Di bawah Ridho Abah – Part 1

167
Photo by Rendy Novantino on Unsplash

…..Di bawah Ridho Abah…..

“Dik, aku akan segera melamarmu!” tutur Bang Alwi melalui pesan singkat kepadaku.

Malam itu hatiku berbunga-bunga, riang gembira tak karuan mendengar kabar itu. Ternyata benar bang Alwi menepati janji sebagaimana ia ucap waktu ketika aku boyong dari pesantren.

Kurang lebih enam tahun kita saling mengenal sejak mengabdi di bawah atap yang sama. Aku merupakan perwakilan almamater cabang ketiga, sedangkan Bang Alwi adalah alumnus pusat, pesantren yang saat itu sama-sama kita tempati.

Kala itu aku melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswi jurusan pendidikan Agama Islam sekaligus menjadi pembimbing santriwati yang kerap kali dipanggil ustadzah oleh anak-anak, dan bang Alwi ia kala itu memilih untuk menunda perkuliahan selama satu tahun sebab ia ingin fokus dengan hafalan qur’an. Baru setelahnya ia mengambil jurusan bahasa dan sastra Arab.

Bang Alwi adalah sosok lelaki yang diidolakan banyak santriwati, sikapnya yang lemah lembut, perhatian, dan penyayang, serta kepiawaiannya dalam mendidik menjadikan dirinya banyak dikagumi, termasuk aku.

Tak hanya itu, kecerdasan Bang Alwi menjadikannya terpilih sebagai salah satu staff terbaik pada penganugerahan tenaga pendidik madrasah pesantren dari pusat hingga cabang ketujuh selama dua tahun berturut-turut.

Setelah mengenal Bang Alwi beberapa waktu, aku mulai jatuh hati. Secara diam-diam aku menyembunyikan perasaan itu, tak sanggup rasanya mengutarakan isi hati.

Untuk sekadar menatapnya saja aku takut apalagi sampai berbicara hal yang sejujurnya. seringkali aku memalingkan wajah taat kali bertatap dengannya, sebab khawatir akan menjadi celah jin dan setan yang menimbulkan dosa diantara kita.

Lambat laun perasaan itu kian tumbuh besar. Untuk menyuarakan isi hati, kutumpahkan segalanya dalam buku catatan harian yang tak seorangpun tahu.

Suatu ketika aku dan Bang Alwi tak sengaja saling bertabrakan di depan Gedung Rektorat yang mengakibatkan buku kita berjatuhan. Sebab terburu-buru buku agenda kita tertukar, kebetulan bukunya sama-sama berwarna hitam.

Hal itu baru tersadari ketika aku hendak menuangkan isi hatiku sebagaimana biasanya, tak sengaja pada buku Bang Alwi aku menemukan sebuah nama “Nabila” yang sontak membuatku kegeeran.

Dalam hatiku membatin dan mulai bermunculan pikiran-pikiran aneh “Apa Bang Alwi juga memiliki rasa yang sama?” atau jangan-jangan Bang Alwi sudah ada calon yang kebetulan namanya sama denganku! Rasa itu segera kutepiskan.

Sejak saat itu, nama Bang Alwi menjadi penambah dalam setiap doaku setelah nama kedua orang tua dan para guruku.

Singkat cerita, sampai pada akhir perjalanan masa pendidikan di perguruan tinggi, aku menyelesaikan kuliah dengan baik dan mendapat predikat cumlaude. Dan dari sinilah kisah kita bermula.

Baca juga: Di Ambang

Setelah semua urusan perkuliahan selesai, ayah dan bunda menyambangiku ke pesantren dengan maksud meminta ijin untuk membawaku pulang ke rumah guna membantu kegiatan belajar mengajar di madrasah milik ayah. Sejak hari itu aku berpisah dengan Bang Alwi, seorang ustadz berprestasi yang selalu tersebut namanya dalam doaku.

“Aku pamit bang, jaga diri baik-baik,” ujarku kepada Bang Alwi setelah membereskan barang milikku di kantor madrasah.

Meski hatiku rapuh, aku berusaha tegar menerima semua. Bagaimanapun ayah dan bunda adalah sosok yang tak mungkin aku lupa. Tanpa beliau berdua apalah aku di dunia. Perpisahan itu tak menyurutkan rasa cintaku kepada Bang Alwi.

“Iya dik, percayalah suatu saat nanti aku akan menjemputmu!”

Kala itu aku tak mengerti sama sekali maksud jawaban dari Bang Alwi ketika kisah berpisah. Hingga pada suatu hari ia memberi informasi jika telah menghatamkan hafalan qur’an hingga 30 juz serta akan segera wisuda sarjana.

Subhanallah, hatiku kian gembira mendengar hal itu. Akhirnya apa yang Bang Alwi inginkan mampu ia wujudkan. Keistiqomahannya untuk terlebih dahulu menjadi penghafal qur’an kini menjadi nyata.

Bang Alwi mengundangku untuk dapat hadir di acara wisuda sarjananya, namun sebab kesibukan aktivitas di madrasah yang padat menyebabkan aku gagal berjumpa dengannya.

Satu bulan setelah wisuda sarjana, Bang Alwi sowan ke rumah guna melamar. Kedatangan Bang Alwi tentu disambut dengan senang oleh ayah dan bunda, orang tua mana yang tidak memperbolehkan anaknya dipersunting lelaki idamannya, apalagi seorang hafidz qur’an.

Setelah sesi lamaran, kedua orang tua kami berunding untuk menentukan hari pernikahan. Sengaja tak dibuat jauh agar ikatan cinta kami yang telah terjalin dapat segera disahkan, sebab tak baik jika berlama-lama.

Pernikahan digelar ala kadarnya di kediaman orang tuaku, tak ada pesta mewah sebagaimana pernikahan di kota-kota besar. Hanya sanak keluarga serta kerabat terdekat yang diundang. Kendati demikian masih banyak para tamu yang hadir meski mereka tidak mendapat undangan secara langsung.

Bang Alwi melantunkan Surah Ar Rahman dengan lantunan syahdu dan lembut sebagai mahar nikah yang aku pinta. Aku memilih Surah Ar Rahman sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang beliau berikan atas jawaban dari doa yang selama ini aku agungkan kepada-Nya.

Setiap lantunan ayat suci yang Bang Alwi bacakan menggetarkan hatiku sampai ke lubuk yang paling dalam. Kabut menebal menutupi kelopak mata, berlinang, mengumpal membentuk kristal, hingga tak mampu aku tampung. Isak tangis memecah sunyi siang itu, tak henti mengucap syukur kepada-Nya. Bersambung ……..

Penulis: Disisi Saidi Fatah
(Kaum Muda NU Way Kanan)