Harapan Rosa untuk Ayah

256
rosa
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Namaku Rosa, beberapa bulan ke depan umurku 21 tahun. Aku putri sulung dari empat bersaudara, semua adikku adalah perempuan. Kehidupanku biasa saja, tidak ada yang istimewa. Setiap hari aku melakukan tugas-tugas rumah, jika semuanya sudah selesai, aku biasanya memeriksa notifikasi handphoneku, siapa tahu ada sesuatu yang penting, tapi nyatanya tidak ada.

Bermain sosmed adalah salah satu pelarianku dari kejenuhan, karena sekarang aku sedang liburan, dan perkuliahan dimulai bulan depan. Ketika aku scroll up di layar HPku dan melihat postingan teman-temanku yang nampaknya mereka sangat bahagia, terbesit rasa iri di hati, kenapa mereka bisa liburan di masa pandemi ini yang semakin hari kasus COVID-19 semakin bertambah, bahkan kini telah mencapai 1 juta kasus. Tak apa, walaupun aku nggak bisa pergi liburan, setidaknya aku termasuk orang yang peduli, semoga saja pandemi ini segera berakhir.

Baca juga: Kisah Helm Merah Muda Hadiah dari Kamu

Aku hidup di lingkungan keluarga yang patriarki. Ayahku selalu mendambakan kalau ia ingin sekali mempunyai anak laki-laki,  seperti orang yang menyesal. Ketika ayahku bersikap demikian ibuku langsung menegurnya dan bahkan mengomelinya. Ayahku memang tidak bersyukur, padahal anak-anaknya terlahir dengan sehat dan tidak cacat sedikitpun. Aku sudah muak jika ia tiba-tiba mengungkit pernyataan itu.

Pernah suatu hari, ketika salah satu penghuni kontrakan ayahku komplain karena ada atap yang bocor, dan suruhan ayahku sebut saja pak Abeng ternyata tidak amanah, padahal sebelumnya ayahku sudah memberitahukan kepadanya ada atap yang bocor dan harus segera diperbaiki, tapi ternyata ia tidak melakukannya. Akhirnya ayahku kesal dan  ia langsung ngedumel,“coba kalo punya anak laki-laki pasti dia yang bantu ayah buat ngebenerin“. Ibuku langsung menegurnya dan mengomelinya pada saat itu juga dengan nada yang tinggi, “bersyukur, kita dikasih anak perempuan yang semuanya sehat, belum tentu juga anak laki-laki bisa ngebenerin barang”. Mereka pun tak mau kalah dan akhirnya berantem, adu argumen. Itu membuatku sesak. Sebagai anak sulung aku merasa bersalah, karena aku tidak bisa diandalkan untuk mengurus hal-hal itu. Pasti semua anak sulung merasa demikian.

Ketika mereka berantem dan adu argumen dengan nada yang tinggi, ada rasa sakit di hatiku yang tidak bisa aku jelaskan, mungkin ini juga yang dirasakan oleh ibuku. Aku sempat berpikir, bukan kehendakku untuk terlahir seperti ini. Bukankah perempuan dan laki-laki sama-sama bisa diandalkan di setiap bidang jika mereka mampu. Ingin aku berkata hal itu di depan ayahku, tapi aku takut, aku hanya bisa diam. Ini sungguh menyesakkan.

Menurutku, Ibuku adalah seorang feminis  karena dia selalu menasehatiku untuk bisa segala hal dan harus mandiri tidak bergantung kepada suami ketika dewasa nanti. Ia merupakan  role modelku. Ibuku mengajariku untuk bisa menyetir mobil dan motor agar bisa kemana-mana tanpa bergantung kepada suami, dan juga menyuruhku untuk bekerja agar mempunyai penghasilan sendiri.

Aku berharap ayahku sadar dan dapat mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepadanya. Sebagai anak, aku minta maaf karena belum memberikan sesuatu yang terbaik untuk kedua orangtuaku. Aku berusaha untuk membahagiakan kalian dengan caraku, tidak cepat dan butuh proses yang panjang yang melelahkan. Aku teringat perkataan seseorang, jika setiap orang itu punya waktu yang berbeda dalam mendapatkan keberhasilan atau kebahagiaan. Jadi, kalian hanya perlu mendoakanku saja.

Penulis: Shifany Maulida Hijjah
(Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)