Para Guru dan Murid Harus Paham, Inilah Tujuan Tertinggi Pendidikan Islam

112
Foto: SindoNews

Dalam setiap proses, pada umumnya terdapat tujuan yang hendak dicapai. Begitu pula dalam proses pendidikan, khususnya pendidikan Islam, tentu ada tujuan utama yang dikehendaki oleh semua pihak yang terlibat, termasuk guru dan murid.

Akan tetapi, terkadang ada sebagian dari murid, bahkan sebagian guru yang belum memahami tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri. Maka, penting sekali para guru dan murid untuk memahami apa saja tujuannya.

Dalam konteks ini, Muhammad Anwar dalam buku Filsafat Pendidikan (2017: 119-121) menerangkan tentang tujuan tertinggi bagi Pendidikan Islam, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Athiyah Al-Abrasyi bahwa ada beberapa prinsip tujuan pendidikan Islam yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

1. Membantu pembentukan akhlak yang mulia

Kaum Muslimin telah setuju bahwa pendidikan akhlak dalam jiwa pendidikan Islam dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. Mengisi otak pelajar dengan maklumat-maklumat kering dan mengajar mereka dengan pelajaran-pelajaran yang belum mereka ketahui, bukanlah tujuan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pemikiran Islam.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan yang sesuai dengan pendidikan Islam yaitu keutamaan (Fadlilah). Menurut tujuan tersebut, setiap pelajaran harus merupakan pelajaran akhlak dan setiap pengajar harus memikirkan akhlak keagamaan di atas segala-galanya.

2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat

Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja, atau keduniaan saja. Tetapi, ia menaruh perhatian pada kedua-duanya sekaligus dan memandang persiapan untuk kedua kehidupan itu sebagai tujuan tertinggi dan terakhir bagi pendidikan.

Di antara teks-teks yang dijadikan pegangan oleh para pendidik Muslim untuk menguatkan tujuan ini adalah sabda Rasulullah, yang artinya: ”bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” (al-Hadist)

3. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan

Pendidikan Islam tidak semuanya bersifat agama atau akhlak, atau spiritual semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi kemanfaatan pada tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Para pendidik Muslim memandang kesempurnaan manusia tidak akan tercapai, tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan, atau menaruh perhatian pada segi-segi spiritual, akhlak dan segi-segi kemanfaatan.

4. Menumbuhkan roh ilmiah (Scientiic spirit)

Tujuan ini diperuntukkan kepada pelajar sekaligus memuaskan keinginan untuk mengetahui (curiosity) arti dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekadar sebagai ilmu. Pada waktu para pendidik Muslim menaruh perhatian kepada pendidikan agama dan akhlak, mempersiapkan diri untuk kehidupan dunia dan akhirat, dan mempersiapkan diri untuk mencari rezeki, mereka juga menumpukkan perhatian pada sains, sastra, dan seni.

5. Menyiapkan pelajar dari segi profesional

Secara teknis, ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu, dan, supaya ia mencari rezeki dalam hidup sehingga hidup dengan mulia, di samping memelihara segi kerohanian dan keagamaannya.

Pendidikan Islam, sekali pun menekankan segi kerohanian dan akhlak, tidak lupa menyiapkan seseorang untuk hidup dan mencari rezeki. Begitu juga, ia tidak lupa melatih badan, akal, hati, perasaan, kemauan, tangan, lidah, dan pribadi.

Demikian penjelasan tentang tujuan tertinggi bagi Pendidikan Islam sebagaimana diuraikan oleh Muhammad Anwar dengan mengambil pandangan dari Muhammad Athiyah Al-Abrasyi. (ZID)