PBNU Desak Afghanistan Perhatikan Hak Pendidikan Anak Perempuan

382
Afghanistan
foreignpolicy.com

Pemerintah Taliban mengurungkan keputusan membolehkan anak perempuan kembali ke bangku sekolah menengah yang semestinya sekolah di seluruh Afghanistan dibuka hari Rabu (23/03/2022) menyusul penerapaan pembatasan yang dikeluarkan Taliban sejak kelompok ini mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.

Saat Taliban berkuasa pada 1990-an, anak-anak perempuan sama sekali dilarang mendapatkan pendidikan. Dan sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, hanya anak perempuan usia sekolah dasar yang boleh mengenyam pendidikan formal sementara itu anak laki-laki tetap boleh bersekolah di hampir semua wilayah Afghanistan.

Penutupan Sekolah Bagi Anak Perempuan

Pada Selasa (22/3/2022) malam, juru bicara Kementerian Pendidikan merilis video ucapan selamat kepada semua siswa atas kembalinya mereka ke kelas. Namun pada Rabu kemarin, Kementerian Pendidikan mengatakan sekolah untuk anak perempuan akan ditutup sampai ada rencana yang disusun sesuai dengan hukum Islam dan budaya Afghanistan.

“Kami memberi tahu semua sekolah menengah perempuan dan sekolah-sekolah yang memiliki siswa perempuan di atas kelas enam bahwa, mereka libur sampai pemberitahuan berikutnya,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Afghanistan dikutip dari laman BBC News.

Keputusan itu dikeluarkan sepekan setelah Kementerian Pendidikan Afghanistan mengatakan semua murid, termasuk siswa perempuan, akan kembali bersekolah mulai Rabu (23/03).

Pernyataan kementerian menyebutkan, semua siswi sekolah menengah dan sekolah-sekolah yang punya siswa perempuan di atas kelas enam masih akan tetap libur sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Baca juga: Huda Syarawi, Reformis Hak Perempuan Mesir

Menunggu Keputusan Lanjut

Ditambahkan, sekolah untuk anak-anak perempuan akan dibuka kembali begitu ada keputusan terkait seragam sekolah yang sesuai dengan hukum Islam dan tradisi Afghanistan. Kekecewaan tak hanya dialami oleh murid-murid perempuan, tetapi juga para orang tua dan sejumlah tokoh.

Merespon hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyerukan dan mendesak Pemerintah Afghanistan agar memperhatikan kembali hak pendidikan anak-anak perempuan di Afghanistan.

“Kepada Pemerintah Afghanistan mohon, mohon berikanlah pendidikan yang terbaik untuk anak-anak perempuan Anda,” pinta Gus Yahya dalam acara Pengukuhan Lembaga dan Badan Khusus PBNU dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU di Aula Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Cipakat, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Gus Yahya menyebut tidak jelas alasan murid perempuan dikeluarkan dari sekolah. “Hari ini kita mendengar kabar bahwa anak-anak perempuan Afghanistan dipulangkan dari sekolahnya.

Murid di atas usia 12 tahun dipulangkan dan tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolah dalam waktu yang belum ditentukan,” kata Gus Yahya, Kamis (24/3/2022) malam.

Gus Yahya kemudian mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Afghanistan yang memicu kebingungan itu.

“Tidak tahu gagasan yang berwenang di Afghanistan saat ini seperti apa. Apakah mereka ingin bangun satu sistem pendidikan yang khusus untuk perempuan atau bagaimana,” ucap Gus Yahya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang itu lantas mencontoh kerja PBNU yang telah melakukan banyak hal karena punya perempuan yang unggul kualitasnya.

Ia menyebut dua tokoh perempuan yang kini menjadi Ketua PBNU Khofifah Indar Parawansa dan Alissa Qotrunnada Wahid atau yang akrab disapa Alissa Wahid.

Oleh karena itu, Gus Yahya menyampaikan peran penting pendidikan bagi anak-anak perempuan. Pasalnya hal itu dinilai dapat menentukan gambaran generasi yang akan datang.

“Please give your daughters the best education you can provide because they all the ones who will determine the picture of your next generation,” tegasnya.

Penulis: Suci Amaliyah