Seperti Pahlawan, Walau Tak Sesuai Harapan

260
Pahlawan
Photo by Gabriel Bassino on Unsplash

Hujan ini mengisi relung-relung hati saya yang kosong karena terlalu lama jomblo. Hujan ini juga tidak membuat saya merasa kedinginan walau sekujur tubuh saya basah. Tapi membuat kepala saya pening.

Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba datang menyesaki pikiran. Atau itu sebuah rasa putus asa yang tiba-tiba muncul, karena motor saya kehabisan bensin. Sedangkan pom bensin masih sekitar satu kilometer lagi.

Saya bertanya-tanya akankah datang Iron Man membawa saya terbang ke pom bensin. Ataukah Hulk, si raksasa hijau berbadan besar dan berotot besar (saya yakin), akan datang mengantarkan seliter bensin pada saya.

Sayangnya, setelah saya tunggu lumayan lama mereka tetap tidak juga datang. Mungkin mereka sedang sibuk mempersiapkan plesiran ke planet mars, karena anggaran perjalanan dinas The Avengers tahun ini naik.

Pahlawan Sesuai Kebutuhan

Baiklah, mungkin tidak bisa terlalu jauh membayangkan mahluk-mahluk dalam komik. Saya mencoba realistis. Mungkin pahlawan yang saya butuhkan. Berwujud mahasiswa seperti saya. Berbadan sehat, bergizi, dan banyak duit (biar sekalian dibelikan bensin).  Cepat tanggap bila ada orang yang kesusahan.

Misalkan ada bencana gara-gara badai siklon tropis cempaka seperti sekarang, dengan cepat mendirikan posko untuk mengumpulkan bantuan. Apa yang dia lakukan sangat menginspirasi, hingga orang-orang pun berbondong-bondong melakukan hal yang sama.

Bisa juga pahlawan yang saya cari seperti teman saya sendiri. Namanya Cak Mil. Begitu mendengar Pacitan terkena banjir, dia segera pulang. Walau ketika mendengar kabar itu dia sedang di Yogyakarta. Hujan badai, jalan licin dan dingin malam tak mengurangi semangatnya. Atas dasar kecintaan pada tanah kelahirannya, sekaligus demi membantu para pengungsi.

Baca juga: Menjadi Pahlawan di Era Digital?

Pahlawan Salah Paham

Bisa juga pahlawan jauh dari bayangan saya selama ini. Mungkin pahlawan dapat berupa mas-mas berumur tiga puluh tahun, sudah beristri dua dan suka berbagi. Terutama berbagi foto mayat korban banjir yang terseret arus di grup Whatsapp.

Demi mengabarkan info penting (menurutnya, bukan menurut anggota grup yang lain) bahwa korban banjir telah ketemu. Foto itu memperlihatkan aurat korban, sekaligus raut sedih di mukanya. Foto yang tidak cocok dilihat ketika sedang makan atau berada di WC.

Mungkin pahlawan saya satu ini, hanya ingin memberi pesan pada orang-orang. Agar setelah dia mati, dia juga ingin difoto, dengan memperlihatkan raut muka unyu dan tanpa dibungkus kain kafan.

Atau bisa jadi pahlawan saya ternyata kakek-kakek. Dia tahu ada bencana dimana-mana, dan mendoakan yang terbaik bagi para korban. Tapi alih-alih menjadi relawan bencana, atau mendonasikan uangnya bagi korban bencana. Dia malah asyik membersihkan got, menutup genting yang bocor dan membersihkan rumah.

Kalau perlu mengajak warga kerja bakti membersihkan sungai dari sampah. Jenis pahlawan satu ini sangat tidak kekinian. Bukannya membantu orang lain malah mementingkan dirinya sendiri.

 

Terakhir, saya membayangkan mahluk halus sebagai pahlawan, yaitu jin. Ketika mendorong motor, sekonyong kaki saya terantuk botol. Lalu karena penasaran saya membuka botol, dan di dalamnya ada jin seperti pada kisah aladin dan lampu ajaib.

Tentu permintaan pertama saya bukan agar motor saya sampai pom bensin atau mengubah motor saya menjadi karpet terbang. Namun, agar saya punya pacar. Kalau bisa yang mirip Nella Kharisma.

***

Akhirnya Ia Datang

Sampai saya mendorong motor sejauh lima ratus meter. Belum ada seorangpun yang membantu saya. Walau lalu lintas ramai dan warung makan di sepanjang jalan penuh dengan orang-orang kelaparan. Untung hujan pengertian, tidak memberikan bulir-bulir air sebesar biji kacang. Hanya gerimis tipis, atau orang jawa bilang kremun.

“Bensin habis mas?!” Tanya seseorang membuyarkan lamunan saya.

“Iya, mas.”

“Saya bantu dorong sampai pom bensin, ya.”

Begitulah kisah saya sore ini bertemu pahlawan saya, seorang mas-mas dengan celana tiga per empat, berjidat hitam dan berjenggot lebat. Dia datang membawa kedamaian, memecahkan masalah saya dan sama sekali tidak mengajak saya ikut aksi bertajuk reuni 212. Setelah mencapai pom bensin, saya mengucapkan terimakasih dan kami berpisah.

Saya bangga bertemu pahlawan saya. Seperti kata-kata mutiara dari Gus Dur, ketika menolong dia tidak bertanya agama kamu apa, ormas kamu apa, atau aliran musik kamu apa. Meski jelas-jelas aliran musik saya bukan nasyid, karena saya memakai kaos hitam bertuliskan NDX aka Familia.

Penulis: Affix Mareta