Kisah Cinta: “Nih, si Doel Anak Betawi Asli”

795

Oleh: Hyang Ismalya Mihardja

Kisah Cinta: “Nih, si Doel Anak Betawi Asli”

Prolog

Ternyata bener deh tebakan temen-temenku, khususnya Bli Nengah Sagita, yang pernah bilang, “Jangan-jangan setelah tuntutan menulis untuk Ibu, kemudian sang suami minta ditulisin juga”. Dia sih gayanya nggak terang-terangan, tapi dia sempat bilang, “Ismalya, nggak usah tulis tentang aku, kamu bebas aja tulis yang kamu mau, gampang aku mah…” tapi ngomongnya sambil senyum agak miris dan alisnya sedikit mengernyit…tuh kan bahasa doi tuh mirip banget sama emak gue, can you see…hahaha. Ismalya, begitu dia selalu memanggilku, cuma dia yang memanggilku begitu.

Kali ini aku akan bercerita dari sisi sudut pandang yang berbeda.

Mengejutkan, setelah 9 tahun pernikahan, betapa masih ada saja hal baru yang belum pernah kami ketahui sebelumnya dari pasangan. Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama? Saya berharap dari tulisan ini, para perempuan, terutama yang masih jomlo, bisa belajar dari pengalaman saya yang bodoh ini.

Satu lagi hikmah dari adanya pandemic era, yang memaksa kita untuk sejenak diam di ‘rumah’, memberi kita kesempatan untuk bersyukur akan karunia-Nya. Saya ceritakan versi saya, ya…

Uncovered Story

Masa pandemi ini, jika tidak benar-benar perlu, kami tidak keluar rumah. Artinya, waktu yang biasa terkuras untuk menembus kemacetan Jakarta atau terbuang untuk menunggu dan sekadar basa-basi setelah meeting tertabung apik; bisa saya gunakan untuk memasak, bobok siang, menulis atau mengobrol virtual dengan teman-teman lama. Tapi kemarin malam istimewa, selepas salat Magrib berjamaah, sembari menunggu waktu Isya, masih lengkap menggunakan seperangkat alat salat, aku dan si Doel berdialog santai.

For the record, si Doel ini selalu mengistimewakan pakaian salatnya, ia senang menggunakan sarung untuk salat, sarungnya dia bedakan untuk saat salat di rumah, salat di luar rumah, salat saat travelling, salat di hari raya, dan ia juga punya sarung koncian alias tak ada yang boleh pinjam itu sarung, juga tak akan dipakai kecuali ia rasa waktunya pas. Begitupun perlakuan yang sama untuk baju koko dan peci yang dia kenakan. Khusus peci, klasifikasi dia tambahkan lebih istimewa lagi, si Doel juga punya dua peci koncian; peci gaya asli orang Betawi yang bersalur ornamen hiasan kain di sekelilingnya, dan peci hitam yang mirip gaya Bung Karno, cuma dia yang tahu kapan waktunya peci itu tampil keluar.

Sambil menulis ini, tanpa terduga menyadarkan saya, loh kok si Doel ternyata mirip Ayah ya hhmmm. Even better, untuk membangun suasana indah dan khusyuk, si Doel kerap kali membubuhkan wewangian di atas sajadah dan beberapa titik di kamar tempat kami ibadah. He truly is a devoted worshiper, actually they both are.

Malam ini, si Doel menggunakan sarung kotak-kotak warna biru, baju koko putih dengan variasi batik coklat di bagian kerah. Tumben sekali salat di rumah dia kenakan peci konciannya, peci hitam ala Bung Karno. Biasanya untuk salat di rumah, ia pakai yang lebih kasual, kadang kopiah berbordir warna putih ala habib atau kopiah bahan benang rajut warna biru dongker. Mungkin gara-gara peci hitam ala Bung Karno, ditambah adanya sisa percikan bekas air wudhu, wajahnya jadi terlihat lebih cerah seperti bercahaya, bisa jadi juga karena sinar lampu ‘terus terang ****** terang terus’ hehe dilarang sebut merek, ya.

Melihatnya malam ini membuat anganku terbang menembus masa lalu, tepatnya Mei 2011, si Doel malam ini tampak mirip sekali seperti ia kala itu, malam ini saya jadi naksir dia lagi.

Kisah Rahasia Terungkap

Demi memuaskan hasrat jurnalis amatiran untuk mendapat materi yang ciamik, malam itu saya interview si Doel. Sekalian menyisipkan harapan untuk dipuja-puji, pertanyaan perdana saya kira-kira berbunyi seperti ini, “Baba, inget nggak dulu kamu suka sama aku kenapa? Apa sih yang bikin kamu jatuh cinta?” males nggak sih lo bacanya, ya maaf yak, lanjutin nggak nih ceritanya? Lanjut, ya!

si Doel tersenyum, matanya berbinar dan ia menjawab, “Aku kan cinta pandangan pertama sama kamu, Ismalya”. Aku terkejut tak pernah menduga jawabannya, aku tanya lagi “Ah masa sih, kok aku gak pernah tahu, emangnya kamu masih inget pertama kali ketemu aku di mana?” si Doel menjawab, “ingetlah, kan di rumahnya Branchi yang di kavling DKI Jakarta Barat”. Kemudian saya mulai mengingatnya samar-samar, keterlaluan ya saya ini. Saya melanjutkan,” Oh iya ya, kita pertama kenalan di rumah Branchi, ya. Trus certain dong apa yang paling kamu inget dari hari itu?”.

Wajah si Doel mulai tersipu-sipu, dia katakan, “Aku inget kamu jalan turun tangga dari lantai atas, kamu waktu itu pakai celana jeans belel, atasannya kaos warna merah, rambut kamu panjang keliatan mengkilat, terus sampai bawah kamu duduk, duduknya kamu angkat kaki bersila di atas sofa,” sumpah saya takjub bagaimana dia mendeskripsikan ingatannya akan saya kala itu.

Dialog jadi semakin asyik, saya dibuatnya semakin curious, “Lalu apa yang bikin Baba waktu itu langsung jatuh cinta?” si Doel terlihat sedikit malu, senyumnya lucu sekali, “ya dalam hati aku bilang, ‘Gila! nih cewek sexy banget.” Respons saya spontan, “Hah! Jadi Baba suka sama aku bukan karena aku pinter? atau karena aku salehah?” hahaha si Doel tertawa riang, “Karena kamu sexy, Ismalya. Kamu kan dulu kalo pakai baju suka-suka banget. Aku juga masih inget pertemuan kedua, kita jalan bertiga, Branchi ke Citos, kamu pakai baju outer warna merah, dalemannya kemben warna hitam, kamu kece banget apalagi kalo rambut panjangnya tergerai”. si Doel lanjut cerita “Tapi kamu judes banget dulu, sok cool, waktu dikenalin Branchi kamu cuma nyodorin tangan bilang, “Guwe Hyang! Dalem hati aku, dih sombong banget nih cewek”. Si Doel menambahkan, “Pas ngobrol aja kamu ngomongnya straight banget dah kaya siaran Mata Najwa, aku sampai gagap karena grogi ngobrol sama kamu”. Ya ampun, aku tuh anak perawan judes, siapa yang demen, yak.

Samar-samar gambaran hari itu mulai muncul di benak saya, “Oiya ya, aku baru inget, hari itu si Branchi panggil aku turun dari atas, katanya dia mau kenalin aku sama anak basket. Aku jadi inget hari itu kamu bawa mobil kaya jeep gitu, ya? Trus kok samar dalam ingatan aku, kamu bawa-bawa panci, bener gak sih, ngapain tuh ya kamu bawa panci?” si Doel mulai tertawa dan semakin semangat cerita, “iya bener, hari itu aku bawa mobil Taft, itu panci juga bener, waktu itu kan bulan puasa, jadi aku lagi bawain hantaran untuk keluarga Branchi, sayur godog buat makan ketupat lebaran, saking groginya aku, sampe ada acara kaleng kerupuk terbalik tuh waktu itu, kacau.” Anjrit! Hantaran sayur godog guys, kuy lah sing together; …aduh sialan, nih si Doel anak Betawi asli… hahaha ngakak gue. Malam ini saya baru mengetahui, satu lagi sisi kisah si Doel melihat cewek bakal isterinya, since the day we met, back in 2004.

Cerita yang baru terungkap ini bagaikan hiburan kejutan buat saya, sambil menulis ini saya tak kuasa senyum-senyum sendiri.

For the record, Branchi ini adalah sahabat saya sedari SMA, kami sekolah bersama di SMA 78 Kemanggisan, Jakarta barat. Branchi kesayangan saya adalah bestie yang asyik, keluarganya juga baik, selalu akrab dan hangat, hal yang biasa untuk main atau tinggal berlama-lama di rumah Branchi. Kebetulan kala itu, Branchi dan si Doel temen satu kantor di Jasa Marga. Bran, you made it, sudah berhasil jodohin orang, mudah-mudahan sudah ada kavling di surga untuk Branchi, ya.

Cerita persahabatan saya dengan Branchi juga nggak kalah menarik, ada juga dramanya, mungkin suatu hari akan saya tuliskan, memang mesti ditulis, karena kalo saya ceritakan langsung, biasanya belum separuh jalan dia udah ketiduran.

Eits, cerita masih berlanjut dan berliku guys, kita nggak langsung berjodoh dan happy ending.

Pertemuan kedua, kami jalan bertiga bareng Branchi ke Citos. Sempet juga kami dokumentasikan momen itu dengan foto box, heits pada zamannya, saya nggak menyangka si Doel masih menyimpan foto itu sampai sekarang. Pertemuan ketiga, saat malam tahun baruan, Branchi, Dewi (my other bestie) dan si Doel, having party di Citos. Memang Citos kala itu heits banget. Barang kali dilalah saya lagi kesambet rohnya Hamka, saya gak mau ikutan, ada dua kali bolak-balik si Doel dan Branchi berusaha jemput saya, tapi saya bergeming, Saya hanya dadah-dadah aja ke arah mobil mereka, lengkap dengan pakaian mukena, dari atas tangga Masjid Agung Al Azhar. Si Doel makin penasaran makin jatuh cinta sama si Perawan Judes.

Kencan berlanjut tanpa Branchi, si Doel maju sendiri. Jahatnya saya kala itu, saya nggak pernah anggap itu kencan. Si Doel bagi saya adalah cowok baik yang kerap kali, bahkan hampir setiap hari, antar–jemput saya ke rumah dan kantor, waktu itu saya kerja di salah satu Law Firm di daerah Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Kalo si Doel absen saya di antar-jemput oleh teman baik yang lain. Asal tahu aja, posisi rumah si Doel di daerah Jakarta Timur, rumah saya di Jakarta Barat, kantor saya di Jalan Wijaya Jakarta Selatan dan kantor si Doel di Bintaro, juga Jakarta Selatan. Kebayang kan rute muternya si Doel dari rumahnya di kav. DKI Cipayung menuju ke kantornya, kala itu dia kendarai mobil Innova Kapsul warna hijau.

Si Doel ungkapkan memori dia kala itu dengan bilang, “Ismalya, kamu tau nggak, aku kalo jemput kamu itu dari rumah harus berangkat habis sembahyang Subuh, pukul 5 pagi, tanya Ibuku kalo nggak percaya. Udah gitu kamu jutek banget, susah banget dideketin, sorry ya, sejujurnya nggak ada cewek yang nolak aku. Cuma kamu doang. Untungnya Ibu kamu so sweet, kalo aku datang pagi, sudah sediakan sarapan nasi uduk”. Buahahaha bukannya terharu saya malah ngakak, mengenang ternyata emang sedari awal Ibu dan si Doel udah jadi sekutu ya, chemistry banget mereka. Kala itu, saya dan si Doel jalan bareng hampir selama satu tahun.

(Bersambung…)