Pesan Yang Tidak Pernah Habis

265
Pesan yang Tidak Pernah Habis
Photo by Sarah Cervantes on Unsplash

Lewat karya sastra, seseorang menjadikannya media untuk menyampaikan pesan yang tersirat. Melalui tokoh, penulis atau pengarang menciptakan peristiwa-peristiwa yang menarik dan melukiskan kehidupan-kehidupan yang tentunya berbeda pada setiap orang. Entah dari menyikapi permasalahan, menjalani kehidupan atau lain sebagainya. Perbedaan ini yang berbeda ini menciptakan suasana yang menarik dalam cerita.

Seperti karya Kuntowijoyo, ia selalu berhasil menyelami karya-karyanya dengan sesuatu yang sulit ditebak. Kelembutan bahasa yang dipakai menjadi penciri dalam karyanya. Menyelipkan nilai-nilai islam yang dapat diterima dalam budaya Indonesia. Dalam karyanya pun seperti jendela realitas yang ada.

Karya Dilarang Mencintai Bunga-Bunga menjadi salah satu cerita realitas yang ada di Indonesia. Selain tuntutan atas didikan orang tua terhadap anak, cerpen ini mengulas tentang maskulinitas seorang laki-laki yang pada kenyataanya lelaki tidak selalu berhubungan dengan pekerjaan keras.

(Kutipan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga)
Ayah mengamati aku dari atas ke bawah. Dia berdiri dan menjangkau tangan kananku. Katanya: “Untuk apa bunga ini, heh?”

Aku tidak tahu karena apa, telah mencintai bunga di tanganku ini.

Ayah meraih. Merenggutnya dari tanganku. Kulihat bungkah otot tangan Ayah menggenggam bunga kecil itu. Aku menahan untuk tidak berteriak.

“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan, bolehlah. Tetapi, engkau laki-laki”

Ayah melemparkan bunga itu. Aku menjerit. Ayah pergi. Ibu masih berdiri. Aku membungkuk, mengambil bunga itu, membawanya ke kamar. Tangkai bunga itu patah-patah. Selembar daun bunganya luka. Aku menciumnya, lama, lama sekali.

(Penafsiran dari tulisan di atas)
Bunga itu sendiri dianggap sebagai simbol yang hanya cocok digeluti perempuan dan sikap yang ditunjukkan Ayah kepada seorang anak begitu keras karena pikiran Ayah mengenai bunga itu sangat sempit. Argumennya pun tidak dikuatkan dengan strong way mengapa laki-laki tidak memerlukan bunga.

Baca juga: Guru Adalah Teladan Sepanjang Masa

(Kutipan cerpen)
Sore hari aku pulang dengan bunga-bunga di tangan. Aku kembali lewat pagar tembok. Kakek mengantarkanku ke tangga, memegangku erat. “Hati-hati, Cucu,” dan dia menepuk pantatku pelan. Di atas pagar aku berdiri, mencium bunga di tangan. Melambai pada kakek, lalu menuruni pohon kates. Aku berlari kecil menyembunyikan bunga.

Sampai di pintu, ayahku sudah berdiri di sana. Aku tersadar, hari telah sore dan aku lupa mengaji, “Engkau harus mengaji, tahu. Dari mana?” Ayah menegur dengan suara berat dan dingin.

Aku berdiri saja. Ingin aku menyembunyikan setelitinya bunga-bunga di tanganku. Ayah terlanjur melihat. Aku diam. Ayah tidak suka dibantah.

“Kau pergi mencari bunga-bunga itu. Untuk apa, heh?” Tenggorokanku tersumbat. Aku diam-diam. Tidak berani menatap wajah Ayah.

“Cari di mana?” Tetap, aku harus menyembunyikan dari mana asal bunga-bungaku.

“Di sungai, Yah,” kataku berbohong. Ayah merampas bungaku. Dan, membuangnya ke tempat sampah. Perasaan yang kemarin datang lagi. Aku ingin mengambilnya kembali.

(Penafsiran dari tulisan di atas)
Ayah melakukan hal yang sama seperti kemarin. Merampas sesuatu yang anaknya sukai. Memberlakukan aturan-aturan orang dewasa pada anak yang lingkungannya masih tentang arti bahagia dan kebebasan. Namun ketegasan ayah tentang mengaji memang diperlukan walaupun kurangnya kreatifitas dalam menanamkan agama dalam diri Buyung.

(Kutipan cerpen)
“Tanganmu mesti kotor, seperti tangan Ayahmu, heh!”

Ayah meratakan gemuk di tangannya pada tanganku. Aku tidak melawan. Ayahku adalah nafsu. Aku tersenyum. Ibu berdiri saja, dia tidak berbicara apa pun. Aku makin lebar tersenyum. Ku lihat ibuku pucat ketika memandangku. Kenapa Ibu pucat begitu, tersenyumlah!

Tanganku kotor sampai lengan. Ayah menampar kedua pipiku, katanya: “Untuk apa tangan ini, heh?” Dia mengangkat kedua tanganku dengan kedua tangannya. Aku tidak tahu, jadi diam saja.

“Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!”

(Penafsiran dari tulisan di atas)
Sikap Ayah yang hanya bisa membentak, melumuri tangan anaknya dengan oli bahkan menampar anaknya, mencerminkan kegagalan orang tua dalam mendidik anak. Termasuk tipikal Ayah yang otoriter. Tidak ada tempat untuk anaknya berteduh. Membiarkan anaknya mencari surga di ketenangan yang lain.

Seperti kakek, yang mau menerima segala keluh kesah Buyung. Yang sikapnya jauh berbeda dengan sang Ayah. Kakek mengajarkan kedewasaan melalui alur yang disenangi Buyung. Sedang Ayah, mengajarkan kedewasaan melalui sudut pandangnya sendiri, memukul rata semua laki-laki harus bekerja keras. Sikap ketenangan jiwa yang diajarkan kakek kepada Buyung menghasilkan didikan yang sesuai, ketenangan jiwa berhasil menjadi solusi terbaik untuk segala masalah. Buyung tenang saat diperlakukan kasar oleh Ayahnya.

(Kutipan cerpen)
Aku harus berani mengatakan sesuatu. Bahkan, kepada ayahku. Jadi, kukatakan dengan tergagap: “Ayah. Sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan …”

“Diam! Untuk apa, heh? Ayo, pegang palu ini!” Dia menyodorkan palu. “Pukullah besi ini sampai menjadi kepingan tipis. Kerjakan.” Aku mengalah. Palu kupegang. Dan, sesorean keringatku bercucuran. Tanganku bengkak. Aku terus bekerja, takut pada Ayah. Sore hari Ayah menyuruhku berhenti. Ibu menyambutku dengan ramah.

(Penafsiran tulisan di atas)
Lagi-lagi pendapat Buyung tak diindahkan oleh Ayah. Dengan didikan ayahnya tersebut, maka bukan hal yang tidak mungkin kalau Buyung bertindak dan berpikiran dewasa, padahal usianya masih sangat muda. Hal itu disebabkan karena ketakutan yang mendominasi Buyung terhadap Ayahnya.

(Kutipan cerpen)
Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku akan tertidur. Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku.

(Kesimpulan)
Di era saat ini, banyak sekali ilmu parenting yang sering menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Masih berkaitan dengan penggalan cerpen, banyak tahu bahwa sastra meliputi sebagian besar dari kehidupan, mengemas realita sesungguhnya dengan keterkaitan pendidikan serta pengalaman dari sudut pandang orang tua dan anak. Literasi dan cakrawala tidak sebatas buku-buku tebal yang membosankan, sesuai dengan fungsinya sastra hadir sebagai edukasi sekaligus menyenangkan.

Ilmu parenting sering digembar-gemborkan, entah melalui media sosial atau media cetak. Seakan menjadi pesan yang tidak berkesudahan, baik untuk sekarang maupun generasi yang akan datang, yang nantinya akan menduduki posisi sebagai Ayah dan Ibu. Benar, semua orang tua memiliki versinya masing-masing dalam mendidik anak. Namun, perlu diketahui bahwa anak memiliki usia dan perkembangan yang harus sesuai dengan dirinya sendiri. Tidak perlu dipaksakan untuk mencari jati dirinya sejak usia dini, apalagi dengan argumen yang bersifat otoriter. Nantinya, anak akan merasa terbebani dengan apa yang tidak seharusnya ia lakukan.

Lewat cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, banyak perspektif penulis yang dituangkan dalam benak pembaca sehingga menghasilkan karakter yang mengubah pandangan-pandangan yang mengancam gender. Sebut saja, perempuan harus bisa memasak. Padahal, kenyataannya memasak adalah keterampilan dasar tanpa harus memandang gender. Sama halnya kondisi Buyung yang diberlakukan kepadanya bahwa laki-laki harus berhubungan dengan pekerjaan keras. Sebetulnya tidak, dibebaskan kepada laki-laki untuk memilih kenyamanan dalam pekerjaan.

Penulis : Ismah Rahayu