Untuk Para Pendidik, Ini 10 Teknik Membentuk Tingkah Laku Anak

535
Foto: Siedoo

Pendidikan secara umum adalah suatu proses untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang. Dengan kata lain, pendidikan bukan sebatas transfer pengetahuan, melainkan juga transformasi tingkah laku sesuai nilai dan norma yang berlaku.

Dalam konteks ini, setidaknya ada terdapat tiga unsur yang berlangsung dalam pendidikan, yakni subjek, objek, dan metode. Subjek dalam pendidikan–terutama tingkat dasar–lebih didominasi oleh pendidik/pengajar, sedangkan objeknya adalah anak atau siswa. Sementara metode atau tekniknya bisa berbagai macam cara.

Secara khusus, seorang pakar pendidikan asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Otib Satibi Hidayat dalam bukunya berjudul Pendidikan Karakter Anak Sesuai Pembelajaran Abad ke-21 (2020: 69-71) menjelaskan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan oleh para pendidikan untuk diterapkan dalam rangka membentuk tingkah laku anak. Berikut di antara teknik tersebut.

1. Memahami

Tingkah laku anak harus dipahami guru dengan sewajarnya walaupun tampak mengesalkan. Akan tetapi, bukan berarti guru menyetujui sepenuhnya, melainkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

2. Mengabaikan

Tingkah laku yang tidak pantas dapat dihilangkan atau diminimalkan dengan cara mengabaikan, misalnya merengek-rengek. Dengan catatan, sejauh itu tidak berbahaya, orang tua harus konsisten dengan sikapnya dan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga walau membutuhkan kesabaran dan keteguhan.

3. Mengalihkan Perhatian

Mengalihkan kegiatan anak dari kegiatan negatif dengan cara mengajukan pertanyaan ke arah lain atau mengajak melakukan sesuatu dan menyuruh melakukan kegiatan lain.

4. Keteladanan

Keteladanan lebih efektif daripada kata-kata. Pengaruh tingkah laku pendidik lebih penting daripada usaha orang tua yang dilakukan secara sadar untuk mengajar anak. Anak lebih memerlukan teladan daripada kritik.

5. Hadiah

Semakin banyak pendidik tahu tentang kesenangan anak, makin efektif cara menentukan jenis hadiah. Dua cara memberikan hadiah adalah: memberi tahu anak bahwa ia akan diberi hadiah bila ia bertingkah laku positif (cocok untuk anak yang jarang bertingkah laku positif) dan memberikan hadiah setelah anak bertingkah laku positif tanpa diberi tahu terlebih dahulu (cocok untuk meningkatkan frekuensi tingkah laku positif yang telah dilakukan anak). Hindari tuntutan yang terlalu tinggi dengan hadiah yang kecil.

6. Perjanjian

Mengadakan persetujuan formal yang tertulis antara anak dan pendidik sehingga tuntutan lebih jelas dan berisi syarat-syarat tingkah laku dan hadiah. Ini diperlukan untuk anak yang tidak atau kurang mempunyai motivasi dan menghindari percekcokan.

7. Membentuk

Mengubah tingkah laku anak yang cukup kompleks dengan cara: membagi tugas menjadi komponen-komponen, melakukan secara bertahap, mengatur tingkat kesulitan tugas, dan memberi hadiah untuk setiap komponen. Contohnya, anak memakai pakaian seragam sekolah sendiri dengan rapi.

8. Mengubah Lingkungan Rumah

Mencegah tingkah laku negatif lebih efektif daripada memperbaikinya dengan cara menambah, mengurangi, dan merapikan kembali lingkungan di sekitar anak.

9. Memuji

Dorongan yang cukup kuat pada setiap orang adalah ingin dianggap penting. Pujian memberikan rasa berharga, mampu, dan percaya diri pada anak. Ini sangat penting pada anak yang rendah diri dan pemalu. Tingkah laku positif apabila tidak dipuji akan melemah atau hilang. Jangan memuji pribadi anak secara total karena anak merasa dievaluasi, melainkan memuji pada tingkah laku tertentu dengan pernyataan deskriptif.

10. Mengajak

Caranya dengan memengaruhi anak untuk melakukan sesuatu yang membangkitkan perasaan, dorongan, dan cita-cita daripada logika/intelektual. Strategi yang dapat dilakukan adalah menggunakan kata-kata mengimbau, dramatisasi (visualisasi dan lain-lain), serta meningkatkan kualitas ajakan.

Berdasarkan 10 teknik tersebut, terlihat Otib Satibi Hidayat menekankan bahwa para pendidikan mempunyai peran sangat penting untuk mengamati kecenderungan-kecenderungan karakter anak, sehingga tekniknya harus tepat ketika menerapkan itu kepada anak didiknya. (MZN)