Siap Hadapi Omicron Dengan Langkah Ini

217
Menyikapi Varian Omicron Melalui Langkah-Langkah di Bawah ini
Photo by Mat Napo on Unsplash

Varian baru – yang diidentifikasi sebagai B.1.1.529 – telah dinyatakan sebagai varian yang menjadi kekhawatiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diberi nama Omicron.

Mutasi yang diidentifikasi dalam Omicron memberikan kekhawatiran teoritis bahwa varian ini berpotensi lebih menular daripada varian Delta. Varian ini telah mengurangi sensitivitas terhadap aktivitas antibodi yang tercipta oleh infeksi atau vaksin sebelumnya dibandingkan dengan seberapa baik antibodi dapat menetralkan virus sebelumnya.

Karena tiap vaksin memiliki perbedaan dalam besarnya induksi antibodi penetralisasi, estimasi kapabilitas vaksin untuk dikompromikan dalam mencegah infeksi karena Omicron kemungkinan akan berbeda, seperti yang terjadi pada varian Beta.

Bagaimana pun, karena vaksin juga menginduksi respons sel-T terhadap serangkaian epitop yang beragam, yang tampaknya penting untuk pencegahan Covid-19 parah, maka vaksin tersebut masih mungkin dapat memberikan perlindungan yang sebanding terhadap Covid-19 parah karena Omicron dibandingkan dengan varian lainnya.

Hal yang sama dapat dilihat pada vaksin AstraZeneca. Meskipun ia tidak melindungi dari Covid-19 jenis Beta ringan-hingga-sedang, vaksin ini masih menunjukan perlindungan tingkat tinggi (80% efektif) pada penanganan kasus rawat inap yang disebabkan varian Beta dan Gamma di Kanada.

Menghadapi varian omicron ini, ada beberapa langkah yang perlu dihindari masyarakat hingga pemerintah. Dan beberapa hal ain harus dilakukan.

Yang Tidak Boleh Dilakukan

Pertama, jangan sembarangan memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, kecuali pada pertemuan di dalam ruangan. Upaya ini tidak berhasil mengurangi infeksi selama 3 gelombang terakhir di Afrika Selatan, mengingat 60% -80% orang terinfeksi oleh virus berdasarkan sero-survei dan data pemodelan. Paling-paling, pembatasan semacam ini akan merusak ekonomi dan hanya berlaku efektif dalam kurun waktu 2-3 minggu setelah infeksi terjadi.

Berkaca pada Negara Afrika Selatan sendiri, hal semacam ini terbilang lumrah – secara umum sebagian besar penduduk, kesadaran mematuhi pembatasan tingkat tinggi tidak praktis dan kepatuhan warganya cukup rendah.

Baca juga: The Social Dilemma: Kisah Tersembunyi di Balik Media Sosial

Kedua, jangan memberlakukan larangan perjalanan domestik (atau internasional). Terlebih menjelang libran akhir tahun, virus akan tetap menyebar – seperti yang terjadi pada masa lalu. Sangat naif bagi kita untuk percaya bahwa pemberlakuan larangan perjalanan di beberapa negara akan menghentikan impor varian. Virus ini akan menyebar ke seluruh dunia kecuali kita berada di negara kepulauan yang menutup akses dengan seluruh dunia.

Tidak adanya laporan varian dari negara yang minim kemampuan dalam mengurutkan DNA virus tidak semerta-merta memberikan arti bahwa jumlah varian nihil. Bila negara-negara lain masih mengizinkan perjalanan dengan negara-negara “daftar merah”, secara langsung atau tidak langsung, varian secara langsung maupun tidak langsung akan tetap berakhir di negara-negara yang memberlakukan larangan perjalanan, meski mungkin dapat sedikit menunda kedatangannya.

Semua larangan perjalanan yang diberlakukan oleh beberapa negara dengan negara lain yang ada dalam daftar merah sejatinya hanya menunda serangan yang tak terhindarkan. Akan lebih memungkinkan bila pemerintah mengoptimalkan program penyaringan keluar dan masuk yang ketat untuk mengidentifikasi kasus-kasus potensial dan mewajibkan vaksinasi.

Ketiga, jangan mengumumkan peraturan yang tidak dapat diterapkan atau tidak dapat dilaksanakan dalam konteks lokal.

Keempat, jangan menunda dan menyulitkan kebijakan untuk mendorong individu berisiko tinggi. Pemerintah harus menargetkan orang dewasa yang lebih tua dari 65 tahun dengan dosis tambahan vaksin Pfizer setelah mereka mendapatkan dua suntikan. Hal yang sama berlaku untuk kelompok berisiko lain seperti orang dengan transplantasi ginjal, atau orang kanker dan kemoterapi.

Kelima, hentikan penjualan atau promosi konsep herd immunityHerd immunity sejatinya tidak akan terwujud dan secara paradoks merusak keyakinan akan vaksin. Vaksin generasi pertama sangat efektif dalam melindungi terhadap Covid-19 kronis, tapi kurang dapat diprediksi dalam melindungi infeksi dan Covid yang ringan karena berkurangnya antibodi dan mutasi virus yang berkelanjutan.

Vaksinasi, bagaimana pun, masih mengurangi penularan secara moderat, yang tetap bernilai tinggi, tetapi tidak mungkin membawa kita pada “herd immunity” dalam waktu dekat – bahkan dalam umur kita.

Beberapa daftar sikap yang harus dipertimbangkan setelah muncul varian Omicron, terlepas dari apakah itu menggantikan varian Delta (yang masih belum diketahui).

Yang Perlu Dilakukan 

Pertama, pastikan fasilitas perawatan kesehatan disiapkan, tidak hanya tertulis di atas kertas – tetapi benar-benar difasilitasi dengan staf, alat pelindung diri, oksigen, dan lain-lain. Kita tidak boleh menemukan kekurangan persiapan atas fasilitas kesehatan.

Kemudian berikan dosis booster J&J atau Pfizer kepada semua orang dewasa yang menerima J&J dosis tunggal. Ini diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap Covid-19 kronis. Dosis tunggal vaksin J&J mengurangi kasus rawat inap yang disebabkan oleh varian Delta. Sedangkan dua dosis vaksin AZ dan mRNA secara umum memiliki perlindungan lebih dari 80%-90% terhadap penyakit parah dari varian Delta.

Banyak studi mengkonfirmasi jadwal dua dosis vaksin Johnson & Johnson lebih unggul dalam melindungi kasus rawat inap daripada dosis tunggal.  Bukti cukup jelas yang menunjukkan jenis respons imun dari pendekatan heterolog AZ atau JJ oleh vaksin mRNA seperti Pfizer/Biontech menginduksi penetralan yang unggul dan respons imun yang diperantarai sel daripada dua dosis vaksin vektor yang tidak mereplikasi.

Ketiga, menerapkan kartu vaksin sebelum memasuki tempat perkumpulan tertutup, termasuk tempat ibadah dan transportasi umum. Vaksinasi mungkin menjadi pilihan saat ini, namun, pilihan datang dengan konsekuensi.

Bahkan jika vaksin hanya mengurangi penularan secara moderat, melebihi dan di atas infeksi yang mereka cegah, sebuah kasus infeksi pada individu yang divaksinasi menimbulkan risiko penularan yang lebih kecil ke orang lain daripada infeksi pada individu yang tidak divaksinasi dan sebelumnya tidak terinfeksi.

Keempat, lanjutkan upaya untuk menjangkau mereka yang tidak divaksinasi dan diimunisasi. Upaya ini harus mencakup penggunaan fasilitas dadakan tempat orang cenderung berkumpul dan program penjangkauan masyarakat lainnya.

Kelima, segera beri vaksin tambahan pada kelompok risiko tinggi yang berusia di atas 65 tahun dan lainnya yang memiliki kondisi imunosupresif. Oleh karena itu, tujuan utama vaksinasi harus ditujukan untuk mengurangi penyakit parah dan kematian. Ini membutuhkan strategi untuk menargetkan siapa yang harus diprioritaskan.

Keenam, pantau ketersediaan tempat tidur di tingkat regional untuk membantu tindakan regional menghindari fasilitas yang berlebihan. Tingkat pembatasan yang lebih tinggi perlu disesuaikan ketika kita mengharapkan fasilitas kesehatan berlebih. Karena rawat inap biasanya tertinggal 2-3 minggu di belakang tingkat infeksi komunitas, mengawasi tingkat kasus dan tingkat rawat inap dapat memprediksi fasilitas dan wilayah yang mungkin terancam.

Upaya ini akan memungkinkan pendekatan yang lebih terfokus pada pemberlakuan pembatasan untuk mengurangi tekanan yang diantisipasi pada fasilitas kesehatan 2-3 minggu sebelumnya. Ini tidak akan mengubah jumlah total rawat inap. Tapi virus akan menyebar dalam jangka waktu yang lebih lama dan membuatnya lebih mudah dikelola.

Ketujuh, belajar untuk hidup dengan virus, dan mengambil pandangan holistik tentang efek langsung dan tidak langsung dari pandemi pada mata pencaharian. Dampak ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan mental, dan kesehatan tidak langsung yang merugikan lainnya dari pendekatan palu godam untuk menangani ancaman pandemi yang sedang berlangsung untuk melampaui efek langsung seperti lonjakan kasus Covid-19 di Afrika Selatan.

Kedelapan, ikuti sains dan jangan diputarbalikkan untuk kepentingan politik.

Kesembilan, belajar dari kesalahan masa lalu, dan berani dalam langkah selanjutnya.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)