Logo Halal Baru: Filosofi, Arti dan Respon Pengusaha

220
Logo Halal
Suara.com

Kementerian Agama melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah menetapkan logo halal baru yang berlaku secara nasional. Hal itu berdasarkan Keputusan Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal.

Terbitnya putusan tersebut merupakan pelaksanaan dari amanat Pasal 37 UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Perubahan logo ini sekaligus menandai perpindahan kewenangan pengeluaran sertifikasi halal dari MUI ke BPJPH.

Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham mengatakan, kebijakan penyesuaian tersebut merupakan salah satu bentuk kemudahan dari pemerintah untuk pelaku usaha dalam masa transisi pelaksanaan sertifikasi halal dari yang sebelumnya bersifat sukarela menjadi wajib.

“Pemerintah tentu memahami kondisi di lapangan. Banyak pelaku usaha telah memproduksi kemasan produk dengan label halal MUI. Oleh sebab itu bagi pelaku usaha yang akan memproduksi kemasan produk untuk stok baru silakan itu digunakan sesuai ketentuan,” kata Irham di Jakarta, Senin (14/3/2022).

Respon Pengusaha di Bekasi terkait logo halal baru

Pelaku UMKM yang bergerak di bidang cemilan Faisal Basri memberi pandangan terkait logo halal yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemeterian Agama.

Menurutnya, bagi teman-teman UMKM tidak ada masalah terkait perubahan logo halal sebab hal itu dinilai justru menguntungkan karena proses sertifikasi halal telah dipusatkan kepada Pemerintah bukan lagi pihak swasta.

“Yang kita mau bukan soal label. Label yang penting ada logo halalnya dan nomer izinnya. Itu yang paling penting,” ungkap Faisal.

“Sekarang logo halal sudah dipusatkan ke Pemerintah bukan lagi dipegang sama swasta. Itu yang kita untungkan,” sambungnya.

Faisal mengungkapkan bahwa selama ini proses mendapatkan sertifikasi halal cukup sulit. Namun saat ini semua proses pendaftaran dipermudah karena bisa dilakukan secara online.

“Waktu dulu kita mau akses perijinan itu sulit kalau nggak kenal orang kepercayaan kita. Selain itu, biaya cukup mahal kisaran 5 juta hingga 7 juta. Nah, untuk sekarang pendaftaran lebih mudah info terakhir hanya 300 ribu belum termasuk biaya lain nantinya akan dipatenkan,” tuturnya.

Lebih dari itu pihaknya menilai adanya peraturan baru tersebut dapat mencegah oknum-oknum yang memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi.

Menurut Faisal, pada umumnya para pemilik usaha tidak mempermasalahkan logo tapi soal kebijakannya. Dirinya berharap kebijakan baru tersebut nantinya bisa membantu para UMKM yang selama ini kesulitan untuk memperoleh izin label Halal.

“Semoga setelah diambil alih oleh pemerintah biaya perizinan bisa disubsidikan pemerintah. Itu yang kita harapkan sebab angka tersebut mahal apalagi masa aktifnya nggak sampai lima tahun. Intinya sih yang kita mau kebijakan diubah total,” jelasnya.

Baca juga: Kisah Santri Muda Yang Disangka Teroris

Ini Makna Filosofis Logo Halal Baru

Label Halal Indonesia secara filosofi mengadaptasi nilai-nilai ke-Indonesiaan. Bentuk dan corak yang digunakan merupakan artefak-artefak budaya yang memiliki ciri khas yang unik berkarakter kuat dan merepresentasikan Halal Indonesia.

“Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yaitu bentuk Gunungan dan motif Surjan atau Lurik Gunungan pada wayang kulit yang berbentuk limas, lancip ke atas. Ini melambangkan kehidupan manusia,” kata Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham dikutip dari laman NU Online.

Bentuk gunungan itu jelasnya, tersusun sedemikian rupa berupa kaligrafi huruf arab yang terdiri atas huruf Ḥa, Lam Alif, dan Lam dalam satu rangkaian sehingga membentuk kata Halal. Bentuk tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, maka manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan, atau semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Sedangkan motif Surjan yang juga disebut pakaian takwa mengandung makna-makna filosofi yang cukup dalam. Di antaranya bagian leher baju surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang kesemuanya itu menggambarkan rukun iman. Selain itu motif surjan/lurik yang sejajar satu sama lain juga mengandung makna sebagai pembeda/pemberi batas yang jelas.

“Hal itu sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Jaminan Produk Halal di Indonesia untuk menghadirkan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan produk,” imbuh Aqil Irham.

Karakter Warna Logo

Aqil Irham menambahkan bahwa Label Halal Indonesia menggunakan ungu sebagai warna utama label dan hijau toska sebagai warna sekundernya. “Ungu adalah warna utama Label Halal Indonesia. Warna ungu merepresentasikan makna keimanan, kesatuan lahir batin, dan daya imajinasi. Sedangkan warna sekundernya adalah Hijau Toska, yang mewakili makna kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan,” jelas Aqil Irham.

Sementara, Sekretaris BPJPH Arfi Hatim menambahkan, Label Halal Indonesia terdiri dari dua komponen: Logogram dan Logotype. Logogram berupa bentuk gunungan dan motif surjan. Sedang Logotype berupa tulisan Halal Indonesia yang berada di bawah bentuk gunungan dan motif surjan. Dalam pengaplikasiannya, kedua komponen label ini tidak boleh dipisah.

Secara detil, warna ungu Label Halal Indonesia memiliki Kode Warna #670075 Pantone 2612C. Sedangkan warna sekunder hijau toska memiliki Kode Warna #3DC3A3 Pantone 15-5718 TPX.

“Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal dan panduan teknis tentang penggunaan label halal selanjutnya dapat diakses di laman resmi BPJPH Kemenag www.halal.go.id/infopenting,” jelas Arfi.

Penulis: Suci Amaliyah