Quo Vadis Indonesia Maya di Era Digital

237
Indonesia Maya
Photo by Rodion Kutsaev on Unsplash

Baru kemarin saya melihat influencer yang cukup dikenal di Indonesia, Pandji Pragiwaksono menggunakan tagline hiduplah “Indonesia maya”, sesuatu yang membuat saya terdiam cukup lama dan berpikir karena tidak paham apa yang dia maksud. Lalu saya putuskan memahami definisi literalnya.

Di KBBI, yang dimaksud maya yaitu “hanya tampak ada tapi nyatanya tidak ada” atau kalau pengertian di bidang komputer, maya berarti “peranti yang tidak benar-benar ada, disimulasikan oleh komputer dan seolah-olah memang ada”. Jadi “Indonesia maya” yang dimaksud Pandji yaitu Indonesia yang merupakan hasil simulasi, dan tidak benar-benar ada walau terlihat ada.

Mengenal Indonesia Maya

Kalau yang dimaksud Pandji, Indonesia maya yang berupa simulasi data prakiraan cuaca di Indonesia untuk prediksi cuaca misalnya, ya, mungkin tepat. Namun karena dia influencer media sosial, saya cukup berburuk sangka bahwa yang dia maksud Indonesia maya yaitu Indonesia di media sosial, atau harfiahnya, sekumpulan rakyat Indonesia yang memiliki avatar berupa akun media sosial, yang diberikan “cuma-cuma” oleh perusahaan asing, dan dengan bangga melabeli dirinya Indonesia maya (pusing saya bacanya).

Nah, sekarang saya mau bertanya nih, kalau “Indonesia maya” benar-benar maya, maka ketika saya menghasut akun lain di Twitter harusnya pemilik akun tersebut tidak marah. Harusnya dulu ketika ada orang membuat meme yang menyamakan SBY dengan kerbau, orang tersebut tidak bisa dituntut.

Harusnya ketika Trump dan pendukungnya ramai-ramai membuat hoax di Amerika, ia tidak terpilih jadi presiden. Harusnya ketika ada brand menawarkan barangnya di media sosial, tidak ada yang benar-benar membeli barang brand tersebut.

Berarti jangan-jangan bukan maya, tapi realitas. Namun mengganti nama Indonesia maya menjadi Indonesia realitas juga lucu, karena tidak jelas apa yang dimaksud “Indonesia” di media sosial. Mungkin kalau yang dimaksud yaitu jumlah akun “yang mengaku” berasal dari Indonesia bisa dibenarkan.

Berarti yang dimaksud Indonesia di media sosial yaitu sekian juta data pengguna, di server Twitter, sekian juta data pengguna di server Facebook, dan sekian juta data di akun media sosial lain, kemudian digabungkan lalu dilabeli Indonesia.

Ruang Media Sosial

Nah, masalahnya bisa juga teritorial Indonesia di media sosial yaitu penggunaan bahasa Indonesia di media sosial. Atau bisa juga jumlah topik yang memperbincangkan Indonesia. Jadi tetap belum jelas apa yang dimaksud “Indonesia” di media sosial, karena belum ada konvensi yang mengatur teritorinya. Berbeda dengan Indonesia yang tanahnya Anda injak sekarang ini, sudah jelas konvensi internasional yang mengatur teritorialnya.

Jangan-jangan karena Pandji bisa sukses dan mendapatkan banyak uang di media sosial lalu dia sekenanya saja menggaungkan kata “Indonesia maya”. Namun bisa juga “Indonesia maya” yang dimaksud Pandji tadi memang tidak ada, atau hanya ada di otaknya saja alias mengalami halusinasi.

Untuk itu mari kita sadarkan beliau bahwa media sosial itu bukan bagian dari dunia maya tapi dunia yang penuh realitas. Realitas di media sosial mirip seperti Anda dan teman-teman Anda berdiskusi di ruang kelas.

Lalu ruang kelas itu diganti dengan media sosial. Hanya beda “ruangnya” saja, tapi realitasnya tetap sama. Dan jika influencer saja bisa alpa dalam menilai realitas ini, bagaimana jutaan orang di Indonesia. Kalau saya sih ngeri.

Ngerinya bukan karena ada banyak konten horor di media sosial, ya. Namun, karena menggunakan media sosial, sudah jelas-jelas ada orang sampai bunuh diri karena mengalami persekusi (dan persekusinya juga lewat tulisan di medsos).

Baca juga: Revolusi Digital dan Perubahan Tata Nilai Masyarakat

Realitas Dunia Digital

Belum lagi hoax dan video porno yang bisa dengan mudah diakses anak kecil. Nah itu pun baru medsos, loh. Mari kita luaskan lagi ke dunia digital secara keseluruhan.

Untuk merasakan “ngerinya” realitas dunia digital, coba Anda menonton film dokumenter “Downfall” di Netflix yang menyorot kesalahan software MCAS, yang menjadi penyebab dua kecelakaan pesawat dengan korban jiwa ratusan orang.

Sebab mesin yang digunakan pesawat Boeing lebih besar, diciptakanlah MCAS agar ketika terbang lebih stabil. Eh malah MCAS ini menjadi penyebab kecelakaan karena softwarenya eror.

Perlu diketahui, dunia digital yang sudah merupakan bagian dari realitas kita ini tersusun atas barisan coding yang isinya berupa perintah-perintah. Perintah-perintah ini tersusun teratur, misalnya jika sekarang Anda memencet tombol power maka handphone Anda mati.

Jika Anda klik save di microsoft word, maka software tersebut akan menyimpan file Anda. Jika ketika Anda klik save tapi tidak tersimpan, bisa jadi laptop Anda eror. Eror yang bisa dibilang mirip dengan software MCAS di pesawat Boeing di atas, cuma bedanya kalau laptop Anda eror Anda bisa beli baru, tapi kalau erornya di pesawat, ratusan nyawa penumpang tidak bisa diganti.

Saya ulangi lagi, meski banyak yang tertipu dengan kecanggihannya, bisa dibilang dunia digital merupakan realitas baru yang cukup mengerikan. MCAS di Boeing itu merupakan satu contoh kehororan dunia digital di antara ribuan kasus lainnya. Dan hukum, apalagi hukum di Indonesia baru menyentuh kulit luarnya saja. Yang paling marak tentu hasutan dan hoax di media sosial.

Namun kita belum mengulik ketika software yang dibuat merugikan banyak orang, seperti aplikasi pinjol misalnya. Kita belum punya standar yang baku apa yang disebut programmer, bagaimana etika pemrograman, bagaimana standar aplikasi yang boleh di-instal penduduk Indonesia.

Bagaimana standar keamanan software milik Pemerintah. Dan masih banyak hal yang belum dikulik, yang merupakan tanda bahwa kita masih belum siap menghadapi realitas baru ini.

Penulis: Affix Mareta  
(Dosen Universitas Bunda Mulia – Digital Strategist Expert)