Fakta Unik Jakabaring Sport City, Lokasi Harlah NU di Palembang

529
Harlah NU Palembang
https://southsumatratourism.com/

Perhelatan hari lahir (Harlah) ke-96 Nahdlatul Ulama bertema Merawat Jagat Membangun Peradaban, Lestari Alamnya Sejahtera Petaninya akan dilaksanakan di Palembang dan Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan pada 3-5 Maret 2022 mendatang.

Kenapa Palembang?

Lokasi ini dipilih karena Palembang merupakan saksi sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang memiliki peradaban berskala Nusantara dan paling tua tercatat dalam sejarah.

Harapan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, peradaban Kerajaan Sriwijaya menjadi ikon untuk mewujudkan peradaban sebagaimana yang dicita-citakan NU.

“Referensi model di masa lalu sangat dibutuhkan supaya tahu bagaimana road map, strategi yang harus ditempuh untuk bisa mencapai titik masa depan yang NU cita-citakan.

Itu sebabnya, sesudah Labuan Bajo, NU akan bergerak ke Palembang dan Muara Enim di Sumatra Selatan,” terang Gus Yahya beberapa waktu lalu.

Baca juga: Internasionalisasi NU dan Potensi Santri di Era Gus Yahya

Prasasti Sriwijaya

Dilansir dari laman resmi Palembang.go.id, Palembang yang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1340 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Menurut Prasasti yang berangkat tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air.

Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990).

Sejarah Palembang dan Fakta Jakabaring Sport City

Kondisi inilah yang membuat nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Salah satu lokasi harlah NU di Palembang akan dipusatkan di kawasan Jakabaring Sport City (JSC). Dilansir dari laman jakabaringsportcity.id, ia merupakan suatu kawasan olahraga yang modern bertaraf internasional serta berkarakter “smart” dan “green”.

Pembangunan kawasan Jakabaring Sport City (JSC) dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dimulai tahun 2001 dan berlanjut pada pelaksanaan PON tahun 2004 serta terus dikembangkan hingga pelaksanaan Sea Games tahun 2011, dan hingga Asian Games 2018.

Tak hanya olahraga, Kawasan Jakabaring Sport City, sering dikunjungi oleh wisatawan baik lokal ataupun dari luar daerah pada hari-hari biasa, tidak terpaut hanya pada saat ada pertandingan sepakbola atau event tertentu saja.

Umumnya, mereka ingin bertamasya bersama dengan keluarga ataupun teman di beberapa taman indah yang ada di lokasi wisata ini. Selain itu, ada juga sebagian dari mereka yang memanfaatkan lokasi ini untuk berolahraga seperti jogging, jalan santai, dan lain-lain.

Spot Unik Penarik Perhatian

Ada beberapa titik atau spot yang cantik untuk didatangi pengunjung. Entah hanya sekedar untuk berselfie ria maupun duduk santai bersama saudara maupun sahabat.

Pertama, Stadion Gelora Sriwijaya. Begitu memasuki pintu gerbang Jakabaring Sport City akan disambut dengan kemegahan stadion kebanggaan “wong kito” yaitu Gelora Sriwijaya.

Stadion Gelora Sriwijaya yang cukup luas ini memiliki halaman depan yang terawat dan tertata begitu sedap dipandang mata. Banyak pengunjung yang datang untuk bersantai jogging , dan berselfie di area sekitar depan Stadion.

Kedua, Jakabaring Lake. Salah satu kawasan venue yang memegang peranan penting di Palembang adalah Danau Jakabaring. Danau Jakabaring sejatinya adalah danau buatan yang sengaja dibuat untuk tujuan multifungsi.

Air di Danau Jakabaring terlihat jernih sehingga warna danau ini menjadi biru terang saat sedang tersengat panasnya Matahari. Mulai dari orangtua, remaja, dan juga anak-anak sangat senang duduk santai di tepi danau untuk menikmati keindahan pemandangan danau yang cukup luas.

Memiliki Standar Internasional

Danau ini pun sudah sesuai standar untuk venue olahraga dayung di level internasional, jika sedang beruntung, Anda dapat melihat beberapa atlit cabang olahraga dayung sedang berlatih di danau ini.

Ketiga, Rumah Ibadah. Selain dijadikan tempat beribadah, pengunjung juga bisa menikmati kemegahan dan keunikan dari rumah ibadah.Karena ada salah satu rumah ibadah yang konsep pembuatannya diambil langsung nuansa Bali yaitu Pura.

Keempat, Love Bridge. Jembatan Cinta yang berlokasi di sebelah Jembatan Sayur ini merupakan jembatan lama yang dimodifikasi.

Karena bentuknya yang menarik, area ini sering dijadikan spot foto bagi para pengunjung di dalam kawasan Jakabaring Sport City. Jembatan cinta, menjadi salah satu area favorit pengunjung untuk ber-swa foto mengabadikan cinta bersama pasangan, sahabat, dan keluarga.

Makna Filosofis Lokasi Harlah NU

Sebagai informasi, peringatan harlah ke-96 NU yang jatuh pada 31 Januari 2022 ini dilaksanakan di empat provinsi yang berbeda, yaitu di Balikpapan atau Samarinda di Kalimantan Timur, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT), Bangkalan di Jawa Timur, Palembang dan Muara Enim di Sumatra Selatan.

Dipilihnya keempat lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Tetapi, ada makna-makna filosofis tersendiri yang menjadi modal dasar NU dalam membangun peradaban sesuai dengan tema besar Harlah yaitu Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

“Empat tempat ini dipilih sebagai titik rangkaian kegiatan harlah karena mewakili modal-modal dasar yang diperlukan oleh NU untuk memulai beranjak dalam perjuangan membangun peradaban,” terang Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam rangkaian Harlah ke-96 NU di Hotel Meruora Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT, Sabtu (5/2/2022).

Penulis: Suci Amaliyah
Editor: Wachid Ervanto