Cintailah Cinta : Si Doel Vs. James Bond.

644

Oleh: Hyang Ismalya Mihardja

Si Doel Vs. James Bond.

Sebagai lawyer muda yang bersemangat, pekerjaan membawa saya bertemu banyak orang, bertemu dengan sesama lawyer atau kolega seprofesi lainnya. Suatu hari saya bertemu dengan salah satu sosok yang kualitasnya mirip seperti karakter spy di film aksi Hollywood favorit saya, James Bond. Sosok ini berperawakan tinggi gagah, kulitnya kecokelatan, matanya bening berwarna sephia, suaranya berat mantap, sangat percaya diri, saya tergoda dengan sapaan perdana darinya, “Hey you, I’m James Bond. Please I have to know your name. I find you very attractive, gosh! You’re so sexy just like a coke bottle”. Whaat?! Pasti pada geli ya bacanya, hahaha gue juga.

Gimana tuh rasanya ditegrep langsung kaya gitu, ini zaman lebih dari 1,5 dekade yang lalu ya, jadi belum ada tuh lagunya Agnes Mo ‘coke bottle’, masih zamannya sinetron pernikahan dini kali, ya. Well, James Bond, he got me at his first Hello.

Pada sepenggal kisah itu, si Perawan Judes tertambat perhatiannya kepada sosok James Bond. James Bond adalah senior lawyer dari firma Booz Allen Hamilton yang ditugaskan USAID untuk technical assisting pada divisi khusus Bank Indonesia yang menangani persoalan money laundering.

Singkat cerita, saya lalu lupa sama si Doel, teganya saya bahkan nggak pernah menghiraukan perasaannya, I never gave him a proper closure, makanya kuwalat nih sekarang. Saat itu si Doel jadi patah arang, kemudian dia memutuskan untuk mengambil kesempatan pekerjaan di Kedutaan Besar RI di Kabul, si Doel berangkat berjihad ke benua Asia Selatan, tepatnya negeri di atas langit, Afganistan. Tapi dia bukan Taliban loh, ya. Kami terpisahkan selama ratusan purnama, hampir 7 tahun, sebelum dipertemukan kembali. ciyeee.

Bisakah kita melihat pengalaman dari kisah ini, betapa mengungkapkan apa yang kau rasakan secara langsung kepada seseorang, bisa serta merta meluluhkan hatinya dan mendapatkan perhatiannya. Dalam versi si Doel, sebagaimana kebanyakan kita, dia memendam rasa begitu lama sebelum diungkapkan, terhitung sampai dengan malam ini, berarti kisah terpendam selama 15 tahun. Kalau saja…. ah ya sudahlah.

Tenang guys si Doel dan James Bond sekarang sudah bersahabat kok, aman. Jangan minta diceritain episode serial James Bond loh ya, nanti drama makin panjang udah kaya drakor.

Jodoh Dua Sejoli

Jodoh memang Tuhan yang tentukan, saya percaya itu, tapi percaya atau nggak, dalam kisah saya, kali kedua ini mak comblangnya bukan lagi Branchi, tapi Facebook, hihihi. Thanks to facebook, anyhow mempertemukan kami kembali, terpesona dengan foto dan quotes yang saya posting di status facebook kala itu, si Doel kembali membuka lembaran wajah saya (baca: facebook page). Foto magis yang memanggil si Doel kembali kepada saya adalah foto jepretan abadi dari Fotografer National Geographic Steve Mc Curry dengan judul fotografi “The Afghan Girl”.

Tatapan mata si gadis berkerudung dari Afghan itu menghipnotis si Doel agar bergegas pulang dari Afganistan, kembali kepada si Judes. Seolah-olah si Doel dapet mandat langsung dari Tuhan, jihad menghadapi si Judes lebih berat dari pada mengahadapi perang Taliban, simak kisahnya.

Kisah berlanjut.

Too much love will kill you, if you can’t make up your mind. Kali kedua, si Doel bertemu saya, saya sudah sosok yang berbeda, bukan lagi si Perawan Judes, saya sudah menjelma menjadi perawan separuh malaikat dengan sayap-sayap yang patah, rambut yang rontok, tatap mata yang redup tak lagi menyalak, suara yang datar dan pelan tak lagi layaknya Mata Najwa, lengkap dengan pakaian abaya dan hijab yang tebal melindungi saya dari zalimnya dunia. Setiap hari sepulang kerja, tongkrongan saya hanya di Masjid Agung Sunda Kelapa. Saya dalam masa journey pencarian yang bahkan tak tahu apa yang dicari, tidak pantas rasanya mengucapkan dalam pencarian makna akan Tuhan. Terlalu Maha.

Sejak hari pertama si Doel menemui saya, si Doel sudah bukan anak Betawi yang ragu-ragu, dia sudah tahu apa yang dia inginkan, sejak hari itu dia tak pernah lagi beranjak dari sisi saya. Sejak melek mata di awal hari, sebelum berangkat kerja, si Doel sudah ada, sebelum saya pejamkan mata di akhir hari, si Doel belum juga pulang, asli ini kebenarannya (step 1). Siapakah wanita yang tak luluh hatinya dengan perjuangan macam itu, meskipun kadang-kadang saya tak ajak bicara atau saya tak kunjung berangkat tidur, malah si Doel yang ketiduran duluan di ruang keluarga depan TV. Saya ingat mata si Doel sampai merah karena lelah nongkrongin saya, yang makin malam malah makin seger. Begitu setiap hari sampai hari ijab Kabul, si Doel tak pernah beranjak pergi.

Barangkali karena sering mengalami situasi hidup dan mati di negeri para Taliban, si Doel memaknai waktu seolah-olah tak akan ada lagi kesempatan lain. Tak perlu waktu lama untuk memantapkan hati, si Doel langsung melancarkan jurus adat Betawi asli, ia bicara hati ke hati kepada Ibu saya (step 2).

Kira-kira begini dua sekutu itu bicara,

Doel “Bu, Hyang udah ada pacarnya belum?”

Ibu “Pacar sih gak ada, Hyang sudah gak boleh pacaran lagi. Tapi yang melamar sudah 5 orang, kenapa tanya?”

see, jawaban politikus ulung. Membuat naluri sang kandidat makin kompetitif,

Si Doel semakin semangat ngeronda di rumah saya.

Doel “Bu, saya mau lamar Hyang”.

Ibu “Ya lihat aja nanti, ya. Ngomong dulu sama Ayahnya, trus tanya sama anaknya”

Berlanjut bicara menghadap Ayahku, Kekasihku (step 3). Katanya sih pada step 3 ini terbuka asal-usul bahwa si Doel dan Ibuku berasal dari Nenek Moyang yang sama, makin bersekutu lah mereka, kan. Semua step tersebut dijalani si Doel sendirian, tanpa back-ing-an.

Ibuku yang menyampaikan niat si Doel kepada saya. Meskipun sudah separoh tobat, kesombongan si judes ini masih juga tersisa, saya bertikai sama Ibu membantah semua dalil dia, saya memberikan syarat yang panjang dan berat, untuk disampaikan ke si Doel, dan semua si Doel jawab “iya”.

Kali kedua si Doel datang, saya dalam titik terlemah dalam journey saya. Si Judes dengan sayap patah, sudah terpojok, kalah telak. Tak ada satu ayat-ayat cinta pun, yang tidak menjerat hatinya, justru semakin menguatkan posisi si Doel, calon mempelai usungan jagoan Ibuku si Politikus Ulung. Kualitas yang dikampanyekan Ibuku dari si Doel adalah ‘Si Doel anak saleh, idaman mertua, ahlussunah keras”. Akhirnya saya tembak aja si Doel, kalo serius mau nikah, dua bulan depan sanggup, nggak? Saya minta a, b, c, d, e,…..z, semuanya juga si Doel jawab, “Iya, Insyaallah bisa”.

Gimana coba mencari gedung resepsi dalam waktu sekejap? Secara ajaib, pernikahan kami mendapat gedung resepsi di suatu tempat di bilangan Taman Ria Senayan.  Menarik how determined he was, semakin terbukti memang seolah dunia ini milik laki-laki, this is man’s world.

Kemudian si Roro Jongrang sudah nggak ada peluru lagi, sudah terperangkap oleh cinta dan strategi dua sekutu politikus itu. Dengan gaya tetap sok jual mahal, si Judes santai saja, si Doel semua yang kerjakan persiapan. Sebenarnya jual mahal pura-pura saja, padahal aslinya saya sangat terharu dengan usaha si Doel, dia hampir nggak pernah tidur selama dua bulan persiapan. Kala itu, saya merasa istimewa, tak ada seorang pun yang memperjuangkan cinta saya seperti si Doel ini. Semua pihak bersorak soray, si Doel pemenangnya, akhirnya si Judes married juga.

Hari Penuh Cinta

Rakyat sekampung turun tangan, pasukan ibuku bergembira ria, semua anak-anak asuh dari gang 1 sampai gang 17 ikut sibuk. Para nenek dan janda tua, turun ke dapur, sahabat dan kerabat dari gang becek sampai real estate hadir. Pernikahan paling ciamik di kala itu, lengkap dengan hantaran super jumbo sepasang roti buaya, mempelai pria diarak dan diiringi riuhnya letusan petasan dan rombongan marawis, tak ketinggalan ketupat sayur godog disajikan hangat, epic ala akad nikah adat Betawi. Bukan pernikahan yang pernah saya bayangkan, tapi ini lebih semarak dan bernuansa kemenangan. Ibuku tersenyum lebar bahagia, Ayahku menangis haru bahagia, saya pun tersanjung berbahagia.

Jangan salah ya, saya gak selalu jadi karakter antagonis, kok. Saya balas mencintai si Doel beyond love story ala Hollywood, apalagi Drakor. Saya belajar mencintai dengan tulus dari si Doel anak Betawi asli.

Tentang journey saya, pencarian saya tak akan pernah sempurna tanpa ada si Doel. Dialah yang mengajarkan saya mengenal indahnya kasih sayang dan tauladan Baginda Rasulullah SAW, The Prophet, sang kekasih Tuhan.

Tanpa si Doel bisa jadi saya tidak akan pernah mengerti apalagi mengalami makna nya ‘berserah diri’ suatu rasa percaya yang hakiki dari seorang hamba. Si Doel adalah hadiah dari Tuhan untuk melengkapi hidup saya, untuk melindungi saya.

Saya tak mengenal seorang pun yang hatinya setulus si Doel, di mata saya si Doel adalah my savior, my angel. Si Doel anak Betawi asli yang selalu tersenyum dan selalu rendah hati mengajarkan saya untuk mencintai cinta itu sendiri. Cintailah Cinta.