Memahami dan Menghadapi Quarter Life Crisis

423
Quarter Life Crisis
Photo by Aditya Saxena on Unsplash

Status dewasa yang ambigu, perasaan talut tertinggal (fomo), mulai aktif membandingkan diri dengan orang lain, galau dalam mengambil keputusan tapi harus, kembali mencari jati diri (mau saya apa sih?), apalagi motivasi naik turun dan cenderung tidak beralasan dengan jelas.

Lah, gimana tuh? Mungkin kamu sedang mengalami yang namanya Quarter Life Crisis atau krisis seperempat abad atau dimaknai masa sulit para milenial kini. Istilah ini cukup populer dan kerap dilontarkan saat kehidupan tak berjalan semestinya.

What is quarter life crisis? Milenial wajar mengalami quarter life crisis? Sebuah survei yang dilakukan LinkedIn krisis ini lumrah dialami oleh setidaknya 70 persen pada mereka yang memasuki dewasa awal.

Krisis saat menuju usia dewasa adalah hal yang wajar dialami teman-teman remaja rentang usia 18-30 tahun. Hampir setiap orang akan merasakan fase ini.

Psikolog dari UGM, Azri dalam diskusi Quarter Life Crisis: Leading to Anxiety or Depression mengatakan kegelisahan menimpa milenial pada aspek hidup. Di antaranya berupa kebutuhan finansial, perjalanan karir juga masalah percintaan.

Apakah nyali kita terlalu takut dihadapkan oleh realita hayat yang tidak sesuai seperti yang diharapkan?

Menyadari bahwa kita sedang mengalaminya merupakan salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri luar-dalam melewati dan juga menikmatinya. Namun, tentu saja kemampuan seseorang dalam menghadapinya berbeda-beda dan itu menjadi hal yang wajar pula.

Baca juga: Pendidikan Karakter Bekal Hadapi Quarter Life Crisis

Menghadapi Quarter Life Crisis

Lalu apa dampak jika seseorang mengalami quarter life crisis? Orang tersebut akan mengalami kekhawatiran berlebih, depresi, bahkan frutasi karena merasa terjebak dalam ketakutan akan masa depan.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya? Berikut penjelasan yang dilansir dari berbagai sumber.

Pertama. Menerima kondisi diri
Hal pertama dan utama saat kamu berada di fase ini cobalah untuk menerima apa adanya dirimu. Kondisi tak mampu menerima diri sendiri terjadi akibat selalu membandingkan diri dengan orang lain nih. Stop membandingkan dirimu dengan orang lain ya bestiee toh, hidup katanya sawang sinawang.

Kedua, Buatlah prioritas hidup
Setelah kamu bisa menerima kondisimu dengan apa adanya kini saatnya membuat daftar priorotas hidup, yah. Ini penting agar kamu mengetahui mana yang harus menjadi fokus utamamu.

Ketiga, Kembangkan kemampuan diri
Untuk mendapat output yang maksimal harus memberikan input yang luar biasa terlebih dahulu bukan? Ini menjadi bukti, bekal, kepercayaan diri bahwa kamu siap untuk menghadapi masa depanmu.

Keempat, Belajar lebih realistis
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia itu punya kelemahan dan kekurangan, nih. Syukur kalau hal itubbisa kamu perbaiki atau punya solusinya. Lantas kalau tak bisa diperbaiki? Tak apa bestiee. Kalau kapasitasmu tak mampu untuk mengakses suatu hal sedangkan kamu sudah berusaha maksimal maka lepaskanlah.

Kelima, Temukan lingkungan yang Suportif
Sebagai mahluk sosial benar adanya kalau kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain, meski hanya sekadar semangat hidup tanpa membantu secara langsung, ya. Tapi berhati-hatilah jangan sampai kamu terjebak pada lingkungan yang toxic.

Penulis: Suci Amaliyah