Memahami Aspek-Aspek Perkembangan Manusia Secara Psikologis

955

Sebagai makhluk hidup, setiap manusia mengalami proses perkembangan yang dapat dipahami menurut ilmu pengetahuan, di antaranya melalui psikologi. Perkembangan manusia secara psikologis akan memperhatikan dimensi kejiwaan maupun fungsi struktur tubuhnya.

Menurut Fadhilah Suralaga dalam buku Psikologi Pendidikan: Implikasi dalam Pembelajaran (2021: 20-22), perkembangan manusia dapat dibedakan dalam beberapa aspek yang berbeda. Perkembangan fisik (motor development), berkaitan dengan proses perubahan struktur tubuh manusia dan fungsinya dan berhubungan dengan pemerolehan aneka ragam keterampilan fisik.

Perkembangan kognitif (cognitive development) berkaitan dengan proses perubahan cara berpikir. Berbagai perubahan selama perkembangan mengarah pada pertumbuhan dan maturation (kedewasaan).

Perkembangan personal (personal development), adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menunjuk proses perubahan kepribadian individu. Sedangkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya baik sebagai individu maupun sebagai kelompok disebut dengan perkembangan sosial dan moral (social and moral development).

Dalam perspektif psikologi Islami, manusia memiliki empat dimensi, yaitu dimensi fisik-biologis, dimensi mental-psikis, dimensi sosiokultural, dan dimensi spiritual. Dimensi fisik-biologis merupakan dimensi yang paling mudah untuk diketahui, karena dapat dilihat secara langsung dengan indra mata manusia.

Fadhilah Suralaga juga menjelaskan, dalam psikologi Islami, fisik manusia dibentuk dengan konstruksi yang sebaik-baiknya oleh Tuhan agar mau bersyukur, sebagaimana tersurat dalam QS Al-Tin: 4.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Dimensi mental-psikis mencakup roh, akal dan nafsu. Kehidupan manusia sangat bergantung pada keberadaan roh, sebab manakala roh meninggalkan manusia (raga atau fisik) maka berakhirlah kehidupan manusia tersebut. Meski demikian, pemahaman terhadap akal bukanlah otak melainkan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia.

Dengan kata lain, akal yang dimaksud di sini merupakan ikatan dari tiga unsur yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Sedangkan nafsu (syahwat) adalah dorongan dan gejolak yang ada dalam diri manusia. Dimensi sosiokultural merupakan dimensi yang berkaitan erat dengan lingkungan dan alam sekitarnya.

Kehidupan manusia di dunia adalah sebagai khalifah Allah di bumi. Dengan demikian, dimensi ini merupakan keniscayaan dalam diri manusia. Sementara dimensi spiritual ditandai dengan konsep fitrah yang secara inheren telah mengakui Allah sebagai Tuhannya. Berbagai dimensi yang ada pada diri anak tersebut adalah potensi dasar yang harus dikembangkan secara tepat, sehingga mengantarkan dirinya pada kepribadian yang sempurna.

Harus dipahami dengan sungguh-sungguh bahwa ketiga aspek perkembangan itu merupakan satu kesatuan yang utuh (terpadu), tidak terpisahkan satu sama lain. Setiap aspek perkembangan memengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya. Sebagai contoh perkembangan fisik seorang anak seperti duduk, merangkak, dan berjalan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif anak yaitu dalam memahami lingkungan sekitar di mana ia berada.

Fadhilah Suralaga mencontohkan, ketika seorang anak mencapai tingkat perkembangan tertentu dalam berpikir (kognitif) dan lebih terampil dalam bertindak, maka akan mendapat respons dan stimulasi lebih banyak dari orang dewasa, seperti dalam melakukan permainan, percakapan dan berkomunikasi sehingga anak dapat mencapai keterampilan baru (aspek sosial-emosional).

Hal seperti ini akan memperkaya pengalaman dan pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya semua aspek perkembangan secara menyeluruh. Dengan kata lain, perkembangan itu tidak terjadi secara sendiri-sendiri. (MZN)