Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan yang Islami

301
Foto: MAN Kota Batu

Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian utama dalam proses pendidikan, di antaranya yaitu “mutu”. Baik atau tidaknya mutu pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan proses pendidikan.

Mutu pendidikan tidaklah statis, namun ia harus selalu dievaluasi dan diperbarui sesuai dengan tantangan. Termasuk juga mutu pendidikan Islam yang mau tidak mau berdialog dengan dinamika kehidupan. Menurut Prof. Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Islam Di Era Milenial (2020: 205-207), terdapat sejumlah langkah yang dapat ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam, sebagai berikut.

Pertama, peningkatan kualitas pendidikan dengan menerapkan manajemen mutu pendidikan terpadu dan manajemen pendidikan strategis melalui langkah-langkah, antara lain: (a) perbaikan terus-menerus dan berkelanjutan (continuous improvement); (b) melakukan penjaminan mutu (quality assurance); (c) melakukan perubahan budaya yang unggul (change of great culture); (d) melakukan perubahan organisasi (up side organization) sesuai kebutuhan; dan (e) menjaga hubungan baik dengan pelanggan (keeping close to the customer).

Dikutip dari Edward Sallis (2006), penerapan manajemen pendidikan strategis antara lain diarahkan pada upaya mewujudkan keunggulan yang berdaya saing (competitive advantage) dengan merumuskan visi, misi, tujuan yang didasarkan pada analisis terhadap kekuatan (strengtenth), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (treathment).

Kedua, peningkatan mutu pendidikan dengan menerapkan model dan gaya kepemimpinan yang transformatif, yaitu kepemimpinan yang tidak hanya mengandalkan karisma personal, tetapi ia harus mencoba untuk membudayakan sifatnya serta melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinannya.

Berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang didasarkan pada pemberian pelayanan dari seorang guru misalnya, dengan berbagai macam bentuk upah yang dimintakan oleh pimpinan. Penerapan kepemimpinan tersebut diperkuat pula dengan menerapkan model kepemimpinan pendidikan yang diarahkan pada upaya memengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan secara bebas dan sukarela.

Ketiga, peningkatan mutu pendidikan dengan menerapkan SWOT Balanced Scorecard yang mengukur kinerja masa depan pada tercapainya empat perspektif; yaitu keuangan, konsumen, proses bisnis (intern), dan pembelajaran pertumbuhan (Freedy Rangkuti, 2017).

Dalam pandangan Prof Abudin Nata, dengan penerapan SWOT Balanced Scorecard ini, maka setiap pihak, mulai dari pimpinan, guru, staf, dan lainnya jangan diberi chek kosong, melainkan harus diberikan target yang harus dicapai yang dituangkan dalam bentuk fakta integritas, atau IKU (Indikator Kinerja Utama) yang diimbangi dengan pemberian reward (hadiah-penghargaan) bagi yang dapat mencapainya, dan punishment (sanksi) bagi yang tidak dapat mencapainya.

Keeempat, peningkatan mutu pendidikan dengan menerapkan budaya organisasi yang unggul (great culture). Yaitu nilai organisasi yang wajib memenuhi harapan sosial, dalam hubungannya dengan kelangsungan hidup lingkungan sekitar dan tanggung jawab sosial.15

Penerapan budaya unggul ini sangat penting, karena kegagalan inisiatif-inisiatif perubahan di banyak perusahaan, menurut John Ketter, JL Heskett, Cameron dan Quinn, sebagaimana dikutip Djokosantoso Muljono (2007), terutama disebabkan kegagalan dalam mengelola budaya perubahan atau perbaikan budaya perusahaan.

Prof. Abudin Nata menyebut, sejarah bisnis mencatat adanya sebuah perusahaan terkemuka tingkat dunia dengan aset triliunan, namun kemudian anjlok dan hampir bangkrut, karena budayanya yang tidak mendukung. Perusahaan tersebut antara lain IBM dengan pemiliknya Bill Gate, karena merasa hebat, dan tidak mau mendengar dan belajar pada orang lain.

Kelima, peningkatan kualitas pendidikan yang Islami juga dapat dilakukan dengan mempelajari praktik pendidikan yang dirintis oleh umat Islam di masa lalu. Lahirnya ulama-ulama besar yang ilmunya mumpuni, luas, mendalam, dan meliputi semua cabang ilmu.

Cabang ilmu tersebut, antara lain ilmu agama dengan berbagai cabangnya, ilmu alam dengan berbagai cabangnya, ilmu sosial dengan berbagai cabangnya, kebudayaan dan peradaban yang sangat kaya, dan hingga kini masih relevan, menunjukkan adanya pendidikan yang bermutu. (MZN)