Ramadhan Sebagai Manifesto Gerakan Sosial Kemasyarakatan

504
Ramadhan Sebagai Manifesto Gerakan Sosial Kemasyarakatan
Photo by Umar ben on Unsplash

Beberapa hari kedepan kita akan berpisah dengan bulan suci Ramadhan, yang otomatis kewajiban kita dalam menjalankan puasa di bulan suci ini akan berakhir pula. Akan sangat menarik apabila kita membahas sejenak mengenai esensi dari berupuasa di bulan suci Ramadhan itu sendiri. Karena begitu disayangkan ketika sebulan penuh kita berpuasa hanya merasakan lapar dan dahaga saja.

Memaknai Nilai Fundamental Puasa Ramadhan

Berangkat dari makna kebahasaan, puasa yang dalam bahasa Arab disebut sebagai As-Shaum yang akar katanya berasal dari kata shama-yashumu memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu menahan. Secara etimologi mengandung arti kegiatan menahan diri dari makan dan minum serta segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puasa adalah menghinari makan, minum dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagaamaan. Puasa juga merupakan salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan minum dan segala yang membatalkannya.

Puasa pada bulan suci Ramadhan sendiri hukumnya adalah wajib. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat-Al-Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Penjelasan tafsiran ayat tersebut dalam kitab Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Imam Jalaluddin Al-Mahali dan Imam Jalaluddin As-Suyuti dapat dijelaskan secara sederhana bahwa kewajiban bagi orang-orang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa dimaksudkan agar segenap umat manusia mampu menjaga diri dan membendung syahwat yang menjadi sumber awal mula seluruh kemaksiatan itu terjadi.

Baca juga: Hasil Survei Indeks Moderasi Beragama di Indonesia

Dari sudut pandang fiqh dalam kitab Fathul Qorib karya Imam Ahmad bin Husein As-Syahir Abi Syuja’ dijelaskan bahwa makna puasa secara etimologi yang dalam bahasa Arab disebut As-Shaum yaitu mehanan diri atau Al-Imsak. Secara terminologi yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa disertai dengan nilai yang telah ditentukan. Sepanjang siang hari yang sah dilakukan puasa dari seorang muslim yang mempunyai akal, yang suci dari haid dan nifas.

Dari semua makna puasa yang telah diterangkan diatas melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Dapat dimaknai secara fundamental bahwa puasa merupakan sebuah ritual atau kegiatan spiritual yang melibatkan jasmani dan ruhani secara kaffah  mengenai suatu self-control dari segala bentuk hawa nafsu yang merugikan dan berlebih-lebihan demi tercapainya suatu self-reward berupa peningkatan kualitas diri dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

Puasa menjadi suatu ritual yang tidak hanya mempengaruhi aspek kesehatan dan ketekunan pada jasmani seseorang saja. Melaikan puasa juga mempengaruhi aspek ruhani berupa peningkatan ketaqwaan, kesadaran kepada sesama dan sebagai pembersihan hati dari segala bentuk noda-noda kesalahan dan perbuatan yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla.

Puasa sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sosial

Menurut Sidney Tarrow, seorang sosiolog asal Amerika Serikat menjelaskan bahwa gerakan sosial merupakan suatu tantangan kolektif yang dilakukan sekelompok orang yang memiliki tujuan dan solidaritas yang sama. pada definisi ini terdapat beberapa kata kunci yakni tantangan kolektif, tujuan bersama serta solidaritas sosial.

Beberapa kata kunci tersebut dapat diintegrasikan melalui paradigma integrasi interkoneksi sehingga memiliki relasi makna yang sejalan dengan esensi ibadah puasa Ramadhan. Sebagaimana yang telah dijabarkan dalam pembahasan sebelumnya, apabila setiap umat muslim mampu memaknai puasa lebih dalam maka akan tercipta suatu gerakan sosial yang terselenggara secara masif.

Kita ketahui bersama bahwa pada momen puasa Ramadhan kali ini, banyak sekali pihak-pihak yang berlomba-lomba dan saling bahu-membahu berbagi kepada sesama yang membutuhkan, memberikan takjil gratis, serta pada akhir bulan suci Ramadhan menjelang sholat Idul Fitri nanti akan diwajibkan membayar zakat fitrah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Kalau ditarik kedalam kacamata filsafat, puasa secara aksiologi bukan hanya sekedar perawatan mesin tubuh manusia dari segala macam penyakit yang menimpa saja. Puasa secara nyata merupakan sebuah wujud kesetaran ruhani yang dijalankan oleh orang-orang beriman tanpa memandang status sosial yang ia emban, baik itu si kaya atau si miskin.

Puasa menjadikan status sosial manusia seketika sama dan tidak ada suatu sistem kelas sosial yang menjadi pemisah antara kaum proletar dan borjuis. Ibadah puasa menjadikan suasana bulan suci Ramadhan dipenuhi oleh nuansa keindahan dimana kesetaraan sosial diwujudkan melalui jiwa-jiwa kebahagiaan dengan tindakan yang nyata.

Ibadah puasa menjadi bukti yang paling nyata mengenai misi diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rahmatan lil alamin. Sosok seorang Baginda Nabi Muhammad yang digambarkan sebagai seorang revolusioner hebat yang mampu menerobos jurang-jurang ketimpangan sosial dan penindasan pada masa pra Islam. Kepedulian Nabi Muhammad kepada sesama dapat dipelajari dengan baik melalui esensi ibadah puasa dan keutamaan bulan suci Ramadhan.

Tentu saja momentum puasa tahun ini menjadi lebih lengkap setelah beberapa tahun kebelakang bangsa Indonesia secara khusus dan umat manusia di seluruh dunia mengalami situasi-situasi paling sulit akibat adanya badai pandemi Covid-19. Walaupun biasanya pada bulan Ramadhan harga-harga bahan pokok meningkat sebagaimana yang terjadi saat ini, puasa seharusnya dapat dijadikan sebagai tirakat sosial demi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama bahwa puasa harus dimaknai dan dilaksanakan secara imanan wa ihtisaban dengan niat lillahi ta’ala. Keutamaan bulan Ramadhan sebagai bulan turunnya ayat Al-Qur’an yang selalu diperingati dalam nuzulul Qur’an serta akan ada hari kemenangan yang dirayakan dengan jiwa yang kembali fitri harus diamalkan secara berkelanjutan agar kebahagiaan yang dirasakan ketika bulan suci Ramadhan tidak sirna begitu saja.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid