Prinsip Komunikasi dan Informasi Positif Menurut Al-Qur’an

267
Foto: Sevima

Manusia adalah makhluk yang fitrahnya berkomunikasi. Tentu saja, nilai atau prinsip komunikasi manusia di masing-masing daerah memiliki ciri khas dan karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut juga bisa karena faktor dorongan norma agama, suku, tradisi, dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al-Qur’an Tematik: Komunikasi dan Informasi terbitan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur′an Kementerian Agama RI (167-173: 2011) disebutkan, sistem komunikasi Islam didasarkan atas ideologi atau ajaran Islam yang merujuk kepada sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.

Melalui prinsip ini, seorang muslim, khususnya dalam melakukan proses komunikasi, tidak semata-mata memperhatikan aspek keduniaan semata seperti keuntungan materi, tetapi juga memperhatikan aspek yang lebih luhur, yaitu dimensi ukhrawi.

Hal ini karena muslim berkeyakinan bahwa apa yang dilaluinya melalui proses komunikasi membawa implikasi pada kehidupan di akhirat. Dengan demikian, komunikasi yang dijalaninya dilandasi nilai-nilai positif dari etika religius.

Penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan komunikasi memberikan gambaran bahwa di antara prinsip komunikasi dan informasi positif dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Jujur

Berperilaku jujur dalam segala tindakan secara umum dititahkan Allah umpamanya pada Surah Āli ‘Imrān/3: 15-17, an-Nisā’/4: 69, al-Mā’idah/5: 119, an-Nahl/16:116, dan al-Ahzāb/33: 24. Mengenai kejujuran dalam ucapanitu sendiri, Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia. (al-Baqarah/2: 83)

Dalam kitab at-Taisīr bi Syarh al-Jāmi‘ as-Sagīr, al-Munāwī (952-1031) menjelaskan ungkapan ‘alaikum bis-sidq pada hadis di atas dengan ucapan yang jujur (al-qaul al-haqq). Ayat dan hadis di atas menegaskan perlunya kejujuran dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi.

Prinsip kejujuran ini mengharuskan setiap informasi yang disampaikan kepada orang lain
benar-benar merupakan fakta kebenaran, bukan informasi berupa kebohongan.

2. Adil (Obyektif)

Adil yang dimaksud di sini adalah tidak berat sebelah dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi sehingga menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain.

Transparansi dan keseimbangan merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh Islam. Di samping ayat-ayat yang secara umum memerintahkan berbuat adil dalam semua tindakan, Allah berfirman secara khusus tentang perintah berbicara secara adil:

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ

Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu). (al-An’ām/6: 152)

3. Berkualitas

Islam memberi penegasan tentang aspek mutu dan kualitas dalam komunikasi dan penyebaran informasi. Informasi yang dipublikasikan hendaknya benar-benar baik dan bermanfaat bagi orang lain. Secara khusus, Allah memberi rambu-rambu dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi melalui firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (al-Baqarah/2: 83)

4. Akurat

Al-Qur’an sangat menekankan penyampaian informasi tepat dan akurat yang tidak didasarkan pada dugaan atau perkiraan. Prinsip ini digali dari—di antaranya—firman Allah:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (al-Isrā’/17: 36)

5. Motif yang lurus

Al-Qur’an mengajarkan bahwa apa pun yang dilakukan—termasuk di dalamnya berkomunikasi dan menyampaikan informasi—hendaknya dilandasi motivasi yang lurus dan baik, bukan untuk mencelakakan orang lain atau membuka aibnya. Prinsip ini dapat diperoleh dari beberapa ayat Al-Qur’an seperti firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. (an-Nisā’/4: 114)

Demikian penjelasan tentang prinsip komunikasi dan informasi dalam Islam terutama yang bersumber dari Al-Qur’an. Prinsip-prinsip tersebut haruslah dipegang teguh oleh setiap muslim agar selalu di jalan positif, baik, dan benar. (MZN)