Mengenal 4 Gejala Kognitif dalam Proses Mental Manusia

79
Ilustrasi: Pixbay

Proses mental dapat dipahami sebagai kondisi / gejala yang terjadi dalam diri individu yang menjadi motor penggerak perilaku manusia. Mental adalah kemampuan individu dalam menerima, mengelola, dan merespons informasi.

Adnan Achiruddin Saleh (2018: 66) dalam buku Pengantar Psikologi yang disusunnya menyebut, proses mental dalam dilihat berdasar pada gejala kognitif, gejala emosi dan gejala konasi. Adapun gejala kognitifnya terdiri dari ingatan, persepsi, intelegensi, dan belajar. Berikut penjelasan singkat gejala kognitif dalam proses mental manusia.

1. Ingatan

Ingatan merupakan kemampuan psikis untuk memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang lampau. Istilah lain yang juga sering digunakan untuk memasukkan (encoding), menyimpan (storage) dan untuk menimbulkan kembali (retreyeval).

Apabila seorang mengadakan persepsi atau pengalaman, maka apa yang dipersepsi itu atau yang dialami itu tidak hilang sama sekali, tetapi dapat disimpan dalam ingatan dan apabila diperlukan pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran. Sesuai dengan apa yang dijelaskan di depan apabila seseorang memasukkan sesuatu dalam ingatannya, adanya tahapan atau stage tertentu dalam seseorang mengingatkan hal tersebut.

2. Persepsi

Adnan Achiruddin Saleh (2018: 79) menerangkan, persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.

Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Proses penginderaan akan berlangsung setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat indera, yaitu melalui mata sebagai alat penglihatan, telinga sebagai alat pendengar, hidung sebagai alat pembauan, lidah sebagai alat pengecapan, kulit pada telapak tangan sebagai alat perabaan, yang kesemuanya merupakan alat indera yang digunakan untuk menerima stimulus dari luar individu.

3. Intelegensi

Selanjutnya, menurut Adnan Achiruddin Saleh (2018: 85), istilah intelegensi berasal dari bahasa latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Menurut panitia istilah Padagogik (1953) yang mengangkat pendapat stren yang dimaksud dengan intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berfikir menurut tujuannya.

Stren sendiri menitikberatkan masalah intelegensi pada soal adjustment atau penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Pada orang yang intelijen akan lebih cepat dalam memecahkan masalah baru apabila dibandingkan dengan orang yang kurang intelijen.

Seperti yang dikemukakan oleh Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa faktor, dan faktor itu terdiri dari elemen-elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap-tiap atom merupakan hubungan stimulasi-respons. Jadi suatu aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.

Telah dipaparkan bahwa masing-masing individu berbeda-beda dalam segi intelegensinya. Karena berbeda dalam segi intelegensinya, maka individu satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya dalam memecahkan sesuatu masalah yang dihadapinya.

4. Belajar

Gejala kognitif terakhir, Adnan Achiruddin Saleh (2018: 93) menjelaskan bahwa belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sehari-hari karena telah sangat dikenal mengenai pelajaran ini, seakan akan orang telah mengetahui dengan sendirinya apakah yang dimaksud dengan belajar itu.

Akan tetapi, kalau ditanyakan kepada diri sendiri, maka akan termenunglah untuk mencari jawaban apakah sebenarnya yang dimaksud dengan belajar itu. Kemungkinan besar jawaban atas pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban yang bermacam macam.

Demikian pula di kalangan para ahli. Esensi yang dianggap oleh masing masing ahli mungkin dapat sama. Tetapi dalam memberikan informasi batasannya sukar untuk mencapai kesamaan yang mutlak.

Cukup banyak definisi mengenai belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli. Untuk memberikan gambaran mengenai hal tersebut dapat dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli sebagai berikut. Skinner (lih. Walgito, 2017) memberikan definisi belajar “learning is a proces of progressive behavior adaptation”.

Dari definisi tesebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresivitas, adanya tendensi ke arah yang lebih sempurna atau lebih baik dari keadaan sebelumnya. (MZN)