Shorof, Pesantren, dan Metode Utsmaniyah yang Ada di Turkiye

166
Kitab Shorof
Kitab Shorof

Sebenarnya ilmu shorof bukanlah ilmu asing bagi seluruh santri dan pembelajar bahasa Arab. Mengingat, shorof merupakan salah satu ilmu penting yang harus dikuasai siapa pun yang ingin menguasai keilmuan bahasa Alquran ini. Di Indonesia, shorof biasanya sering dijumpai pembelajarannya di pesantren-pesantren.

Pesantren adalah tempat yang erat dengan kajian-kajian keagamaan, yang mana tentu memiliki hubungan dekat dengan kitab-kitab berbahasa arab. Oleh karena itu, sebelum santri mampu mempelajari (memperdalam) kitab kuning secara lebih dalam, mereka dituntut untuk memahami shorof ditahap mulanya.

Shorof adalah salah satu cabang ilmu tata bahasa arab yang ruang lingkupnya membahas permasalahan bentuk kalimah (kata) baik tentang perubahan bentuk, penambahan huruf, maupun susunan huruf yang membentuk sebuah kata. Di antara faedah mempelajari ilmu shorof tak lain adalah mengetahui tolak ukur pemahaman seseorang tentang bentuk dasar kata berikut perubahan-perubahan dan penambahannya. Misalnya dari fiil madhi menjadi fiil mudhori’, isim maf’ul menjadi masdar, isim fail menjadi fiil amar, dan lain sebagainya. Tanpa shorof, seseorang tidak akan mampu memahami, membaca, berbicara maupun memprediksi makna-makna dalam bahasa Arab.

Baca Juga: Kadir Gecesi, Lailatul Qadar di Turki yang Tak Perlu Diburu

Sejauh ini, pesantren-pesantren di Indonesia kerap mengajarkan ilmu shorof dengan cara menghafalkan ‘tashrifan’ sebelum mengawali mata pelajaran diniyah. Ada pula beberapa yang memiliki variasi metode baru yang tak kalah menggairahkan. Namun sejauh pengamatan sederhana, kitab amtsilah tashrifiyah lah yang terbukti eksis menjadi pelabuhan awal rujukan pembelajaran ilmu ini di pesantren-pesantren Indonesia. Banyak metode yang bisa digunakan untuk mengajarkannya. Misal lain, para santri disuruh membaca serentak bersama sambil melagukan bacaan dengan lagu yang khas – dengan atau pun tanpa harus memahami maknanya terlebih dahulu-.

Menghafal adalah kunci awal memahami shorof bagi sebagian besar para santri. Aktivitas sering membaca dan menghafal akan memudahkan pelafalnya mengenal ‘romz asasi’ pola bentukan dalam shorof. Ada lagi yang mempelajari shorof cukup dengan menghafal rumus/wazan inti. Yaitu kata-kata yang bernisbat pada kata fa’ala, disusul penambahan-penambahan kata yang ada di dalamnya. Pengenalan fa’ fi’il, ‘ain fi’il, dan lam fi’il di sini tidak bisa terbantah nilai pentingnya. Tidak jarang pula, di beberapa pesantren, para pengajar shorof mengajarkan ilmu ini dengan cara melatih hafalan dengan fiil yang acak agar disesuaikan dengan wazan aslinya, atau dan lain sebagainya, yang tentunya disesuaikan dengan latar tradisi dan kemampuan pembelajarnya.

Di Indonesia, metode-metode di atas terhitung produktif penerapannya. Efektivitas penerapan ini tak lain disebabkan latar belakang kondisi budaya, bahasa, kemampuan, serta target para pembelajarnya sendiri. Faktor-faktor tersebut lah yang kiranya dahulu menjadi catatan penting para ulama tradisi sebelum merumuskan metode pengajaran shorof di Indonesia.

Tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, shorof dewasa ini juga sering dijumpai pengajarannya di bangku-bangku madrasah diniyah, bahkan di universitas; yang arah pembelajarannya takhsis menuju capaian pemahaman keagamaan dan kebahasa araban.

Bahasa Arab merupakan bahasa penting yang harus dipelajari oleh seluruh masyarakat dunia, termasuk indonesia (khususnya muslim), dalam orientasinya memahami teks-teks Islam orisinal secara lebih dalam. Segala sumber agama Islam, baik Alquran maupun hadis semua terkemas dalam Bahasa Arab. Di bangku-bangku universitas, shorof kerap diajarkan dengan metode yang lebih variatif. Kampus-kampus adalah lingkungan yang berbeda dengan lingkungan pesantren. Para pembelajarnya juga cenderung lebih dewasa. Oleh karena itu, dibutuhkan metode-metode yang menarik dan modern untuk mengajarkannya.

Lain halnya ketika melihat kondisi negara barat yang notabene secara kepribadian, budaya, khazanah, berbeda dengan di Indonesia. Tentu metode-metode pengajaran shorof di sana juga ditinjau dari kondisi-kondisi seperti di atas tadi. Bagi orang barat, mempelajari shorof dengan metode yang telah disesuaikan secara mayoritas melalui kondisi keberadaan dan kepribadian mereka, tentu akan mudah. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri semakin berkembangnya zaman ini, banyak juga pembelajar Indonesia atau (yang selain dari negara barat) tengah berbondong-bondong menimba ilmu di sana. Adakah metode-metode tersebut bisa diterima oleh mereka, sehingga mereka mampu memahami shorof dengan metode tersebut ? Jelas akan ada kerumitan tersendiri di sini.

Telisik demi telisik, terdapat hal menarik yang bisa dijumpai dalam menjawab keresahan ini. Penulis ingin memberi sedikit sumbangan sudut pandang pembelajaran shorof di Turkiye. Adalah ma’had Ebu Ishaq di Erzurum, penulis pernah belajar keilmuan bahasa Arab di sana, termasuk ilmu shorof. Di sana, pembelajaran shorof sejauh ini menggunakan metode hafalan seperti halnya di pesantren-pesantren pelosok di Indonesia. Tanpa mengubah ciri khas metode dalam mengajarkannya, ma’had ini justru mengembangkan variabel wazan yang harus dihafalkan para pembelajar untuk aset¬† pemahaman yang lebih dalam. Metode yang biasa digunakan di sana dikenal dengan metode ‘utsmaniyah’.¬†Sebuah metode yang sudah ada sejak zaman dinasti Utsmaniyah.

Metode utsmaniyah merupakan metode senjata yang ampuh diterapkan untuk pembelajar ‘ghairu an nathiq biha’ (asing). Bahkan menariknya, kitab-kitab yang digunakan juga masih menggunakan kitab klasik yang masih bertahan hingga saat ini. Diantara yang membedakan dengan pola tashrifan yang lazim digunakan di Indonesia ialah pada metode Utsmaniyah mereka memasukkan wazan-wazan lain, seperti : lan yaf’ala (nawasib), lam yaf’al (jawazim), dll yang menjadi satu runtutan baris dalam skema kelengkapan format wazan. Pengembangan seperti ini tentu akan menguatkan pemahaman para pembelajar shorof secara lebih luas. Lain halnya di pesantren-pesantren Indonesia yang cakupan bahasan mengenai nawasib dan jawazim mendapat jatah ruang pendalaman yang berbeda yang di luar formasi wazan amtsilah tashrifiyah.

(Zm/Red_Mading)