Orasi Ilmiah, Dirjen Pendis Gulirkan Konsep Pendidikan Islam

280
Pendidikan Islam
Istimewa

Pendidikan adalah proses transformasi pengetahuan atau transformasi nilai untuk menambah nilai bagi manusia dan kemanusiaan. Berkaitan dengan itu, Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, memperkenalkan lima konsep ke dalam proses pendidikan Islam. Ini diringkas dalam istilah IHSAN.

Konsep tersebut disampaikan Ramdhani saat menyampaikan orasi ilmiah pada kegiatan wisuda Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) ke XXV bertajuk “Orientasi Baru Perguruan Tinggi di Era Metaverse”.

Pilar Pendidikan Islam

Ramdhani menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dengan membekali lima pilar yang harus dimiliki seorang alumni atau sarjana. Menurutnya, kata IHSAN merupakan akronim dari Integritas, Humanisme, Spritualitas, Adaptability, Nationality.

Pertama, Integritas. Ramdhani mengatakan, Pendidikan Islam harus mampu melahirkan alumni perguruan tinggi yang memiliki integritas.

“Proses pengajaran dalam pendidikan Islam, tidak hanya sebatas transformasi keilmuan atau mengajarkan learning knowlagde learning to do, akan tetapi seorang sarjana harus memahami betul tentang eksistensi dia sebagai manusia dengan integritas yang baik, serta pemahaman yang baik tentang makna kejujuran dalam kehidupannya,” terangnya.

“Nila yang tidak bisa dipertukarkan dengan apapun adalah nama baik, yang terekspresi dalam nilai-nilai kesalehan sosial. Yakni alumni yang selalu tampil jujur, disiplin dan tahan banting, serta mampu menyapa masyarakat dengan baik,” lanjutnya.

Ramdhani menjelaskan, pilar kedua yang harus dimiliki seorang sarjana adalah humanisme atau pembangunan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, wisudawan harus mampu menjadi penanda sejarah sekaligus memiliki kecerdasan kultural yang sangat diperlukan bagi masyarakat terpelajar.

Baca juga: Tantangan dan Prospek Bahasa Arab di Dunia Kerja

Menggapai Nilai Spiritualitas

“Pilar ketiga adalah spiritualitas, dan nilai-nilai spiritual mengajarkan bahwa setiap orang berhak atas karunia dan inayah dari-Nya,” jelasnya.

Menurut Ramdhani, spiritualitas dapat diungkapkan dengan rasa syukur karena telah melalui tahapan untuk mendapatkan gelar sarjana. Hal ini ditegaskan karena tidak semua orang berkesempatan menjadi sarjana.

Selain itu, pilar yang harus dimiliki seorang sarjana adalah adaptability atau kemampuan manusia untuk berinteraksi dan menyelaraskan diri dengan lingkungan strategis di sekitarnya tanpa kehilangan jati dirinya.

Dan pilar yang terakhir adalah nationality, yakni seorang alumni harus mengajarkan kecintaan pada tanah air. Proses pendidikan tinggi harus mengajarkan kecintaan pada tanah air. Itu adalah bagian dari batang tubuh seorang manusia dan lembaganya.

Terakhir, Ramdhani juga menekankan kepada para alumni untuk tak henti belajar. Menurutnya, orang yang terus belajar adalah pemilik peradaban masa depan.

“Eksistensi belajar adalah eksistensi kehidupan, berhentinya belajar adalah berhentinya kehidupan. Orang terpelajar adalah pemilik masa lalu, sedangkan orang yang terus belajar yang akan menjadi pemilik masa depan,” pungkasnya.