamnya. Aku bisa tahu kapanpun kamu sedang sedih, aku bisa tahu kapanpun kamu butuh aku.

“TAPI KAU TAK ADA” celanya.

“Emosi kita, perasaan kita terhubung, aku yakin kau merasakannya. Lantas, mengapa kita harus selalu bertemu?” kataku.

Persetan dengan omong kosongmu!” tukasnya menghentikan perdebatan kita.

*** Bersambung ***

Penulis : Mirza Iqbal