Perbedaan Ciri-ciri Generasi Milenial Perkotaan dan Perdesaan

306

Dalam buku Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase generasi milenial di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah perdesaan.

Ada sekitar 55 persen generasi milenial yang tinggal di daerah perkotaan. Jumlah ini mengikuti pola penduduk Indonesia pada umumnya yang mulai bergeser dari masyarakat perdesaan (rural) ke masyarakat perkotaan (urban).

Perubahan ini berimplikasi pada perubahan budaya, nilai-nilai sosial, perilaku, dan pola pikir. Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat terbuka dan multikultur. Konsekuensi dari bergesernya masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan yaitu nilai-nilai tradisional pelan tapi pasti akan semakin terpinggirkan oleh budaya urban.

Misalnya, masyarakat yang dulunya bersifat komunal menjadi masyarakat yang individualis, masyarakat yang dulunya sederhana menjadi masyarakat konsumtif. Selain itu, masyarakat yang dulunya berpola pikir konservatif menjadi masyarakat yang lebih terbuka dan modern.

Ciri dan karakter generasi milenial perkotaan juga sudah dipengaruhi pola pikir penduduk perkotaan. Berikut ini tiga ciri utama yang dimiliki generasi milenial perkotaan.

Pertama, confidence. Mereka ini adalah orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik.

Kedua, creative. Mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang.

Ketiga, connected. Mereka adalah pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Berbeda dengan generasi milenial perkotaan, bersosial media bukan aktivitas eksistensi bagi generasi milenial di perdesaan, hanya sekedar pengisi waktu luang. Hal ini dimaklumi karena generasi milenial perdesaan tidak terlalu terobsesi dengan ponselnya. Karena alasan ekonomi, merk gadget pun tidak menjadi prioritas.

Dalam menanggapi isu-isu yang terdapat di media sosial juga lebih terlihat pasif tidak seantusias generasi milenial perkotaan. Beberapa generasi milenial disibukkan dengan membantu keluarga mendapatkan penghasilan.

Meskipun dipandang bukan lapangan pekerjaan yang menarik, namun generasi milenial di pedesaan lebih cenderung menyibukkan diri dengan aktivitas ekonomi konvensional yang berbau pertanian. (ZID)