Ayahku Kekasihku

864
Ilustrasi/Photo by Vishnu Nishad on Unsplash

Oleh: Hyang Ismalya Mihardja

Beberapa waktu lalu adalah hari Ayah bagi semua orang, termasuk aku. Nah, untuk memperingati hari itu, sekaligus menjawab writing challenge dari mentorku Kristin Samah, aku ingin menulis tentang Ayahku. Beginilah Aku mengingat Ayah…

Juli adalah bulan yang special, aku dilahirkan di bulan ini. Aku anak kedua ayahku; kakakku perempuan, adik bungsuku laki-laki. Dari cerita yang aku dengar, kelahiranku tidak ditunggui Ayah,karena dia sudah tahu anak yang akan lahir perempuan lagi; sedangkan ia sangat mengharapkan seorang anak laki-laki.

But, I’m a daddy’s little girl. Hubunganku dengan ayah sangat istimewa. Saat kecil sebelum usia 5 tahun, aku pernah menderita sakit parah, tidak ada dokter yang tahu aku sakit apa, seperti dalam keadaan koma, aku sangat lemah, hanya seperti tidur tak sadarkan diri. Kebetulan kala itu Ayah menerima warisan dari leluhurnya berupa sejumlah pusaka dari Sumedang Larang. Ayah tidak tahu apakah ada hubungannya, namun Ayah rela melepas semua warisan tersebut dengan memberikannya kepada yang lebih menginginkan. Kala itu, ayah hanya menyimpan sebilah pedang untuk kenang-kenangan. Samar-samar aku ingat saat Ayah memelukku dalam pangkuannya setengah sadarkan diri, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia berserah diri kepada-Nya untuk hidup atau mati yang Tuhan tetapkan untuk gadis kecilnya. Dalam doanya ia berharap kehidupan, sekaligus merelakan kepergian.

Kemudian aku hidup kembali (yeay…!).

Ayahku Bosku

Ayah mengajariku untuk menjadi perempuan mandiri sedari kecil. Sejak masa sekolah, ayah kerap kali menunggui aku belajar sampai pukul 2 pagi, biasanya sambil nonton TV siaran sepak bola. Dia tak berbicara sepatah kata pun padaku, hanya duduk. Begitu aku tutup buku, barulah ia masuk kamar untuk istirahat. Di waktu luang, aku selalu ‘dipekerjakan’ oleh Ayah, misalnya saat ia memperbaiki genteng yang bocor, aku harus pegangin tangga untuk dia naik ke atap, saat dia ngecat ulang dinding rumah kami sampai membersihkan tampungan air di hari libur, aku adalah keneknya Ayah (iya hehe, aku pengalaman banget deh urusan pertukangan). Pernah satu kali aku disuruh bawa sound system-music player kesayangannya yang harus diperbaiki ke tukang service yang kira-kira letaknya hampir 1 KM dari rumah kami, jadilah aku si gadis kecil gotong-gotong sound system Harman Kardon kesayangannya itu sambil dilihatin semua orang, terasa beraaaatt banget, tanganku sampai gemeteran menahannya. Pernah juga gotong jemuran besi untuk diperbaiki di tukang las, sungguh tak terlupakan. Ayah sangat telaten, tidak ada barang yang ayah buang selagi bisa diperbaiki.

Sambil bekerja, ayah sering berpesan, aku ingat yang dia katakan, “Saat Hyang dewasa nanti, perempuan sudah tidak cukup lagi urusin rumah tangga saja, harus bisa kerja, Ayah pingin kamu jadi perempuan salehah yang mengendarai mobil mewah, tapi juga bisa urus rumah.” Dahulu aku tidak mengerti maksudnya itu, sampai aku cukup dewasa untuk memahaminya.

Ayah galak tapi romantis, nggak pernah saya kenal orang lain yang segalak Ayah, orangnya nggak banyak omong, tapi ayah selalu mencatat kesalahan yang aku lakukan, untuk diperbaiki. Tiap kali daftar dosaku sudah full, aku keringetan dingin sebab saat itu akan terasa sangat menegangkan . Tetapi aku tahu dia hanya ingin yang terbaik untukku,  dia ingin aku menjadi sempurna versi dia. Di dalam jiwanya, ayah adalah seorang yang lembut, terbukti dengan koleksi surat-suratnya untuk Ibuku yang bertumpuk, kalau dibaca lagi bagaikan membaca tulisan seorang pujangga, jangankan untuk calon isterinya, untuk Ibunya, Adiknya dan kakak perempuannya pun ayah romantis. Dia bisa loh sekadar menanyakan kabar tapi dengan bahasa yang indah, untuk saudarinya ia menulis surat dalam bahasa sastra Sunda yang sangat halus.

Menginjak usia remaja menjelang dewasa, aku dimusuhi Ayahku. Ayah bagaikan kekasihku yang selalu marah dan selalu cemburu, aku ingat beliau suka banting-banting gayung dan tutup panci di dapur (brak….bruk…klontang….klonteng), seperti nggak rela tiap kali aku ditelpon ‘teman dekat’ zaman sekolah dulu. Saat aku dikunjungi ‘teman dekat’ pun dia bergeming tetap duduk di singgasananya, persis di depan kita, kebayang kan kikuknya dan bikin orang nggak betah. Ayah punya kursi yang tidak boleh diduduki oleh siapapun. Ayah selalu duduk di kursi itu. Pernah juga lama aku dicuekin ayah karena dia tak piawai mengungkapkan perasaannya dalam ucapan, jadi saya diambekin ayah, didiemin. Namun, Ayah pernah mengukir namaku dengan tulisan tangan yang besar bak karya lukisan di dinding pojok teras rumah, H Y A N G. Terukir indah sekali, itulah bahasa cinta Ayah.

Ayahku Inspirasiku

I took a nap sometime in the weekend, kalo dianggap udah kelamaan tidur, ayah langsung mainkan musik, biasanya Guns n Roses atau Metallica, yang bikin saya mendadak sontak bangun sambil kliyengan, gimana nggak, lagi asik mimpi tiba-tiba diteriakin sama Axl Rose “Welcome To The Junggle…” eh…kacau ya si Bokap. Bahkan untuk memanggilku pulang dari main di rumah tetangga pun, Ayah setel musik keras-keras, lagu dari penyanyi kesukaanku, Mariah Carey. In a way, komunikasi kita lewat musik. Saban hari aku diempanin musik macam itu sama Ayah, tiada hari absen, apalagi ketika Ramadan, tepatnya menjelang buka puasa, sudah pasti musik berkumandang keras sampai sebelum Azan Magrib tiba.

Selera musikku banyak dipengaruhi selera ayah, sederetan musisi Rock dan Balada berbunyi riuh di masa kecilku, katakan saja, Deep Purple, The Beatles, Metallica, Led Zeppelin, Genesis, STING, Guns N Roses; kalo versi Indonesia ayah suka mainkan Koes Ploes dan Iwan Fals. Yang menarik dalam satu sisi perjalanan hidupku, ada masa ketika aku berkarya lewat musik, ajaibnya, aku punya kenangan riil dengan sederetan nama musisi di atas, bahkan bertemu langsung. Salah satu yg tak terlupakan, beberapa tahun yang lalu aku bertemu langsung dengan Axl Rose, rasanya seperti mimpi, saat itu Ayahku sudah sakit stroke, dia hanya berbaring. Aku sampaikan padanya, “Ayah, Iyang sudah ketemu Axl Rose secara langsung, Iyang sampaikan pada Axl bahwa Ayahku yang memperkenalkan musik GNR padaku sejak aku gadis kecil”. Ayah tersenyum, air matanya menetes tipis di sudut mata.

Aku bercerita padanya, “Ayah, Iwan Fals mengenal aku. Ia ingat namaku, bahkan ia pernah minta pendapatku untuk lagu apa saja yang akan dimainkan saat Konser nanti. Kami pernah makan satu meja dengan lauk yang dimasak dari petikan kebun rumahnya di Cimanggis. Ayah, Iwan Fals tertawa akan candaku mendengarkan pendapatku untuk menggubah musiknya, bahkan dia mau repot latihan lagi memainkan lagu “Ethiopia”, lagu yang sudah puluhan tahun tak pernah dimainkannya, demi permintaanku, karena ingat Ayah”. kami pun tertawa sambil menangis, dan aku tertidur di samping ayahku, sambil memeluknya yang sudah dalam keadaan semakin lemah.

Background sekolahku memang Sarjana Hukum, tapi somehow, ada satu fase dalam hidupku, aku seperti hidup di dalam ruang kehidupan, kecintaan Ayahku. Bisa dibilang aku ini part time Lawyer but full time music lover. Sampai sekarang, aku mempertahankan genk pertemanan yang selalu bergairah untuk berkarya lewat musik, beberapa waktu lalu nyaris saja kami menggelar konser salah satu musisi living legend Dunia, kesukaan Ayah, semoga saja bisa terjadi nanti, satu persembahan cintaku untuk Ayah. Bersentuhan dengan musik selalu membuat jiwaku bergelora.

Ayahku Kekasihku

Saat menikahkan aku, air mata ayah terus mengalir tak terhentikan, sampai-sampai dia tidak mampu untuk berdiri bersamaku di pelaminan saat resepsi. Tak lama setelah aku menikah, ayah semakin lemah, beliau terkena stroke di pangkal lidahnya, ayah semakin sulit bicara. Tiap kali aku pulang ke rumah ayah untuk menjenguknya, ayah sudah menunggu di teras rumah untuk menantikan aku datang, kemudian saat melihat aku masuk pagar, seketika air matanya menetes, Ayah menangis. Ayah selalu menangis setiap kali melihatku, selama hampir 2 tahun, ia dalam keadaan lemah. Sampai saat ini, masih misteri bagiku, apa yang membuat ayah menangis tiap kali menatapku kala itu.

Masih lekat dalam ingatanku, saat mengalami cobaan yang berat dalam kisahku, saat itu aku masih gadis, momen seperti ini jarang terjadi bahkan bisa dibilang tidak pernah, kala itu ayah datang kepadaku, masuk ke dalam kamar, menghampiri ranjang tempat aku bersimpuh, aku tengah menangis kala itu, lalu Ayah menyentuh kakiku, membelainya, ia katakan dengan suara lembut,

“Anakku sayang, hidup di dunia ini hanya sementara, hanya sebentar saja…sabar sayang, Ayah percaya anak ayah kuat, mampu bersabar, sungguh tiada lain yang kita cari selain rido Tuhan.”

Kata-katanya itu masih terngiang, dan selalu memberi kekuatan, setiap kali aku membutuhkan alasan untuk bersabar lagi.

Surat Cinta Ayah

Ayah tutup usia pada Oktober 2014, namun secara mengejutkan kami menemukan surat dari ayah bulan September tahun lalu, 2019, pada surat itu tertanggal Sabtu, 10 September 2005. Ibu yang menemukan surat itu terselip di dalam buku-buku lama, artinya surat itu tersimpan selama 14 tahun sebelum ditemukan. Surat itu berjudul UNTUK PUTRA PUTRIKU berisi pesan-pesan kehidupan dan Ayah tuliskan minta dimaafkan atas segala kekecewaan, surat ayah diakhiri dengan kalimat, “Ayah selalu mencintaimu semua”, sungguh kata-kata yang tidak pernah keluar langsung dari ucapan Ayah.

Mengalami era corona sesuatu yang tak pernah terbayangkan bukan, sepatutnya kita mengenang orang yang kita cintai dan mencintai kita, begitupun aku. Ayahku bukan orang yang sempurna, tapi aku tahu, tak ada manusia di bumi ini yang berdoa untukku setulus Ayahku.