Ketabahan Anjing di Negeri Sendiri

189
Ketabahan Anjing Berkebangsaan Indonesia
Photo by Kristina Flour on Unsplash

“Kesalahan (sebagian) orang (itu), ketika binatang yang diharamkan dalam Islam untuk dimakan, seolah-olah harus kita benci dan harus kita perlakukan buruk. Seperti babi (dan) anjing, padahal manusia pun dagingnya gak boleh dimakan, haram.

Apakah kita (lantas) akan membenci diri kita sendiri?” (Habib Husein Ja’far al-Hadar, “Ada KEBOHONGAN BESAR Dibalut Agama!” channel YouTube PUELLA ID kolaborasi bersama Cinta Laura, 1 Agustus 2021 https://youtu.be/WoovkHXOLmY)

Ketika kita dengar kata ‘anjing’ dalam keseharian dengan konteks dan nada tertentu, pasti yang terlintas dalam isi tempurung kita adalah najis, kotor, haram, dan hal menjijikkan lainnya. Makhluk yang berlabelkan haram tanpa perlu bersertifikat MUI ini, sungguh apes dan memprihatinkan jika ditakdirkan lahir di Indonesia.

Suatu negara yang seharusnya berperi kehewanan, konon dikenal sebagai penggalan surga dunia, karena kaya akan berbagai spesies hewan dan makhluk lainnya. Meskipun demikian, di negeri ini anjing sering kali disebut-sebut sebagai nama binatang paling ampuh dalam meluapkan gemuruh amarah oleh siapa pun dan tak pandang bulu. meskipun terkadang kawanan monyet tak kalah seringnya keluar dari mulut-mulut itu.

Ironisnya, nama anjing yang dijadikan umpatan tersebut merupakan umpatan lintas bahasa. Tidak terbatas pada bahasa Indonesia saja, tetapi asu yang berarti anjing dalam bahasa Jawa pun tidak sama sekali menaikkan derajat dan kemuliaan makhluk malang itu. Kemudian dalam bahasa Sunda dengan sebutan anying.

Meski hurufnya sedikit berbeda, tapi tetap saja jika dilontarkan disertai mata melotot lalu hidung mengembang kempis dan muka merah padam, si anying ini menjadi kata hinaan. Sepertinya seiring kebebasan berujar di zaman dewasa ini, hanya micin generation yang berhasil mengubah kata ‘anjing’ menjadi bagian dari pujian, misalnya; “Anjaaaay keren parah dah lu!”.

Saya cukup mengapresiasi generasi saya ini, agaknya memiliki rasa kepedulian terhadap penderitaan yang mendera hewan tak berdosa ini.

Selain itu, kemalangan lainnya juga menimpa para anjing berkebangsaan Indonesia. Jika dibayangkan, mungkin mereka akan memohon untuk lebih baik dilahirkan di negeri-negeri dengan berpenduduk non muslim, lebih memperlakukan mereka sebagai sesama ‘makhluk’ sehingga dilindungi dan dirawat.

Ketimbang di negara mayoritas berpenduduk muslim. Keimanan serta nilai keagamaannya tidak tercerminkan pada perilakunya, hingga berani menyiksa, menganiaya, bahkan membunuh dengan atas nama Tuhan, Nabi dan agama.

Hal tersebut bagi sebagian orang sepele dan tak bernilai untuk diperbincangkan. Namun apa yang saya tuangkan ini, sungguh berangkat dari keresahan pribadi ketika seekor anjing dijadikan simbol penganut agama dan etnis tertentu.

Adik saya sering kali menceletuk tiap kali saya ajak untuk lari pagi mengelilingi Komplek. Ketika itu para anjing di garasi rumah yang kami lewati menggonggong, adik saya dengan saenak e dewe lambe-nya mencibir, “itu pasti rumahnya orang Kristen”, atau “Hih najis.. yang punya pasti Cina tuh, gak bakal salah lagi!”.

Ingin rasanya menyumpal mulut sembarangannya itu, tapi saya pun ragu dan sesekali terpengaruh untuk mengiyakannya juga. Barangkali ada benarnya sang pemilik itu non-muslim, atau beretnis Cina.

Ada suatu fakta, lagi-lagi perihal sentimen agama yang menjangkiti pemikiran masyarakat Indonesia yang notabene beragama muslim, sehingga menggiring kesadaran seseorang untuk memberikan identitas keagamaan terhadap hewan tertentu.

Seperti halnya kambing, sapi, bahkan kucing (diketahui sebagai hewan yang dicintai Nabi Muhammad Saw dan beberapa sahabatnya), seakan memiliki identitas keagamaan tersendiri. Benar adanya Islam mengharamkan umatnya untuk mengonsumsi daging anjing, akan tetapi hal ini tidak lantas menjadi alasan kita untuk membencinya.

Baca juga: Catatan Kaki Keikhlasan

Jika diamati lebih jauh, menurut saya anjing di negeri ini yang tampaknya memiliki kesabaran serta ketabahan yang luar biasa akan hal ini. Sebab bagaimana tidak, namanya selalu disebut-sebut dengan konotasi negatif bahkan menjadi keburukan melebihi hewan yang lebih “Islami” si kambing hitam.

Terkadang namanya pula sering digambarkan sebagai ‘korban’ atas kesalahan ulah manusia. Barangkali kita lupa, bukankah anjing diceritakan dalam al-Qur’an menjadi kawan dari para Ashabul Kahfi? Selain itu bukankah sudah tak asing ditelinga kita kisah tentang pelacur yang husnul Khotimah, lalu mati kehausan akibat memberi minum seekor anjing? Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran hikmah bahwa, anjing merupakan satu dari milyaran ayat-ayat ilahiah semesta dan tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang Tuhan ciptakan hina dan buruk adanya.

Penulis: Giza Gasica S