Media Sosial dan Rapuhnya Kebahagiaan

412
Media Sosial dan Kebahagiaan
Photo by cottonbro from Pexels

Pernahkah kamu merasakan bahagia setelah mendapatkan reaksi suka dan komentar yang positif dari platform media sosial? Atau bahkan pernah merasa biasa saja karena menonton tayangan video YouTube yang lucu?

Dan bagaimana reaksimu saat Whatsapp, Instagram, dan Facebook down beberapa waktu lalu? Reaksi yang dihadirkan warganet begitu beragam dan cenderung kacau, hal ini terlihat di media sosial Twitter, saluran emosi pilihan bagi mayoritas pengguna media sosial.

Manusia sebagai Objek Media Sosial

Fenomena seluruh pengguna media sosial yang ‘hijrah’ ke Twitter saat media sosial lainnya down juga menjadi ilustrasi dengan apa yang terjadi pada pengguna media sosial secara global.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa media sosial didesain untuk memelihara candu, memanipulasi pandangan pengguna pada setiap aktifitas yang dilakukan.

Selain itu juga mempengaruhi emosi serta perilaku, dan menyebarkan teori konspirasi dan disinformasi, untuk memaksimalkan keuntungan satu pihak.

Sehingga muncullah dampak negatif dari media sosial seperti seseorang yang mengunggah sebuah foto di media sosial untuk mendapatkan validasi, normalisasi depression, anxiety, dan gangguan mental health lainnya.

Hal ini menunjukkan bagaimana media sosial mampu mengontrol hidup manusia, tanpa sadar mereka dijadikan objek, bukan malah berperan sebagai subjek atau pengguna.

Senada disampaikan oleh Tristan Haris di cuplikan dokumenter film The Social Dilemma, seorang ahli etika desain Google, “If you are not paying for the product, then you are the product.” 

Selama ini, kita menggunakan media sosial secara gratis. Lalu, hidup kita berubah sampai ketergantungan kepada media sosial yang kita pakai, tanpa disadari kita dijadikan sandera sebagai produk dari teknologi tersebut.

Kaget mendengar realita diatas? Namun memang seperti itu fakta yang mungkin sudah kita ketahui, tetapi memilih untuk menutup mata sampai hari ini.

Melihat Mereka Bekerja

Di kehidupan yang terhubung serba terhubung dengan internet, sekarang manusia justru lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Media sosial membentuk sistem yang mempengaruhi psikologi manusia.

Konten-konten yang dikonsumsi oleh pengguna mampu menciptakan dopamine, hormon kebahagiaan yang kuat.

Melalui tontonan video, scrolling dan refresh beranda linimasa media sosial, menunggu, dan menerka-nerka feeds apa yang muncul di halaman selanjutnya membuat kita terfokus pada gawai saat itu, bergantung pada media sosial, dan mengakses media sosial tanpa henti. Namun, hal tersebut ternyata termasuk ke dalam kategori kebahagiaan semu.

Ketika manusia bahagia, tubuh akan menghasilkan hormon dopamin. Bersama dengan endorphin, serotonin, dan oksitosi, hormon ini lah yang mengatur rasa bahagia dan sedih pada diri manusia. Dengan itu, hormon dopamin dijuluki sebagai “happy hormones” atau hormon kebahagiaan.

Puncaknya, saat seseorang merasa gembira, otak manusia akan dibanjiri dengan dopamin, tidak peduli kebahagiaan itu didapatkan dari hal yang mudah atau sulit.

Namun, kebahagiaan juga dapat muncul ketika ia mendapatkan likes di akun Instagram, bermain game semalaman, atau menonton video lucu di YouTube.

Dopamine dan Algoritma

Hormon dopamine akan datang ketika manusia rajin berolahraga, tetapi dia juga akan datang ketika menonton video gerakan unik serupa tarian di TikTok terus menerus.

Hal-hal itulah yang disebut sebagai kebahagiaan semu, ketika manusia merasa ‘puas’ dan merasa bahagia, padahal sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat, apalagi berharga.

Kebahagiaan semu merupakan sebuah perasaan senang yang didapatkan secara instan. Tidak seperti bahagia pada umumnya yang menimbulkan rasa ‘puas’ karena berhasil mencapai suatu hal, kebahagiaan semu merupakan perasaan yang manusia pikir ‘puas’ tetapi sebenarnya tidak nyata.

Contoh lain ketika seseorang ingin menandai sebuah foto ataupun video kepada rekan di media sosial, atau juga ketika membalas direct message dan muncul fitur typing yang menandakan seseorang di sana tengah mengetik.

Kedua hal tersebut membuat pengguna media sosial rela menunggu sembari menatap layar gawainya, ataupun langsung klik masuk ke fitur-fitur tersebut dengan rasa tidak sabar.

Kebiasaan yang dilakukan di media sosial, membuat sistem dapat membaca seperti apa ‘dirimu’ dan mereka mengetahui apa yang senang atau sering diakses oleh penggunanya. Hal tersebut yang kemudian disebut algoritma media sosial.

Algoritma inilah yang terkadang membuat cerminan diri kita tenggelam semakin dalam pada media sosial yang tiada hentinya.

Menjadi Bahagia, Apakah Salah?

Sebenarnya, merasa bahagia itu baik-baik saja, tetapi bisa berbahaya jika kebiasaan mendapatkan kebahagiaan semu itu menjadi adiktif. Orang yang dekat dengan gadget bisa menjadi kecanduan, kesepian dan bosan, bahkan tanpa gadget, hanya dalam 10 menit.

Bahaya ketergantungan ini dapat menyebabkan seseorang menghabiskan waktunya untuk hal yang kurang tepat, merusak fungsi otak, menjadi pemalas karena suka menunda-nunda, cepat bosan karena tidak dapat menikmati setiap momen berharga.

Adiksi tersebut juga mengakibatkan individu sulit bersyukur karena seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain, sibuk padahal tidak penting, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak lagi memahami proses kebahagiaan.

Kebahagiaan semu memang mudah dan cepat diperoleh, tetapi akan lebih cepat hilang. Rasa ‘puas’ dan bangga atas pencapaian yang telah diraih tidak akan bisa didapatkan dari kebahagiaan semu, dari menenggelamkan seluruh hidup ke dalam dunia gawai dan internet.

Sayangnya, hidup tidak seindah foto liburan teman di media sosial, tidak cukup cepat untuk naik level saat bermain game, tidak semenyenangkan video lelucon, tidak semulus kisah sukses selebriti dan sesederhana alur cerita drama Korea.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebahagiaan yang didapatkan di ujung jari saat membuka smartphone atau internet tidak sama dengan kebahagiaan imbas pencapaian baru dalam hidup.

Kebahagiaan untuk hal-hal sesaat tak ubahnya kamuflase belaka dan pada akhirnya tidak berarti. Padahal, menjadi bahagia membutuhkan pembelajaran, proses, usaha, dan waktu agar dirimu tidak mudah menyerah atau tertekan karena kegagalan.

Baca juga: Menjaga Hakikat Kebahagiaan Pasca Menikah

How Should We Act?

Kehadiran media sosial sangat membantu kita melakukan koneksi dengan teman-teman di seluruh dunia bahkan memenuhi kebutuhan informasi kita yang tidak terbatas. Namun sayangnya, penyalahgunaan media sosial berdampak pada kesehatan mental dan fisik.

Kita membutuhkan kampanye untuk memecahkan masalah ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencapai keseimbangan antara kenyataan dan imajinasi dalam kehidupan sehari hari.

Dopamin Detox adalah kegiatan untuk rehat sejenak dari segala aktivitas media sosial, internet dan penggunaan smartphone yang berlebihan. Rasakanlah bosan sejenak, ulang kembali fungsi otak.

Percayalah bahwa ketika seseorang sedang benar-benar bosan, apa yang sebelumnya dianggap menjengkelkan dan membosankan tidak lagi membosankan. Sebaliknya, bisa menyenangkan. Seperti membaca buku atau menulis diary.

Ketika merasa bosan, diri harus memikirkan kembali apa yang harus dilakukan dan akhirnya memulai hal yang benar-benar penting dikerjakan.

Mari berhenti menjadikan media sosial sebagai eskapisme. Kita dapat berubah hanya dengan mengubah kebiasaan. Mulai sekarang ubah kebiasaan bermain media sosial dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti berolahraga, membaca buku, dan masih banyak lagi.

Selain itu, ubah keinginan kita untuk selalu ingin tahu, ingin terus update, dan fear of missing out atau FOMO. Dan yang terakhir, ubah cara pandang kita yang beranggapan bahwa hidup akan mudah dan seindah postingan orang lain di media sosial. Jangan sampai kita terjebak pada kebahagiaan yang semu!

Bagian terpentingnya adalah dirimu akan punya banyak waktu untuk membuat berbagai target hidup, mimpi dan angan angan, hingga rencana hidup di masa depan. Tidak hanya berhenti sampai membuat, waktu juga akan tersedia untuk berlari, mengejarnya, dan akhirnya mencapainya. Karena angan tanpa ingin akan menjadi angin!

Diramu dari berbagai sumber.
Wachid Ervanto