Saat Manusia dan Tuhan Bicara Cinta

428
Bicara
Unsplash

“Religious man deeply desires to be, to participate in reality, to be saturated with power.” –Mircea Eliade

Mari bicara cinta. Apa Anda percaya, bahwa karena cinta, Tuhan memercikkan ‘hasrat’-Nya untuk mencipta kreasi sempurna bernama Manusia? Atau, apa Anda lebih percaya, bahwa karena manusia, Tuhan mencipratkan ‘kuasa’-Nya untuk mencipta kreasi terbaik bernama cinta?

Betapa pun kita membolak-balik kemungkinan itu, saya kira hasilnya sama saja. Karena cinta atau karena manusia, cinta tidak mungkin kita pisahkan dari Tuhan. Ketiganya menjadi rangkaian sebab-akibat dan jalan logika, bagi siapa pun itu. 

Cinta Sumber Kehidupan

Tuhan adalah ide tertua yang pernah ada dan dikembangkan manusia, begitu menurut Karen Amstrong. Bagi saya, ide itu berjalan penuh bersama pencarian manusia akan cinta. Karena sejatinya, cinta yang membawa manusia mencari Tuhannya. Cinta adalah sumber hidup dan kehidupan manusia.

Cinta hadir sejak zaman azali dan tetap ada sampai setua apa pun dunia ini. Bukankah umat Muhammad selalu mencita-citakan itu? Cinta yang terbungkus energi dinamis dan aroma yang terus bergolak dan menggelora dalam lamat-lamat selawat.

Tak peduli mata yang buta, kaki yang lumpuh, cinta membuncah Busyiri dalam Syair Burdah, melipat Bediuzzaman Nursi dalam metafor zaman yang tercium seperti baru kemarin sore.

Cinta melahirkan banyak keindahan, syair, musik, puisi, bahkan syatahat para sufi. Begitu cara manusia menemukan jalan pulangnya: Tuhan. Tak heran Eliade bilang, manusia selalu berhasrat untuk masuk ke dalam realitas Tuhannya, untuk melumuri dirinya dengan daya Tuhan.

Lalu bagaimana kita berbicara tentang agama dan cinta? Dapatkah kita membicarakan keduanya bersamaan? Apakah itu hal yang sama? Atau benar-benar beda? Apa karena agama, Karl Marx berkhotbah tentang agama yang melenakan?

Tentang manusia yang diam saja digilas kapitalis? Tapi, bukankah pembebasan Marx itu adalah cinta juga? Cinta terdalam terhadap kemanusiaan!

Baca juga: Memahami Perbedaan Cinta dan Nafsu Secara Utuh

Agama dan Cinta

Lalu bagaimana kita menyandingkan agama dengan cinta? Sementara hampir semua kejahatan besar selalu saja melibatkan agama? Agama selalu saja menjadi sesuatu yang mencekam, begitu kata John Bowker.

Jutaan manusia menjadi korban atas nama agama. Wajah seram agama tampak jelas justru dalam khotbah-khotbah di depan mimbar, di depan manusia yang diciptakan oleh cinta?

Mari bicara cinta di abad yang susah ini. Atau bicara agama? Ah, tidak. Sudah lama agama tidak lagi determinan dalam kehidupan manusia. Kita bicara cinta saja. Tapi sebentar, bisa saja kan agama itu adalah cinta?

Seorang Rumi tidak merayu dengan cinta kalau tidak terlahir dari pemahamannya atas agamanya, kan? Tapi mengapa perang antaragama atau sesama agama ada? Apakah agama telah menjelma menjadi benci? Terlalu naif.

Tapi harus kita akui perang itu ada dan nyata! Jadi, masih perlukah agama? Itu hanya ilusi yang harus ditinggalkan, kata Freud. Weber mungkin sedikit menyangkal, manusia tetap butuh agama!

Begitulah. Tulisan ini tidak akan bisa menggiring kita pada—paling tidak—satu definisi. Kita tidak akan pernah menemukan apa arti cinta. Cinta adalah rasa yang tak berbatas. Kita hanya bisa menutur satu demi satu definisinya melalui ajaran Tuhan.

Maaf, saya tidak mau menyebut itu dari agama. Cinta adalah Tuhan yang pernah mengklaim manusia sebagai ciptaan sempurna-Nya. Sebuah klaim yang lugas, sebelum Ia menyampaikan tentang hal buruk dari manusia.

Definisi Akhir Cinta

Masih tentang cinta. Kata Rumi, ketika Anda membuat kandang ayam untuk ayam peliharaan Anda, tentu seekor unta tidak akan muat masuk ke dalamnya. Akal adalah seekor ayam, cinta adalah seekor unta.

Terakhir izinkan saya mencuri definisi tentang cinta, dari wikipedia. Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk.

Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan senantiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan, dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. []

(10 Ramadhan 1443 H)

Penulis: Hijrah Ahmad
(Kopitalis Akut, Koki di Emirbooks)