Yang Hilang dari Media Sosial

298
Yang Hilang dari Media Sosial
Photo by camilo jimenez on Unsplash

Kita telah mengetahui jika media sosial adalah produk keberhasilan manusia modern menaklukan zaman. Media sosial adalah dunia ketiga yang hadir tanpa mengenal batas, ruang dan waktu.

Sehingga dinamika kehidupan di tengah kemajuan teknologi telah melahirkan manusia-manusia penuh ambisi. Manusia dengan segala kecerdasannya mampu membuat dunia di mana orang-orang dari penjuru dunia hadir dalam satu wajah.

Persoalan media sosial semakin luas jika dilihat dari sudut pandang kesenangan. Artinya mereka tidak akan mencari hal yang lain ketika kesenangan tersebut telah tercapai. Tolok ukur kesenangan menurut orang-orang adalah sejauh mana hal-hal yang bersifat indriawi, individual dan aktual kini dan di sini. Dan media sosial adalah pusat dari kesenangan.

Di media sosial, orang-orang bebas berselancar tanpa hambatan. Mengunjungi tempat-tempat yang tak terjangkau, berkenalan dengan orang banyak hingga menciptakan diri dalam berbagai topeng digital. Fenomena ini disebut oleh Epicurus sebagai bentuk kenikmatan tertinggi di abad digital.

Akan tetapi, Epicurus kemudian memandang sinis bentuk kemudahan dan kesenangan ini sebagai perilaku hedon yang lahir dari rahim media sosial. Baginya, kehadiran media sosial justru menimbulkan permasalahan baru dalam hal etika. Sebagaimana kita tahu, problem etika semakin ke sini justru tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam diri manusia. Di hadapan kecanggihan teknologi, problem etika telah menjebloskan manusia menuju degradasi moral paling dalam.

Baca juga: Sejarah Perkembangan NFT dari Masa ke Masa (1)

Media sosial pada dasarnya bersifat ambivalen, yang memiliki dampak positif sekaligus negatif. Di satu sisi ia mendatangkan manfaat bagi penggunanya, yaitu memungkinkan mereka mengakses dan menyebarkan informasi dengan cepat di mana dan kapan saja.

Padahal, etika adalah persoalan penting dalam tatanan kehidupan. Etika akan membentuk dan mengatur kehidupan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Bahkan, etika telah disinggung lama sejak zaman Phytagoras (murid Sokrates), Plato, Aristoteles hingga menjular sampai hari ini.

Phytagoras menyebut etika sebagai prinsip ideal tertinggi dalam hidup. Lalu, Demokritos memaknai etika sebagai euthymia atau kesempurnaan batin. Sementara, Plato mendefiniskan etika sebagai bentuk perlawanan terhadap pengekangan akal budi dan hawa nafsu. Aristoteles, murid Plato juga tak mau ketinggalan membahas etika dalam konsep eudaimonia atau kebahagiaan.

Kecemasan dan Kewaspadaan

Problem etika yang dialami oleh manusia dalam bingkai media sosial, dinilai Epicurus sebagai bentuk hilangnya kecemasan dan kewaspadaan. Jika dahulu Epicurus memaknai kecemasan sebagai belenggu kebebasan manusia yang terpaku dengan keinginan para dewa, kini kecemasan menjadi relevan seiring hadirnya media sosial.

Orang-orang tak lagi memikirkan kecemasan ketika dihadapkan tentang jarak yang sulit disentuh. Tentang ruang yang tak lagi memiliki sekat. Atau tentang perjalanan yang terhambat.

Kecemasan yang sesungguhnya adalah ketika mereka berbicara tentang gawai yang kehilangan akses menuju dunia digital. Mereka panik. Dan bahkan mengabaikan kondisi sekitar—yang mungkin—saja membutuhkan kehadiran kita.

Epikuros dalam pemikiran etikanya memang menetapkan kesenangan atau kenikmatan sebagai ideal tertinggi dalam kehidupan manusia. Kenikmatan tersebut tidak hanya dari aspek indriawi, melainkan juga kenikmatan jiwa, yang disebut Epicurus sebagai ataraxia (ketenangan jiwa).

Dalam menghadapi kekalutan media sosial ini, maka kita perlu kiranya untuk meneraapkan kewaspadaan. Kita tahu bahwa dengan sikap kewaspadaan akan menuntun manusia supaya mempertimbangkan dengan matang segala tindakannya agar terhindar dari penderitaan atau kecemasan.

Konsep etika Epikuros ini sangat relevan apabila diterapkan dalam penggunaan media sosial, karena jika setiap diri mempunyai sikap kewaspadaan baik dalam menerima informasi maupun menyebarluaskannya, maka problem media sosial khususnya kecemasan sindrom media sosial bisa teratasi.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumarhadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)