Sekelumit Tentang Pengetahuan Orang Biasa

367
orang Biasa
Photo by Alfian Dimas on Unsplash

Sebagai makhluk sosial, Tuhan mendesain manusia untuk saling terhubung. Kita belajar untuk percaya bahwa kebutuhan akan terpenuhi, bagaimana mengelola emosi, dan merasakan atau memberikan cinta melalui keterikatan kita pada orang lain.

Psikolog Jill P Weber, Ph.D. mengatakan ketika kita mengisolasi diri kita sendiri atau membatasi diri kita hanya pada lingkungan terdekat kita. Kita menjadi sedih, tertekan, dan menemukan cara-cara yang menyimpang dalam memandang dunia dan masa depan kita.

Referensi Orang Lain

Berada di sekitar orang lain dapat membantu kita mempertahankan perspektif yang realistis, tetap optimis, dan mengatur pengalaman emosional kita. Weber mengatakan bahwa kita membutuhkan referensi hidup dari orang lain untuk membuat kita tetap stabil dan membumi.

“Tanpa koneksi kita lebih mudah untuk hanya melihat hal buruk di dunia, terjebak dalam spiral pemikiran negatif, dan menjadi marah dan tidak termotivasi,” kata Weber. Berhubungan dengan orang lain akan membantu kita melihat diri sendiri, dunia, dan masa.

Percakapan yang melibatkan dua orang lebih untuk menemukan gagasan atau memecahkan masalah itulah yang kita sering sebut diskusi.

Baca juga: Ilmu dan Pengetahuan antara Subsidi dan Otodidak

Biasanya diskusi dilakukan untuk mencari kesepakatan pendapat. Namun tidak semua percakapan disebut diskusi, sebab diskusi merupakan suatu proses bertukar pendapat atau gagasan yang terarah, sehingga dapat mencapai kesepakatan bersama.

Temanku asal Bugis pernah memberikan nasihat kepadaku kurang lebih seperti ini,
“Mengajak diskusi dengan pamer pengetahuan itu beda jauh dik. Ini nasihat yang boleh tak kau hiraukan. Sehaus-hausmu pada pengetahuan jangan lantas menenggak semua ilmu dari textbook,” ujarnya kala itu.

Menemukan Pengetahuan 

Diakui atau tidak perihal pengetahuan banyak terserak di jalan, hutan, perkampungan, sudut kota, sepi bus dan angkutan kota, bahkan tiap kayuh pedal becak. Sebab itu jika berharap semua orang memberimu ilmu, itu salah. Mau tidak mau kita lah yang kudu pintar menemukan ilmu dari tiap interaksi yang diciptakan.

Sebelum memulai diskusi misalnya, kamu perlu juga mengantongi sedikitnya tiga pengetahuan teman diskusimu itu. Pertama, usia. Kedua, pekerjaan. Ketiga, kegemaran. Biodata lainnya mengalir saja bisa tanyakan jika dia (teman diskusimu) berkenan tanpa paksaan.

Namun yang paling untuk diperhatikan betul-betul yakni tak perlu pura-pura memberi saran bacaan pada teman diskusimu ketika dia mengaku belum tahu banyak isi dari perbincanganmu. Nah, perkara ini kadang sering terlewatkan.

Pasalnya, bisa jadi ia pura-pura tidak tahu atau diksi intelektualmu itu justru mengganggu. Hal yang tak boleh dilewatkan untuk disimpan memory kita yakni menjadi orang pintar dan banyak tahu itu perlu. Tapi lebih urgen pengetahuanmu itu berguna untuk sesamamu. Sekecil apa pun itu.

Penulis: Suci Amaliyah