Pancasila dan Keikhlasan Sebagai Ruh Perjuangan

290
Pancasila Dan Keihlasan Sebagai Ruh Perjuangan
photo by ANTARA FOTO

Pada tiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Pancasila. Lahirnya Pancasila sendiri berawal dari persidangan para anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) selama tiga hari pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945.

Megutip pidato bung Karno bahwa Pancasila merupakan “Philosofische grondslag” bagi negara ini dimana diatasnya dibangun filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan geudng Indonesia merdeka yang kekal dan abadi.

Sebagai sebuah dasar negara, pancasila memiliki arti yang sangat penting bagi arah kehidupan bangsa ini kedepan. Jika kita ibaratkan Indonesia sebagai naturlijk persoon (manusia), maka pancasila merupakan ruh darinya. Dimana tidak akan gunanya jasad tanpa adanya ruh didalamnya.

Baca juga: Ali Ramdhani: Madrasah Unggulan Pencipta Peradaban Bangsa

Peran Pancasila bagi bangsa Indonesia memiliki korelasi dengan perjuangan dan keikhlasan. Dimana segala perjuangan yang telah ditinggalkan oleh ruhnya berupa keihlasan makan tidak akan berdampak manfaat yang dapat diharapkan daripadanya.

كم ر أينا قوما يعملون. غير أنًنا لم نرأثرا صالحا لعملهم وكثير منهم لم يوفق فيما قصد اليه فظل في شا طئه. أو خاض منه ضحضاحا ولم يستطع أن يصل الي الغمر. فنكص علي عقبيه خسر النصب والذهب.

“Betapa sering kita melihat kaum yang berjuang? Tetapi kita belum melihat kesan baik (manfaat) dari usaha perjuangan mereka, bahkan sebagian besar mereka gagal, tidak dapat mencapai apa yang mereka cita-citakan. Ibarat orang masuk ke laut, dia hanya sampai di tepinya saja. Kalaupun sudah dapah dapat masuk ke airnya, hal itu hanyalah sampai di tempat terdangkal. Dia belum sampai berhasil memasuki dasar lautan tersebut, lalu mundur, kembali dengan hampa, rugi tenaga dan harta”.

Sebab kegagalan kebaanyakan karena keihlasan tidak dijadikan sebagai landasan dalam perjuangan. Mereka berjuang hanya untuk mencari keuntungan semata dan sementara serta terjebak dalam kehormatan yang palsu.

أما من يعمل غير مخلص فانه وانكتم ما يضمره حينا من الدهر لا بد أن ينكشف عواره ويفتضح امره.

“Adapun orang yang berjuang tanpa keihlasan, meskipun dia menyembunyikannya, pasti aib atau celanya akan terbongkar”.

Sehingga orang yang semula membantu dibelakangnya akan meninggalkannya, yang semula mendukungnya akan membiarkannya begitu saja.

Betapa banyak kita jumpai organisasi atau perkumpulan manusia  berdiri, akan tetapi tak lama kemudian berhenti dan tidak nampak lagi aktivitas kegiatannya lagi.

Maka dari itulah dengan berkontemplasi atas hari lahirnya Pancasila, kita berharap tetap menjadi pribadi yang ihlas dalam berjuang, sehingga perjuangan yang kita upayakan tidaklah hampa dan kosong.

Wallahu a’lam Bisshowab.

Penulis: Umam Annahar