DIRIKU YANG LAIN

180
diriku
Photo by Kinga Cichewicz on Unsplash

Perjalan menuju tempat baru, meninggalkan kota Bandung yang dipenuhi kenangan manis. Palingku ingat waktu makan seblak dengan pedas gila, ayah dan ibu hanya tertawa kacil. Satu lagi, saling berbagai dan bercerita saat makan malam bersama. Namun, aku masih malu untuk berinterkasi selain orang yang aku kenal. Aku takut ketika orang menatap, seakan mereka hendak menculikku.

Hijrah ke Surabaya

“Kafa, setelah sampai di Surabaya mau sekolah Negeri atau Swasta?” tanya ayah sembari mengedarai mobil.

“Aku hanya mau sekolah di rumah. Jangan tanya alasannya, karena ayah tidak akan mengerti apa yang Kafa rasakan.” fokusku masih dalam ponsel genggaman dan ibu sudah terlelap di sampingku.

Tidak ada percakapan lagi hingga sampai Surabaya. Kebencianku kahirnya terjadi, tempat dan suasana baru selalu menghantuiku. Setiap orang lalu-lalang menyapa, aku selalu takut. Walaupun mereka menyapa dengan senyuman, tubuhku merespon ada ancaman.

Seketika tubuhku menggigil, tidak lama aku pengelihatanku gelap. Angin mulai masuk melalui pori-pori, bau obat sudah mulai tercium. Disaat membuka mata ibu berada di sebelah kanan sembari memegang tangan kiriku, sedangkan tangan kananku dibalut infus.

Ketakutanku sudah mengalir lama, beberapa kali psikiater menemuiku untuk memberikan terapi, tubuhku merespon memukul dan mengusirnya. Ironis memang, aku hanya memiliki teman bayangan yang datang dimalam hari. Bercerita tentang hujan penuhi ketabahan, pohon memberikan keteduhan, dan pehujung penuhi kehangatan pelukan.

Katakutanku pada Orang Lain

Aku terbangun, mulai merasa panik  melihat kedatangan perawat dan dokter. Tubuhku mulai gemetar lagi, ibu membisikkan pelan, “Ibu ada di sini sayang. Kafa tidak perlu cepas, kalau takut bisa tutup mata saja.”

Menutupi wajahku dengan selimut, menatap wajah mereka seperti membunuh diriku sendiri. Aku tidak terlalu mengerti kenapa bisa jadi begini, semua mengalir hingga semua orang selain keluarga aku anggap ancaman.

“Adik, bagaimana kabarnya?” tanya dokter pelan sembari memegang tanganku.

Saat memegang tanganku, seketika itu juga aku menghempaskannya, “Jangan pegang-pegang tangaku! Kalian jahat! Mendingan pergi saja!” ucapku penuh amarah.

“Kami tidak menyakiti ….”

“Sudah, Dok. Cepat pergi! Aku tau kalau kalian hanya bermuka dua!” tidak ada alasan bagiku memperbolehkan dokter menyentuh seenaknya. Siapapun itu, bahkan keluargaku sendiri yang menyentuh tubuh ini tanpa izin, mereka berhak menerima akibatnya.

“Turuti dulu apa yang dikatakan Kafa, Dok. Memang anakanya begini, jadi kalau mau menyentuh atau mendekati harus minta izin dahulu.” jelas ibu sembari terus memegang tanganku.

Dokter menuruti yang ibu katakan, perawat memberikan resep obat untuk ditebus di bagian farmasi. Dalam beberapa jam sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku mendengar sedikit percakapan ibu dan dokter di depan pintu. Membicarakan tentangku untuk segera dibawa ke psikiater, bukan ke rumah sakit umum.

Aku tidak peduli dengan yang dikatakan, sejatinya aku bodo amat dengan tubuhku. Tiga tahun lalu, tepat umurku dua belas tahun mencoba melukai tubuhku sendiri, pisau di sebelah kue ulang tahun aku coba iris di tanganku sendiri, semua keluarga teriak sedangkan ekspresiku hanya biasa saja. Apa yang aku lakukan bentuk ketidakwajaran mereka.

Tempat Baru dan Teman Baru

Bau kamar baru tercium, sebelumnya beberapa hari menghirup aroma obat di rumah sakit. Di lantai satu mendengar ada saudara Surabaya yang datang, kemarin ibu sempat bilang akan mengajak anaknya seumuranku berkunjung. Ketertarikanku tidak ada, siapapun yang datang menurutku sama saja. Aku hanya memiliki teman khayalan yang aku ciptakan, memiliki dunia sendiri dan bebas melakukan apapun.

Pintu kamar berbunyi, sebelum membuka aku mengintip dari tengah lubang pintu, mataku tertuju dengan anak kecil yang wajahnya mirip dengan teman khayalanku. Aku perlahan mencoba membuka pintu, menarik lengan tagan anak itu masuk ke dalam. mengekspresikan wajah terkejut, anak itu melepaskan tanganku, “Lepaskan dulu! aku bukan hewan ya. Jadi gak usah tarik-tarik begini.”

Aku tak mendengar jelas apa yang dikatakan, pikiranku menyelam kedasar bahagia, “Namaku Kafa, salam kenal.” aku melontarkan senyuman.

“Kamu tidak perlu tau namaku. Jika esok bertemu lagi, aku akan memberitahu namaku.” melihat-lihat ruangan kamarku dipenuhi barang aneh, “Hey! Jangan bengong juga, mendingan kita bermain. Sepertinya barang barangmu di sini mengasikkan.”

“Aku sepakat.” mengambil pisau kecil di atas meja sebelah kiri. Ia juga mebambil pisau disebelah kanannya. Karena aku tau kesukaannya adalah bermain tarung pisau.

Permainan Berujung Petaka

Ia langsung menyerangku dibagian lengan kiri, darah menetes. Aku merasakan kesenangan luar biasa, membelas serangan dengan cepat, ia menghindar lihat sekali. Beberapa kali kita bergantian melancarkan serangan, satu dua kali mengenai tubuh masing-masing, darah mulai menempel dibaju .

Tubuhku lemas, aku harus menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Aku ambil botol dan aku lemparkan, ia menangkis dengan cepat, kesempatanku terbuka lebar dan aku langsung menhujam berutnya.

Ia tergeletak dilumuri darah, pintuku terbuka. Semua yang masuk tidak kuasa melihat kita, seorang yang menangisi kepergiannya akibat tusukanku. Dalam hatiku tertawa, tetapi aku tidak bisa mengekspresikan kebagiaan.

Ibu berlari menujuku, “Kafa! Apa kamu sudah gila?” tanya ibu keras.

Aku terdiam, ibu langsung melayangakan tangannya ke wajahku. Menkmati tamparan ibu, hampir dua puluh kali melayang di pipi kiri dan kanan. Tidak ada kebahagiaan selain bermain bersamanya, ternyata tidak hanya khayalan semata. Aku sudah membuktikan kalau sebenarnya mereka salah, aku tidak gila. Anak itu adalah saksi khayalanku begitu nyata terjadi.

Pukulan keras juga menghujam di belakang kepala, aku terjatuh  keras  terbentur dibagian kepala. Aku ingat senyumnya, penuh dengan kepuasan. Pengelihatanku hitam pekat, pendengaranku tak berfungsu jelas, dan aku sudah tak sadarkan diri.

Semua Hanya Mimpi dan Khayalanku

“Kafa, bangun sayang. Kafa!” ibu menggerakkan badanku.

Aku terbangun, sungguh mimpi yang melalahkan. Sangat nyata hingga aku masih terbawa tiap detik kejadian. Ibu terkejut melihat aku menghembuskan nafas tempo cepat dan tubuhku berkeringat.

“Kafa, kamu kenapa sampai berkeringat?” tanya ibu.

“Biasa, Bu. Kafa mimpi kurang mengenakkan. Walau hanya sebaatas mimpi, rasanya sangat nyata. Apa itu ada maknanya, Bu?”

“Tidak ada sama sekali, yeng terpenting sebelum tidur jangan lupa membaca doa,” ucap ibu tenang.

Aku mengangguk, bangun membersihkan tempat tidur, bersih-bersih diri, dan bersiap untuk menuju sekolah. Menjalani kehidupan biasa seperti anak-anak normal, sebenarnya aku ingin menjalankan dengan nyata mimpiku, tapi lagi-lagi hanya mimpi.

Karya lain Tabularasa, baca Ada yang Datang Tak Diundang.

Penulis: Akbar Trio Mashuri