Tarawih, Ibadah Penghapus Dosa Di Bulan Ramadhan

390
Tarawih Ibadah Penghapus Dosa
Photo by Rumman Amin on Unsplash

Bulan Ramadhan bulan yang penuh dengan keberkahan, dan juga bulan yang apapun bentuk ibadah pahalanya akan dilipat gandakan, yaitu bulan suci Ramadhan. Di dalam bulan Ramadhan tersebut ada 1 ibadah yang dimana ibadah tersebut merupakan ibadah yang sangat identik dengan bulan Ramadhan.

Karena ibadah tersebut hanya dilakukan pada malam hari bulan Ramadhan saja. Ibadah tersebut ialah sholat Sunnah tarawih. Jika dilihat dari sebutannya yaitu sholat Sunnah tarawih maka hukum mengerjakan sholat tarawih yaitu Sunnah. Namun Sunnah pada ibadah tarawih ialah Sunnah Muakkad yang berarti Sunnah yang sangat dianjurkan.

Mengutip dari buku Nur al-Mubin ila Sabil al-Muqarrabin secara Bahasa kata tarawih adalah jamak tarwihah. Kata tarwiwah berasal dari kata ar-rahah, yang artinya ‘istirahat’. Jadi, tarwihah artinya ‘satu kali istirahat’, sedangkan tarawih artinya ‘beberapa kali istirahat’.

Baca juga: 5 Tips Sambut Ramadhan dengan Suka Cita ala Kekinian

Sholat Sunnah ini dinamakan tarawih ialah karena kebiasaan ahlu Makkah, yang mereka mengerjakan sholat ini dengan beristirahat pada setiap 2 kali salam (4 rakaat). Dan cara mereka beristirahat yaitu dengan mengerjakan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran.

Adapun dasar kesunnahan sholat Sunnah tarawih adalah sabda Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yang berbunyi:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Barang siapa mendirikan (sholat pada malam) bulan Ramadhan karena iman dan mengharap keridaan Allah, pasti dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Awal mula sholat tarawih ini dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslum dari A’isyah r.a diceritakan bahwa pada suatu malam bulan Ramadhan Rasulullah ke masjid dan mengerjakan sholat Sunnah. Melihat apa yang dilakukan Rasulullah, orang-orang pun ikut melakukan sholat bersama Rasulullah.

Setelah malam itu orang-orang pun menceritakan apa yang telah dikerjakan Rasulullah kepada yang lain, sehinnga pada malam kedua orang-orang dalam jumlah yang lebih banyak berkumpul di masjid menunggu beliau. Ketika Rasulullah datang dan mengerjakan sholat, mereka pun ikut sholat bersama Rasulullah. Karena cerita tentang sholatnya Rasulullah semakin menyebar luas, maka pada malam ketiga jumlah orang yang datang ke masjid semakin banyak.

Sehingga pada malam keempat masjid tidak mampu untuk menampung jamaah. Namun pada malam keempat itu Rasulullah tidak datang ke masjid. Maka beberapa orang dari jamaah yang hadir berteriak: “Sholat”, maksudnya supaya Rasululah keluar dari rumah. Tetapi Rasulullah tidak keluar. Beliau baru keluar pada sholat Subuh.

Setelah selesai mengerjakan sholat Subuh, beliau berbalik menghadap jamaah dan berkata: “Saya tahu kalian telah berkumpul pada malam ini, tetapi saya takut sholat pada malam bulan Ramadhan ini akan diwajibkan oleh Allah kepada kalian. Kalau diwajibkan, kalian tidak akan mampu mengerjakannya.

Jumlah rakaat sholat Sunnah Tarawih, menurut ijmak para sahabat, adalah 20 rakaat. Sedangkan ahlul Madinah mengerjakan sholat Tarawih sebanyak 36 rakaat. Dan adapula yang mengerjakan sebanyak 8 rakaat. Di Masjidil Haram sholat Sunnah Tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat. Sholat Sunnah Tarwih boleh dilakukan sendiri-sendiri ataupun berjamaah. Akan tetapi yang lebih utama dikerjakan dengan berjamaah. Cara mengerjakannya adalah setiap 2 rokaat salam.

Waktu Pelaksanaan sholat Sunnah tarawih adalah setelah sholat Isya sampai terbit fajar shadiq atau tibanya waktu Subuh. Jadi, sholat Sunnah Tarawih tidak sah jika dilaksanakan sebelum melaksanakan sholat isya.

Cara pelaksanaan sholat Sunnah Tarawih sama dengan cara pelaksanaan sholat pada umumnya, baik dalam gerakan maupun bacaan. Perbedaannya hanyalah pada niat. Lafal niatnya:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَلَى

“Aku sholat Sunnah Tarawih 2 rakaat karena Allah ta’ala.”

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَلَى

“Aku sholat Sunnah Tarawih 2 rakaat mengikuti imam karena Allah ta’ala.”

Surah yang dibaca setelah al-Fatihah boleh surah apa saja yang dikuasai. Akan tetapi unruk memudahkan ingatan terhadap bilangan rakaat, sebaiknya dibaca surah-surah berikut:

Pada tanggal 1 Ramadhan sampai tanggal 15 Ramadhan:

  1. Pada rakaat ke-1 membaca: at-Takatsur, dan pada rakaat ke-2 membaca: al-Ikhlash
  2. Pada rakaat ke-3 membaca: al-Ashr, dan pada rakaat ke-4 membaca: al-Ikhlash
  3. Pada rakaat ke-5 membaca: al-Humazah, dan pada rakaat ke-6 membaca: al-Ikhlash
  4. Pada rakaat ke-7 membaca: al-Fil, dan pada rakaat ke-8 membaca: al-Ikhlash
  5. Pada rakaat ke-9 membaca: Quraisy, dan pada rakaat ke-10 membaca: al-Ikhlash
  6. Pada rakaat ke-11 membaca: al-Ma’un, dan pada rakaat ke-12 membaca: al-Ikhlash
  7. Pada rakaat ke-13 membaca: al-Kautsar, dan pada rakaat ke-14 membaca: al-Ikhlash
  8. Pada rakaat ke-15 membaca: al-Kafirun, dan pada rakaat ke-16 membaca: al-Ikhlash
  9. Pada rakaat ke-17 membaca: an-Nashr, dan pada rakaat ke-18 membaca: al-Ikhlas
  10. Pada rakaat ke-19 membaca: al-Lahab , dan pada takaat ke-20 membaca: al-Ikhlas

Pada tanngal 16 Ramadhan sampai akhir Ramadhan:

  1. Pada rakaat ke-1 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-2 membaca: at-Takatsur
  2. Pada rakaat ke-3 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-4 membaca: al-Ashr
  3. Pada rakaat ke-5 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-6 membaca: al-Humazah
  4. Pada rakaat ke-7 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-8 membaca: al-Fil
  5. Pada rakaat ke-9 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-10 membaca: Quraisy
  6. Pada rakaat ke-11 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-12 membaca: al-Ma’un
  7. Pada rakaat ke-13 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-14 membaca: al-Kautsar
  8. Pada rakaat ke-15 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-16 membaca: al-Kafirun
  9. Pada rakaat ke-17 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-17 membaca: an-Nashr
  10. Pada rakaat ke-19 membaca: al-Qadr, dan pada rakaat ke-20 membaca: al-Lahab.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)