Menulis Itu Memang Rumit

184
Menulis Itu Memang Rumit
Photo by Christin Hume on Unsplash

Karena menganggur saya menulis. Itu pun hanya sedikit tulisan yang saya dapat. Kalau dihitung dari awal saya menulis di blog di awal saya kuliah. Tulisan saya -yang benar-benar bisa disebut tulisan- mungkin tidak setebal tetralogi Pulau Buru-nya Pramodya Ananta Toer. Tipis-tipis saja, paling dua bukunya Etgar Keret, yang cerpennya pendek-pendek itu, atau setengah dari novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan.

Saya tidak tahu sebabnya, tapi mungkin saya kesulitan merangkai ide-ide untuk menjadi tulisan, menebak-nebak anti tesis gagasannya, memilah-milah diksinya lalu gaya penyampaian yang sering membuat saya bosan sendiri. Makanya butuh waktu lama.

Menemukan Karakter dalam Tulisan

Belum lagi kalau setelah dibaca ulang kok tidak ada punchline-nya, kurang greget. Meski setelah saya pikir, tulisan saya mirip banget dengan kepribadian saya, kurang greget. Selain rumit, menulis juga masalah stamina. Saya sungguh kagum dengan cerpenis macam Agus Noor yang dari tahun 90-an hingga saat ini masih aktif menghasilkan kumpulan cerpen.

Padahal ide untuk cerpen tak semudah esai, belum lagi masalah alur cerita, konflik, dan gaya penulisannya. Yang paling penting kekuatan untuk duduk dan mengedit hingga satu cerpen selesai agar spontanitasnya tidak lenyap. Biar selalu segar!

Makanya menulis itu susah, menumis itu gampang mirip seperti judul bukunya Mahfud Ikhwan. Padahal menghasilkan tulisan atau karya-karya seni lain menuntut kuantitas –  saya masih meyakini teori 10.000 jam. Itu pun belum tentu meningkatkan kualitas jika tidak disertai riset dan eksperimen.

Dan itu pun juga masih belum bisa menghasilkan penghargaan memenangi kompetisi menulis. Penghargaan itu menurut saya tidak cuma hasil dari strategi yang matang, tapi juga begjan, beruntung, luck. Kok, ya pas dengan selera juri.

Baca juga: Menulis dan Budaya Literasi Sekitar Kita

Energi dalam Berkarya

Susah didapat, tapi sebagai penulis pemula atau yang karyanya baru sedikit penghargaan itu penting, berperan sebagai gimik agar tetap memiliki energi dalam berkarya.

Sudah rumit, menuntut kuantitas, belum tentu mendapat penghargaan pula, produktivitas pun menurun sehingga saya sempat ragu setelah pandemi Covid berakhir bisa menghasilkan satu buku. Entah itu kumpulan cerpen, esai, memoar, atau curhat colongan seperti yang sedang saya tulis ini.

Susahnya menulis, membuat saya memahami banyak proyek-proyek lain di luar tulis menulis yang saya buat bersama teman akhirnya mangkrak. Saya sempat membuat komik setrip di instagram, saya menyumbang ide cerita, teman saya Jojo sebagai ilustratornya.

Memulai Berkarya

Rencananya seminggu ada dua konten komik setrip di Instagram, sehingga total dalam satu tahun ada 96 konten yang harus dibuat. Namun lantaran sibuk dan tidak tahan dengan kuantitas komik setrip yang harus dihasilkan. Setelah posting 6 komik strip, kami pun menyerah.

Padahal apapun karya yang dihasilkan, jika istikamah dibuat, minimal bisa digunakan untuk portofolio. Sangat berguna bagi pengangguran seperti saya ketika ada wawancara pekerjaan. Namun lagi-lagi penyesalan datang belakangan.

Usia 29 tahun tapi karya masih sedikit. Memang benar apa kata pak Charles Bukowski “Dont try!”. Nah terus gimana dong pak, sudah terlanjur “try” to be a writer.

Penulis: Affix Mareta
(Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)