Resolusi Tahun Baru; Momentum Aktualisasi Diri

287
Resolusi Tahun Baru; Momentum Aktualisasi Diri
Photo by Nicole Baster on Unsplash

Momentum tahun baru masehi selalu dirayakan dengan sukacita setiap tahunnya. Beragam tradisi dan budaya ketika tahun baru juga terus berlanjut, seperti halnya mudik, cuti, dan hal unik lainnya yang identik dirayakan ketika malam pergantian tahun, seperti halnya menyalakan petasan dan kembang api.

Dibalik euforia perayaan tahun baru, banyak hal-hal lainnya yang jauh lebih penting dan perlu dipersiapkan demi menatap dan menjalankan kehidupan di tahun baru yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Satu pepatah yang familiar dan tidak asing di telinga kita sejak zaman sekolah yang menyatakan bahwa “Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin”.

Pesan bernada optimisme yang ingin disampaikan dalam pepatah ini jelas ingin memotivasi untuk selalu all out dan total dalam menjalani kehidupan dalam satu hari. Selain itu, pepatah ini juga mengajarkan kita untuk senantiasa melakukan evaluasi atas apa saja yang sudah dikerjakan di hari kemarin.

Syekh Ibnu Atho’illah dalam salah satu karya fenomenalnya, kitab Al-Hikam menuliskan “man asyroqot bidayatuhu, asyroqot nihayatuhu” yang artinya adalah “barangsiapa yang permulaannya baik, maka nanti hasil akhirnya juga akan baik”. Untuk itu, berhubung kita baru mulai melangkahkan kaki di tahun baru ini, alangkah baiknya untuk mengawali tahun dengan hal-hal yang baik. Hampir setiap menjelang pergantian tahun, kita membentuk dan menyusun resolusi.

Baca juga: Filologi: Perkembangan Kajian dan Solusi Polemik Keagamaan

Tahun baru identik dengan pembaharuan diri demi mewujudkan kebiasaan yang baik, meninggalkan kebiasaan yang buruk, dan merugikan. Resolusi sendiri adalah janji atau cita-cita yang dibuat seseorang di tahun yang baru.

Terlepas dari apapun bentuk janji yang dibuat, tujuan utama dari resolusi ini adalah untuk memperbaiki kehidupan kita di tahun baru. Mencoba dan memulai sesuatu yang baru di tahun yang baru juga merupakan salah satu bentuk konkrit untuk mengaktualisasikan diri kita. Ya, aktualisasi diri merupakan bisa menjadi pilihan resolusi membuka lembaran baru.

Aktualisasi diri (self actualization) merupakan keinginan seseorang dalam mencapai kebutuhan, dengan menggunakan semua kemampuan yang ia miliki. Aktualisasi diri juga dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Aktualisasi diri sangat dibutuhkan karena dari situ akan diketahui cara terbaik untuk memanfaatkan kemampuan yang ada di dalam diri kita, untuk kemudian melangkah setapak demi setapak menuji impian dan keinginan kita. Baik itu keinginan kecil atau impian yang besar.

Setiap orang perlu menemukan caranya masing-masing untuk mengetahui apa kekuatan dalam dirinya yang perlu diaktualisasikan, sehingga kekuatan tersebut bisa membantu untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Meski begitu, berikut ini adalah beberapa langkah-langkah untuk mempermudah proses Anda untuk mengembangkan aktualisasi diri:

1. Menghargai Hal-Hal Kecil yang kita temui

Meski terdengarnya klise, tapi ini bisa menjadi langkah awal untuk mengembangkan aktualisasi diri. Mulai dari hal yang tampak sederhana, namun sebenarnya memiliki banyak makna. Masing-masing dari kita mempunyai aktivitas yang padat dan melelahkan setiap harinya, sehingga itu kita perlu lebih merefleksikan diri kita melalui hal-hal kecil yang kita temui di sekeliling kita, seperti cuaca yang baik, menyapa orang-orang di sekeliling kita, berinteraksi dengan hewan peliharaan dan lain sebagainya.

2. Belajar Menerima dan Tidak terlalu Memikirkan komentar orang lain

Terkadang realita di kehidupan sehari-hari kita tidak selalu sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan. Contohnya ketika anda ingin pergi keluar rumah, akan tetapi tiba-tiba saja turun hujan. Hal tersebut bisa saja merusak mood kita pada hari itu. Daripada merusak rencana kita berikutnya, alangkah baiknya kita belajar untuk menerima hal tersebut.

Selain itu, sebagai makhluk sosial kita hidup berdampingan dengan orang lain. Sehingga kita tidak terlepas dari kritikan atau pendapat dari orang di sekitar kita. Jika tujuannya baik, Anda memang perlu mendengar masukan tersebut untuk mengetahui apa kekurangan dalam diri dan memperbaikinya. Namun, tidak semua komentar orang lain perlu kita telan mentah-mentah. Cobalah untuk memilah mana yang penting dan tujuannya baik, mana yang tidak. Jadi, jangan terlalu mencemaskan komentar orang lain.

Alih-alih menjadi sosok yang disukai orang lain, hidup mengikuti arahan orang lain malah akan membuat kita kehilangan jati diri. Pada akhirnya, hal ini bisa menyulitkan kita untuk mengembangkan aktualisasi diri. Jadi, cobalah untuk menjadi diri sendiri, yakni sosok yang sesuai dengan tuntutan hati, dan pelajari berbagai pengalaman untuk memperbaiki diri.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)