NFT, Metavers dan Tren Beli Lahan Virtual Sebagai Aset Digital

659
NFT, Metavers dan Tren Beli Lahan Virtual Sebagai Aset Digital
Photo by olieman.eth on Unsplash

Ketika kita berbicara investasi biasanya tidak jauh dari lahan pada sebidang tanah berwujud di lokasi yang strategis kemudian saham yang jelas wujudnya dan bisa dicairkan saat perlu. Namun, semenjak ada Metavers, kini tren investasi lahan berubah dan tak lagi harus diukur permeter persegi dengan alat meteran manual.

Bahkan, wujud lahannya sendiri tidak ada di dunia nyata, melainkan secara virtual di Metaverse. Selintas memang aneh membeli lahal Vitual di Metaverse melalui platform yang tersedia. Bahkan sebelumnya kita tidak pernah menduga bahwa akan ada jual beli lahan dalam dunia virtual.

Akan tetapi, fenomena pembelian lahan di Metaverse ini sudah banyak digandrungi masyarakat dunia. Mengutip The Conversation, lahan virtual dianggap telah menjadi salah satu aset digital unik NFT (non fungible token) di Metaverse atau dunia digital.

Apa itu NFT?

Secara sederhana, NFT merupakan sertifikat kepemilikan daring yang bisa diperjualbelikan, berbasiskan unit data yang disimpan pada buku besar digital (ledger) yang tergolong ke dalam teknologi blockchain.

NFT diciptakan sebagai representasi aset digital atau non-digital. Contohnya, karya-karya seni digital (gambar/foto/lukisan, animasi, koleksi unik, musik, video/animasi), pengganti dokumen-dokumen fisik (buku manual, tiket, invoices, dokumen penting, dan tanda tangan digital), dan karya kreatif lainnya.

Baca juga: Realita Sandwich Generation, Pekerjaan Bukan Satu-satunya Identitasmu

Karya seni yang orisinal (dalam hal ini masih dalam bentuk fisik) bisa diolah menjadi digital terlebih dahulu (dengan perangkat yang tidak mengurangi kualitas tentunya), kemudian dipasarkan dalam bentuk digital. Tidak tertutup kemungkinan para kolektor akan memburu karya aslinya (dalam bentuk fisik).

Teknologi blockchain yang mendasari NFT membuatnya memiliki kemampuan untuk mengesahkan aset digital menjadi kode unik yang tidak dapat digandakan, sehingga menjaga hak kepemilikan menjadi tetap aman.

Akses ke salinan file hasil NFT tidak terbatas pada pembeli NFT saja. Dengan kata lain siapapun, tidak terbatas pada pembeli, bisa mengaksesnya. Jika pembeli sudah merasa yakin dengan “bidikannya” maka proses selanjutnya akan melalui mekanisme transaksi NFT.

NFT dapat dilacak di blockchain untuk memberikan bukti kepemilikan yang terpisah dari hak cipta kepada pemiliknya. Setelah dijual, orang yang memiliki karya juga masih bisa mengklaim hasil karyanya sebagai hak cipta serta dapat menjual salinan karyanya sebagai bagian dari royalti. Jadi Penjual bisa menjual karyanya dengan teteap memiliki banyak salinan dari karyanya  dengan memiliki kode unik tersendiri.

NFT dapat didesain sesuai kebutuhan tertentu, terutama yang memerlukan kode unik dan jika jenis yang ditawarkan beragam. Misal tiket konser (VVIP, VIP, Festival). Setiap tiket akan memiliki kode unik dan hanya dimiliki oleh satu orang.

Kenapa NFT bisa dijual dan digunakan

NFT sendiri bisa diaplikasikan ke dalam data apapun selama memiliki keunikan dan memerlukan kepemilikan secara khusus.

Seseorang bisa mengunggah karya seni mereka secara daring dan membuat NFTnya di situs-situs penjualan atau marketplace seperti contohnya OpenSea dan Binance. Setelah menjual hasil karyanya sebagai NFT, orang yang memiliki karya tersebut masih bisa mengklaim hasil karyanya sebagai hak cipta serta dapat menjual karyanya sebagai bagian dari royalti.

Pada platform seperti OpenSea, lahan dan real estate virtual bahkan sudah diperdagangkan sebagai NFT. Lahan Vitual tersebut tersedia sangat terbatas, hanya puluhan ribu bidang tanah saja di satu platform.

Pemilik NFT juga bisa mengatur persentase royalti yang diharapkan di “smart contract”. Beberapa platform, seperti Metagrail dan Decentraland sudah memanfaatkan fitur ini sehingga pembagiannya sangat akurat dan up to date.

Misalnya di Decentraland yang hanya menyediakan 90 ribu bidang tanah yang masing-masing berukuran 15×15 meter. Melihat terbatasnya jumlah lahan, banyak perusahaan maupun perorangan yang berinvestasi pada lahan virtual.

Nilai pendapatan dari royalti tentu akan lebih rendah, namun sistem ini menarik karena bersifat jangka panjang dan berkelanjutan.

Bahkan, hasil karya digital dalam bentuk NFT dapat dijadikan jaminan untuk mengajukan pinjaman/kredit pada jasa keuangan yang menyediakan pinjaman/kredit, selama karya tersebut sudah dipasarkan di marketplace.

Anggota komunitas yang telah memanfaatkan NFT dapat bergabung di POAP (Proof of Attendance Protocol) yang disediakan untuk “meet up” atau kopi darat para pemilik/kontributor NFT untuk turut serta dalam sebuah event yang akan diselenggarakan. Fitur ini juga disediakan agar para kolektor lebih cepat menemukan koleksi yang mereka buru.

Pasar NFT mengatur transaksi jual-beli secara otomatis (autonomous). Sesudah melakukan transaksi, pemilik tinggal memeriksa “saldo” NFT dalam bentuk token, pada dompet digital masing-masing.

Saldo yang berbentuk token (NFT) berbasis Ethereum ini kemudian bisa dijual atau ditukar dengan uang. Saat ini satu token Ethereum atau sering disebut Ether memiliki harga hampir Rp 50 juta per kepingnya.

Sebut saja Republic Realm, yang disebut telah menghabiskan lebih dari Rp12 miliar untuk membeli NFT yang mewakili sebidang lahan di Decentraland. Dikatakan pula bahwa pembelian yang dilakukan Republic Realm merupakan pembelian lahan termahal dalam sejarah Decentraland.

Menariknya lagi, pembelian dilakukan sebelum Metavers booming seperti sekarang, yaitu pada Juni 2021. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena beli lahan di Metaverse bisa menjadi investasi yang menjanjikan.

Hanya saja, belum bisa dipastikan apakah ledakan pembelian akhir-akhir ini akan semakin meningkat di masa depan atau tidak. Sebab, banyak hal bisa terjadi dan mengalami perubahan di era digital seperti sekarang.

Di samping untuk investasi virtual, mungkin masih banyak yang bertanya-tanya tentang apa kegunaan lahan di Metaverse. Untuk apa investor atau pembeli membeli lahan virtual dan apa yang mereka lakukan terhadap sebidang tanah tersebut?

The Conversation menyebut, para pembeli mengaku akan menggunakan lahan mereka untuk acara festival mode secara digital. Lahan virtual itu juga dapat dimanfaatkan untuk pameran, hingga menjual pakaian, avatar, atau objek lain di Metaverse.

Meskipun tidak menyediakan sesuatu berbentuk fisik, ada persamaan antara lahan virtual dengan yang ada di dunia nyata. Yaitu, pembeli selalu mempertimbangkan lokasi lahan yang akan dibeli sampai wujud bangunannya, jika ada. Bahkan meski masih lahan kosong, pemilih tanah virtual bisa membangun rumah digital mereka sendiri dan mengundang pengunjung datang ke sana.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)