5 Masjid dengan Arsitektur Akulturasi Budaya di Indonesia

673
Foto: Tempo

Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa yang multikultural. Keunikan ini bisa dicermati tidak dari segi suku dan agamanya saja, tetapi juga dapat dijumpai dari segi bangunan tempat ibadah.

Misalnya, dalam konteks ini adalah masjid sebagai tempat beribadah umat muslim. Ternyata, arsitektur masjid di Indonesia tidaklah serama, namun memiliki corak atau daya yang unik, bahkan disesuaikan dengan sejarah dan budaya di masyarakat tempat.

Berikut ini 4 masjid di Indonesia dengan arsitektur yang memadukan akulturasi budaya.

1. Masjid Cheng Ho di Surabaya

Foto: Jam Digital

Masjid Raya Cheng Ho Surabaya adalah sebuah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Kec. Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balai Kota Surabaya. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya.

Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

2. Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta

Foto: Khazanah Masjid

Masjid Raya Yogyakarta, atau lebih dikenal sebagai Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman, merupakan bagian tak terpisahkan dari Kesultanan Yogyakarta. Keberadaan Masjid Gedhe menegaskan keberadaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam. Masjid Gedhe dibangun di sisi barat Alun-Alun Utara dan barat daya Pasar Beringharjo, tidak jauh dari bangunan keraton. Tata ruang ibu kota kerajaan yang menempatkan keraton sebagai pusat pemerintahan, pasar sebagai pusat ekonomi, dan tempat peribadatan sebagai pusat agama dalam posisi seperti ini, telah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Jawa semenjak era Majapahit.

Masjid Gedhe didirikan pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabi’ul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa. Pendirian tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi Gapura Trus Winayang Jalma, sengkalan tersebut tertulis pada prasasti di serambi masjid. Masjid Gedhe didirikan atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Adapun rancang bangunnya dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.

Gaya arsitektur Masjid Gedhe mewarisi gaya Masjid Demak. Karakteristik dari masjid ini adalah keberadaan empat pilar utama atau dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok. Tajug lambang teplok adalah bentuk atap bersusun tiga. Secara filosofis, tiga tingkatan pada atap menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yaitu syari’at, thareqat, ma’rifat. Tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat dimaknai sebagai iman, islam, dan ikhsan.

Terdapat 48 (empat puluh delapan) pilar di dalam bangunan masjid ini, sementara atapnya terdiri dari 16 (enam belas) sisi dengan tiga tingkat. Bagian-bagian masjid terdiri dari mi’rab atau tempat pengimaman, liwan yaitu ruangan luas untuk jamaah, serambi yang merupakan bagian luar bangunan, dan tempat wudhu. Di dalam Masjid Gedhe terdapat ruangan khusus bagi raja ketika hadir di masjid, berada di baris (shaf) terdepan, dikenal dengan nama maksura. Demikian keterangan yang dikutip dari situs resmi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta.

3. Masjid Menara Kudus

Foto: Tempo

Salah satu peninggalan dari Sunan Kudus adalah sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid al-Aqsa atau Masjid al-Manar. Masjid ini dibangun oleh Ja’far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus. Sunan Kudus adalah putera dari Raden Usman Haji atau Sunan Ngundung. Sunan Kudus merupakan salah satu dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa.

Sesuai dengan namanya, Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus. Masjid Menara Kudus dibangun pada tahun 956 H atau 1537 M. Hal tersebut diketahui dari inskripsi berbahasa Arab yang terdapat pada mimbar masjid. Masjid ini mempunyai banyak keunikan. Salah satunya adalah bentuk menaranya yang mirip dengan candi. Menurut beberapa pengamat, menara yang terdapat pada masjid ini mirip dengan Candi Jago.

Salah satu keistimewaan Masjid Menara Kudus adalah menaranya yang merupakan hasil akulturasi kebudayaan Hindu, ,Jawa dan Islam. Bentuk menara mengingatkan bentuk candi corak Jawa Timur. Regol-regol dan gapura bentar yang terdapat di halaman depan, serambi, dan bagian dalam masjid mengingatkan pada corak kesenian klasik di Jawa Timur. Menara masjid berdenah empat persegi dengan arah hadap ke barat. Bentuk dan konstruksi menara seperti bangunan candi Hindu yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Demikian dikutip dari situs Cagar Budaya Kemendikbud.

4. Masjid Raya Sumatera Barat

Foto: Bukutahu

Masjid Raya Sumatra Barat (Jawi: مسجد راي سومترا بارت) adalah masjid terbesar di Sumatra Barat yang terletak di Jalan Chatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Diawali peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007, pembangunannya tuntas pada 4 Januari 2019 dengan total biaya sekitar Rp325–330 miliar, sebagian besar berasal dari APBD Sumatra Barat. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.

5. Masjid Agung Demak

Foto: Wisata Jateng

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Masjid Agung Demak merupakan masjid kuno yang dibangun oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak5 dibantu para Walisongo pada abad ke-15 Masehi. Masjid ini masuk dalam salah satu jajaran masjid tertua di Indonesia. Lokasi Masjid Agung Demak terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Berada tepat di alun-alun dan pusat keramaian Demak, Masjid Agung Demak tak sulit untuk ditemukan.

Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak adalah simbol arsitektur tradisional Indonesia yang khas serta sarat makna. Tetap sederhana namun terkesan megah, anggun, indah, dan sangat berkharismatik. Atap masjid berbentuk linmas yang bersusun tiga merupakan gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan. Empat tiang utama di dalam masjid yang disebut Saka Tatal/Saka Guru dibuat langsung oleh Walisongo. Masing-masing di sebelah barat laut oleh Sunan Bonang, sebelah barat daya oleh Sunan Gunung Jati, sebelah tenggara oleh Sunan Apel, dan sebelah Timur Laut oleh Sunan Kalijaga.

Pintu Masjid Agung Demak yang dikenal dengan nama Pintu Bledheg dianggap mampu menahan petir. Pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo juga merupakan prasasti Candra Sengkala yang berbunyi Nogo Mulat Sarira Wani, maknanya tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi. Bagian teras Masjid Agung Demak ditopang oleh delapan buah tiang yang disebut Saka Majapahit. (MZN)