Mengintip Perkembangan ‘Wisata Halal’ di Indonesia

277
Foto: Humas Kementerian Pariwisata

Indonesia pada 2019 pernah menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index). Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia.

Seperti dilansir dari situs resmi Kominfo, Pengembangan pariwisata halal Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia.

Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman adalah wisatawan muslim dari konsep pengembangan pariwisata halal di Indonesia.

Konsep pengembangan pariwisata halal Indonesia sendiri merupakan konsep wisata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan pengalaman wisata muslim. Konsep itu di antaranya: layanan makanan dan minuman halal, fasilitas ibadah berkualitas, toilet bersih dengan air memadai, bebas dari islamophobia, memberi nilai manfaat sosial, program ramadan, pengalaman unik bagi wisatawan muslim, bebas dari aktivitas non halal, penyediaan area rekreasi dengan privasi.

Rangking Indonesia

Dilansir dari situs Kompas (15/07/2021), Indonesia berada di posisi keempat dalam daftar 20 destinasi wisata halal terbaik dunia 2021 berdasarkan Global Travel Muslim Index (GMTI) 2021 dengan skor 73.

Sebelumnya di tahun 2019, Indonesia meraih posisi pertama bersama Malaysia dengan skor imbang, yakni 78. Adapun Malaysia masih di posisi pertama tahun ini, disusul oleh Turki di posisi kedua, Arab Saudi di posisi ketiga, dan Uni Emirat Arab (UEA) di posisi kelima.

Versi GMTI Berdasarkan laporan GMTI 2021, peringkat tersebut berdasarkan beberapa faktor, di antaranya fasilitas dan layanan yang ramah wisatawan Muslim.

Tidak hanya itu, Indonesia meraih posisi kedua dalam kategori Komunikasi versi GMTI 2021. Dalam kategori ini, penilaian berdasarkan bagaimana pelaku usaha pariwisata mempromosikan layanan mereka guna memudahkan para wisatawan, misalnya dengan merilis panduan restoran halal atau panduan untuk wisatawan Muslim. GMTI 2021 juga memosisikan Indonesia sebagai destinasi nomor tiga dalam kategori Pelayanan.

Penilaian berdasarkan bagaimana sebuah destinasi menawarkan pengalaman yang baik untuk wisatawan Muslim, termasuk di bandara, restoran, dan hotel. GMTI 2021 merupakan laporan riset pasar perjalanan Muslim yang diluncurkan oleh Mastercard dan CrescentRating. Tahun 2021 merupakan tahun keenam mereka meluncurkan laporan riset tersebut.

Pasca Puncak Pandemi Covid-19

Pada pertengahan tahun 2020 hingga awal 2022 Indonesia dilanda puncak pandemi Covid-19. Sektor pariwisata pun Indonesia sangat terdampak akibat pembatasan sosial dan perjalanan dalam rangka penanggulangan penyebaran virus yang berbahaya itu.

Namun, belakangan ini angka penularan Covid-19 sudah berangsur menurun, sehingga sektor pariwisata mulai digenjot lagi oleh Pemerintah Indonesia.

Dalam konteks ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menawarkan tiga konsep perluasan layanan wisata halal yang berfokus pada extension of service (perluasan layanan), yaitu (1) need to have atau must have, (2) good to have, dan (3) nice to have.

Dilansir dari Antara pada Sabtu (2/4/2022), ketiga konsep tersebut memiliki arti masing-masing. Need to have artinya sebuah destinasi mempunyai fasilitas tempat ibadah yang layak, hingga makanan yang halal.

Lalu, good to have memiliki tujuan agar wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan serta berbeda. Sedangkan, nice to have adalah wisata halal di Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain.

Sandiaga menjelasan bahwa wisata halal adalah tambahan layanan atau extended services. Ada tiga kategori layanan yang pertama harus ada adalah makanan halal, tempat ibadah, water friendly washroom, dan no Islamphobia. Kemudian, good to have dan nice to have.

Menurut Sandiaga, konsep tersebut dijabarkan pada lima komponen penting pariwisata, seperti hotel halal, transportasi halal, makanan halal, paket tur halal, dan keuangan halal. Apalagi faktanya, wisata halal juga telah menarik devisa dari wisatawan muslim dengan optimal. (MZN)